
Isu kelangkaan pangan global kini sedang menjadi perhatian banyak negara. Di dalam kondisi tersebut Indonesia justru menargetkan swasembada pangan sebagai fondasi menuju lumbung pangan dunia tahun 2045. Target tersebut tentu tidak mudah dicapai karena tantangannya semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, konflik geopolitik, hingga berkurangnya lahan pertanian. Untuk itu program swasembada pangan kembali menjadi prioritas strategis pemerintah.
Buku “Strategi Pencapaian Swasembada Pangan Nasional” terbitan Pertanian Press ini hadir menjelaskan arah kebijakan sekaligus strategi yang disiapkan pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Pembahasan dalam buku ini terbagi dalam beberapa bagian, bab pertama menjelaskan urgensi dan arah kebijakan swasembada pangan dengan kondisi serta berbagai tantangan yang dihadapi pertanian Indonesia.
Buku ini tidak hanya memaparkan pentingnya swasembada pangan sebagai agenda pembangunan nasional, tetapi juga menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi sektor pertanian Indonesia. Penulis mengaitkan strategi pembangunan pertanian dengan dinamika global, Asta Cita Presiden, serta RPJMN 2025–2029, sehingga pembaca memperoleh gambaran mengenai landasan kebijakan yang melatarbelakangi program swasembada pangan.
Bab ketiga merupakan inti buku karena menguraikan strategi pencapaiannya. Di sini dijelaskan pentingnya penyempurnaan regulasi dan penyesuaian anggaran agar lebih berpihak pada peningkatan produksi hingga modernisasi pertanian. Strategi yang dilakukan meliputi perluasan areal tanam, peningkatan produktivitas melalui perbaikan irigasi, penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, pemanfaatan teknologi, pengembangan petani muda, hingga penguatan kelembagaan petani agar lebih mandiri dan berdaya saing. Ditekankan bahwa peningkatan produksi untuk mendukung swasembada pangan membutuhkan perubahan sistem pertanian secara menyeluruh.
Selanjutnya, bab keempat membahas langkah percepatan menuju swasembada pangan. Upaya tersebut dilakukan melalui kebijakan harga yang melindungi petani, penguatan pendampingan di lapangan, serta kolaborasi dengan kementerian, pemerintah daerah, perguruan tinggi, TNI, hingga pelaku usaha.
Pada bab kelima dijelaskan bahwa swasembada pangan harus dijaga secara berkelanjutan. Konsistensi kebijakan, inovasi teknologi, pembangunan infrastruktur, regenerasi petani, dan kerja sama lintas sektor menjadi faktor penting agar peningkatan produksi tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu menopang kebutuhan pangan dalam jangka panjang.
Pada bab terakhir menegaskan bahwa seluruh elemen masyarakat untuk memandang pertanian sebagai sektor strategis yang menentukan masa depan bangsa dan mendukung terwujudnya Indonesia sebagai lumbung pangan dunia.
Buku ini disusun sistematis sehingga tersaji gambaran yang utuh mengenai arah kebijakan dan strategi pemerintah dalam mencapai swasembada pangan nasional. Penyampaiannya didukung data, ilustrasi, serta contoh pelaksanaan program sehingga mudah dipahami.
Pembahasan buku lebih banyak menyoroti strategi dan capaian pemerintah sehingga ulasan mengenai berbagai kendala di tingkat petani, seperti keterbatasan akses teknologi, permodalan, maupun tantangan sosial ekonomi, belum dibahas mendalam. Namun demikian buku ini tetap menjadi referensi berharga bagi penyuluh, mahasiswa, akademisi, maupun masyarakat yang ingin memahami arah pembangunan pertanian Indonesia serta strategi menuju swasembada pangan yang berkelanjutan. (DA’26)
