Persalinan pada kambing seringkali dianggap sebagai siklus alami yang dapat berjalan tanpa bantuan dan rekayasa. Dalam beternak, persalinan justru menjadi titik kritis dalam usaha produksi kambing. Waktu dan bentuk penanganan persalinan menjadi penentu keselamatan bagi induk kambing dan anakan yang dilahirkan. Guna menghindari risiko fatal, peternak wajib memahami teknis pemeliharaan induk, manajemen dan sistem pakan, serta persiapan dan perawatan pra dan pasca melahirkan induk kambing.
Pengelolaan Kambing pada Siklus Bunting
Pengelolaan kambing dalam siklus bunting perlu diperhatikan sebagai penentu keberhasilan ternak. Masa bunting kambing berlangsung selama 146-155 hari (5 bulan), proses ini menimbulkan banyak perubahan fisiologis pada induk, sehingga setiap cekaman (stress) dari luar harus dapat dicegah semaksimal mungkin. Kepekaan induk atas potensi cekaman semakin kuat seiring bertambahnya usia kebuntingan. Periode kritis induk bunting terjadi pada 6—8 minggu sebelum melahirkan, yaitu saat masa pertumbuhan janin.
Pencatatan waktu kawin induk begitu krusial untuk menduga umur kebuntingan dan memperkirakan waktu melahirkan. Selain perkiraan waktu, terdapat ciri kebuntingan tua yang dapat digunakan sebagai acuan, diantaranya membesarnya salah satu sisi perut serta ambing atau kelenjar susu yang mulai bengkak dan berisi. Dalam fase ini, induk mulai memproduksi kolostrum (susu pertama), sehingga diperlukan asupan nutrisi tinggi untuk memenuhi kebutuhan energi, protein, vitamin dan mineral yang cukup. Ciri lain kebuntingan tua dapat dilihat dari pergerakan induk yang tampak lebih lambat dan berat, terutama saat bangkit, berdiri, maupun berjalan karena bobot kandungan yang semakin bertambah.
Kondisi kebuntingan pada kambing menyebabkan kapasitas lambung menurun akibat desakan janin, padahal di saat yang sama kebutuhan nutrisinya justru terus meningkat. Berikut dua fase manajemen pakan induk kambing yang perlu diperhatikan:
- Periode awal kebuntingan (3—4 bulan pertama), kebutuhan nutrisi induk relatif sama dengan kambing tidak bunting. Beri pakan hijauan berkualitas baik secara tidak terbatas (15-20% dari bobot tubuh), kombinasikan dengan hijauan legum (kacang-kacangan) seperti lamtoro atau gliricidia sebanyak 500-1000 gram/hari. Apabila asupan hijauan sudah memadai, pemberian pakan konsentrat tambahan belum diperlukan.
- Periode akhir kebuntingan (1—2 bulan sebelum melahirkan), kebutuhan gizi induk melonjak drastis seiring dengan pertumbuhan janin yang sangat pesat. Pada fase ini, sangat dianjurkan untuk mulai memberikan pakan konsentrat yang padat energi, protein, dan vitamin. Peningkatan asupan nutrisi yang intensif ini memiliki dua tujuan utama: memastikan janin tumbuh maksimal di dalam kandungan, serta membangun cadangan lemak dan protein pada tubuh induk sebagai modal utama untuk memproduksi susu setelah melahirkan nanti.
Pengelolaan Kambing Melahirkan
Pengelolaan induk kambing menjelang melahirkan, saat melahirkan, dan setelah melahirkan adalah periode singkat nan kritis, persiapan persalinan kambing dimulai dengan menyiapkan sekat kandang khusus yang bersih. Peternak harus jeli melihat tanda induk menjelang melahirkan seperti ambing yang penuh, mengeras dan berkilat, pembengkakan vulva, hingga perilaku induk yang gelisah dan memalingkan kepala ke belakang, keluarnya cairan putih dari vulva, mengangkat ekor, dan mengeluarkan suara. Gejala ini berlangsung beberapa jam selama 12—24 jam.
Proses melahirkan ditandai dengan keluar atau pecahnya kantong air, setelah kurang lebih 30 menit anak kambing biasanya akan lahir. Persalinan normal berlangsung selama 30 menit, jika anak lebih dari satu, jeda antar kelahiran biasanya mencapai 15 menit. Setelah lahir, tali pusar dapat segera diikat dan dioles dengan iodium untuk mencegah infeksi, kantong plasenta akan muncul dan lepas dalam 4—5 jam. Periksa saluran puting induk untuk memastikan kelancaran produksi susu agar anak segera mendapatkan kolostrum. Pemulihan energi pada induk dapat diusahakan dengan memberikan air minum yang dicampur dengan konsentrat, induk yang sehat dapat mendukung produktivitas pasca-melahirkan yang optimal.
Setelah melahirkan, perhatikan dan lakukan penanganan seperti: (1) biarkan induk menjilati anak untuk membangun ikatan dan membersihkan saluran pernapasan; (2) anak kambing normal mampu berdiri dan menyusu dalam waktu 1 jam setelah dilahirkan, pastikan anak mendapat kolostrum dalam empat jam pertama guna memperkuat sistem imun; dan (3) jika kondisi anak lemah, berikan bantuan menyusui secara manual atau gunakan botol berisi perahan kolostrum induk.
Selama masa laktasi (1–6 minggu), kebutuhan nutrisi induk melonjak tajam untuk mendukung produksi susu dan menjaga kondisi tubuh. Manajemen pakan yang optimal mencakup pemberian hijauan berkualitas tinggi sebanyak 20% bobot tubuh, ditambah konsentrat 200–300 gram per hari. Penggunaan leguminosa seperti lamtoro dan Indigofera sangat efektif merangsang produksi susu secara alami. Selain itu, pemberian mineral blok buatan sendiri—dari campuran ultra mineral, garam, dan semen—sangat krusial untuk memenuhi kebutuhan mikronutrien yang sering terabaikan. Nutrisi yang terjaga mencegah induk menjadi kurus, sehingga siklus reproduksi tetap berjalan lancar tanpa menghambat masa birahi selanjutnya.
Induk menyusui sangat membutuhkan air minum dalam jumlah cukup setiap hari, air dapat mendukung proses metabolisme, mengatur suhu tubuh, dan tentunya produksi susu. Kebutuhan air minum seekor kambing kurang lebih 1,5–2,5 liter per hari. Asupan air dari pakan hijau masih kurang untuk mencukupi kebutuhan, air minum harus selalu tersedia dalam kandang, pastikan wadah higienis dan ganti air secara rutin guna menjaga konsumsi ternak.
Keberhasilan peternakan sangat bergantung pada manajemen intensif selama fase bunting, melahirkan, hingga menyusui. Melalui pemenuhan nutrisi yang tepat, kesiapan penanganan persalinan, serta asupan air minum yang bersih, keselamatan induk dan anak dapat terjamin. Pengelolaan yang cermat ini tidak hanya menekan risiko kematian, tetapi juga mengoptimalkan produktivitas berkelanjutan bagi peternak. (AM’2026)
Sumber:
Ginting. S.P.(2009). Pedoman teknis pemeliharaan induk dan anak kambing masa pra-sapih. Loka Penelitian Kambing Potong Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15580





