
Judul : Membangkitkan Empat Juta Hektar Lahan Sawah Tadah Hujan: Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan
Penulis : Amran Sulaiman, dkk.
Penerbit : IAARD Press
Tahun Terbit : 2018
Jumlah Halaman : 176 p.
Link Akses : https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/28950
Upaya peningkatan produksi pangan berkelanjutan menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Namun, target tersebut dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti perubahan iklim, terbatasnya lahan pertanian, kebutuhan akan inovasi teknologi, serta terus meningkatnya kebutuhan pangan seiring dengan bertambahan jumlah penduduk. Untuk itu pemerintah terus berupaya untuk menaikkan indeks pertanaman bahkan hingga 3,0 pada lahan sawah tadah hujan yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Potensi inilah yang akan dibahas dalam buku “Membangkitkan Empat Juta Hektar Lahan Sawah Tadah Hujan: Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan”
Buku ini membahas peran strategis lahan sawah tadah hujan dalam mendukung swasembada pangan berkelanjutan. Pembahasan buku antara lain menguraikan kondisi aktual produksi pangan nasional, tantangan yang dihadapi sektor pertanian, potensi lahan sawah tadah hujan, hingga strategi pengembangan melalui dukungan infrastruktur sumber daya air, inovasi teknologi, dan kebijakan pemerintah.
Pada bagian awal dijelaskan pentingnya swasembada pangan bagi stabilitas sosial, ekonomi, dan politik nasional. Produksi pangan yang melimpah dan harga yang terjangkau dipandang sebagai hasil kerja keras pertanian, dukungan teknologi pertanian, serta berbagai kebijakan pemerintah. Sedang meningkatnya jumlah penduduk menuntut peningkatan produksi pangan yang lebih besar di masa mendatang.
Selanjutnya, buku menguraikan perkembangan produksi pangan nasional dan tantangan yang menyertainya. Pertumbuhan penduduk, penyusutan lahan pertanian, menurunnya daya saing usaha tani, serta kebutuhan penerapan teknologi modern menjadi perhatian utama. Penulis menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan memerlukan inovasi dan pengelolaan sumber daya yang lebih efisien.
Karakteristik dan peluang pemanfaatan lahan sawah tadah hujan khusus dibahas pada bab berikutnya. Di sini dijelaskan bahwa lahan ini sangat tergantung pada curah hujan sehingga rentan terhadap kekeringan maupun banjir. Meskipun demikian, luasnya yang mencapai jutaan hektar menjadikan lahan sawah tadah hujan sebagai aset strategis untuk meningkatkan luas tanam dan produksi pangan.
Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menghubungkan potensi biofisik lahan sawah tadah hujan dengan kebutuhan pembangunan infrastruktur air sebagai prasyarat peningkatan indeks pertanaman. Pembahasan difokuskan pada ketersediaan sumber daya air, peluang peningkatan indeks pertanaman, serta pentingnya pembangunan infrastruktur pendukung seperti embung, dam parit, dan bangunan penampung air lainnya.
Bagian akhir buku ini menguraikan arah kebijakan dan dukungan pemerintah dalam pengembangan lahan sawah tadah hujan. Berbagai program pembangunan infrastruktur sumber daya air, termasuk pembangunan embung di perdesaan, dipaparkan sebagai bagian dari strategi nasional untuk memperkuat ketahanan pangan dan mendukung swasembada pangan berkelanjutan.
Secara keseluruhan, buku ini memiliki kekuatan pada penyajian data dan analisis serta menghubungkan aspek teknis, sosial, ekonomi, dan kebijakan pertanian. Bahasa yang digunakan cukup komunikatif, tetapi buku ini bisa dibuat lebih menarik apabila menampilkan warna, ilustrasi, dan gambar dengan kualitas yang lebih baik. Namun demikian, hal ini tidak mengurangi nilai buku sebagai sumber informasi penting, terutama bagi penyuluh pertanian, peneliti, mahasiswa, pengambil kebijakan, maupun masyarakat yang ingin memahami strategi peningkatan produksi pangan melalui optimalisasi lahan sawah tadah hujan. (DA’26)
