Perubahan iklim menuntut pengelolaan tanah yang tepat sebagai langkah adaptasi pertanian. Teknologi yang dapat diterapkan meliputi penggunaan bahan organik seperti kompos, biochar, dan mulsa untuk meningkatkan kesuburan tanah. Selain itu teknik konservasi seperti terasering, penanaman lorong, tanaman penutup tanah, dan olah tanah konservasi untuk mencegah kerusakan lahan. Pemupukan berimbang dan penggunaan pupuk hayati juga penting untuk menjaga ketersediaan unsur hara secara efisien.
Dalam budidaya padi, pengelolaan air seperti sistem intermitten dan macak-macak juga dapat dilakukan untuk menghemat air sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim. Dengan tata kelola tersebut, pertanian Indonesia diharapkan mampu beradaptasi terhadap perubahan iklim, tetap memenuhi kebutuhan pangan, dan mewujudkan pertanian berkelanjutan.
Penggunaan Bahan Organik
1. Kompos
Kompos dari bahan organik dapat digunakan sebagai mulsa untuk menyuburkan sekaligus melindungi tanah. Kompos daur ulang, seperti dari sobekan kardus dapat membantu menekan pertumbuhan gulma dan mencegah tanah dibiarkan kosong terlalu lama. Selain itu, daun yang gugur sebaiknya tidak dibuang karena dapat diuraikan oleh cacing tanah ke dalam tanah, sehingga meningkatkan kesuburan dan kandungan karbon.
2. Biochar
Biochar adalah bahan padat yang kaya karbon, yang dihasilkan dari konversi limbah organik (biomassa pertanian) melalui proses pembakaran tidak sempurna suplai oksigen terbatas atau pirolisis,. Biochar yang memiliki kandungan karbon tinggi dapat mengurangi potensi pelepasan CO₂ mendukung perkembangan mikroorganisme di dalam tanah. Biochar membantu membatasi proses pembentukan NO₂ secara anaerobik, sekaligus meningkatkan ketersediaan dan efisiensi nitrogen untuk pertumbuhan tanaman.
Konservasi tanah
Olah Tanah Konservasi (OTK) adalah sistem pengolahan tanah yang mempertahankan minimal 30% sisa tanaman sebagai penutup permukaan tanah untuk mengurangi intensitas pengolahan. Pengolahan yang berlebihan tanpa konservasi dapat menurunkan kualitas tanah, seperti membuat tanah cepat kering, berstruktur buruk, halus seperti debu, dan rendah bahan organik. Pengolahan tanah merupakan proses mekanik untuk menggemburkan dan mencampur tanah, mengendalikan gulma, serta mendukung pertumbuhan akar tanaman.
Selain itu, tanaman penutup tanah berfungsi menambah bahan organik melalui guguran batang, ranting, dan daun, mengurangi kandungan air melalui transpirasi. Mengurangi dampak langsung air hujan, menekan aliran permukaan, dan meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah juga mampu mengurangi erosi. Syaratnya yaitu mudah diperbanyak, tidak bersaing kuat dengan tanaman utama, mampu mengikat tanah, tidak membutuhkan kesuburan tinggi, cepat tumbuh, tahan pemangkasan serta tahan gulma, penyakit, dan kekeringan, dapat menekan gulma, mudah diberantas, sesuai untuk reklamasi, dan tidak memiliki sifat mengganggu.
Mulsa adalah bahan penutup permukaan tanah pada lahan budidaya yang berfungsi menjaga kelembapan tanah, menekan pertumbuhan gulma dan penyakit, serta mendukung pertumbuhan tanaman. Mulsa dapat berupa bahan permanen atau sementara seperti serpihan kayu dan plastik. Selain itu, mulsa juga membantu menstabilkan suhu tanah, yaitu mencegah tanah terlalu panas pada iklim hangat dan menjaga tanah tetap hangat serta tidak membeku pada iklim dingin.
Pemupukan Berimbang
Pemupukan berimbang adalah pemberian pupuk sesuai kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanah untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, kesuburan tanah, serta keuntungan ekonomi dan lingkungan. Saat ini, pendekatan budidaya yang lebih ramah lingkungan seperti pertanian organik semakin dipilih, termasuk penggunaan pupuk berimbang dan pestisida hayati. Prinsipnya adalah meliputi tepat dosis, waktu, cara, dan jenis. Penerapannya dapat meningkatkan hasil dan mutu tanaman, efisiensi pemupukan, kesuburan tanah, serta mengurangi pencemaran lingkungan. Selain itu, pemupukan berimbang membantu penghematan pupuk dan menjaga keberlanjutan pertanian.
Pengelolaan Air Intermitten
Sistem pengairan berselang (intermittent irrigation) atau basah-kering (alternate wetting and drying) adalah metode penghematan air di lahan sawah dengan mengatur kondisi tergenang dan kering secara bergantian sesuai lahan dan fase pertumbuhan tanaman. Sistem ini bertujuan mengurangi kehilangan air akibat rembesan dan penguapan, serta menjaga kebutuhan air untuk transpirasi.
Manfaatnya yaitu menghemat air irigasi sehingga area yang dapat diairi menjadi lebih luas, serta membuat tanah lebih berongga sehingga meningkatkan ketersediaan nitrogen dan membantu perkembangan akar. Teknologi pendukungnya meliputi irigasi tetes, atau kabut, sumur dangkal atau dalam, serta penampungan air.
Diharapkan penerapan pengelolaan tanah dan air ini dapat meningkatkan kesuburan tanah, efisiensi sumber daya dan hasil pertanian, serta mengurangi kerusakan lingkungan sehingga mewujudkan pertanian yang berkelanjutan. (WD 2026)
Sumber:
- Mulyandari, R.S.H. dkk. (2022). Adaptasi dan mitigasi dampak perubahan iklim subsektor hortikultura. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian Kementerian Pertanian
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/17456 - Humaedah, U. dkk. (2021). Beradaptasi terhadap perubahan iklim pada sektor pertanian. Balai Besar Pengkajian dan Teknologi Pertanian
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22573





