Lahan kering dan marginal bukan berarti tidak produktif. Melalui sistem tumpang sari, potensi lahan marginal dapat ditingkatkan. Jahe—tanaman serbaguna yang adaptif dan bernilai ekonomi tinggi—dapat menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi lahan yang selama ini terabaikan.
Pengelolaan lahan kering memiliki tantangan pada produktivitas dan pengelolaan usaha taninya. Tumpang sari menjadi teknologi yang tepat untuk memaksimalkan produktivitas lahan kering. Tanaman dapat ditanam bersamaan pada lahan yang sama dengan satu atau lebih jenis tanaman lainnya.
Tanaman jahe (Zingiber officinale Rosc.) memiliki karakter yang cocok dan mendukung untuk pertanaman tumpang sari. Akar jahe tidak agresif dan pertumbuhannya relatif lambat, terutama pada awal fase vegetatif. Karakteristik ini membuat jahe dapat memberikan ruang antarbaris tanaman yang dapat dimanfaatkan tanaman lain. Jahe dapat ditanam bersama jagung dan cabai. Sistem pertanaman ini tidak hanya meningkatkan produktivitas lahan, tapi juga sekaligus menambah keuntungan petani.
Tumpang sari bukan sekadar strategi pemanfaatan ruang, namun adanya simbiosis antartanaman. Tanaman jagung berdaun lebar dapat membantu jahe karena mengurangi tekanan sinar matahari langsung yang dapat merusak tunas mudanya. Tanaman jahe berkontribusi dalam memperbaiki kualitas tanah dengan meningkatkan bahan organik.
Tumpang Sari Jahe, Jagung, dan Cabai
Pola tanam ini menerapkan jahe sebagai tanaman utama. Jagung ditanam pada sela baris sebagai tanaman pendamping yang pertumbuhannya cepat. Tanaman jagung berfungsi sebagai penaung alami tanaman jahe yang rentan terkena sinar matahari pada fase awal pertumbuhan. Setelah jagung dipanen, ruang yang ditinggalkan dapat dilanjutkan pemanfaatannya untuk tanaman cabai. Tanaman cabai dapat memanfaatkan nutrisi residual dari pupuk sebelumnya.
Langkah teknis sistem tumpang sari jahe sebagai berikut:
- Persiapan lahan: dilakukan beberapa minggu sebelum tanam dengan penggemburan, pembuatan bedengan, dan pembentukan drainase.
- Penanaman: saat awal musim hujan agar tanaman mendapat suplai air alami.
- Jarak tanam: jahe dapat ditanam dengan jarak antartanaman sekitar 40 cm x 60 cm, jagung ditanam di sela baris dengan jarak lebar sekitar 40 cm x 180 cm. Setelah jagung dipanen, tanaman cabai kemudian ditanam pada titik yang sama dengan jagung untuk melanjutkan siklus produksi.
- Pemupukan: diberikan secara bertahap dengan kombinasi pupuk organik (pupuk kandang) dan pupuk anorganik.
- Pemeliharaan: pembumbunan, penyiangan, dan pengendalian hama dilakukan secara berkala.
Tumpang sari jahe, jagung, dan cabai memberikan banyak keuntungan, baik dari sisi lingkungan maupun sosial ekonomi. Keuntungan tersebut, di antaranya
- Mengurangi risiko gagal panen. Bila satu komoditas terganggu, komoditas lain tetap berpeluang memberikan hasil.
- Meningkatkan efisiensi lahan dengan optimasi lahan, tidak perlu membuka lahan baru.
- Meningkatkan pendapatan petani. Hasil panen beragam dalam satu musim tanam.
- Menekan pertumbuhan gulma. Kanopi tanaman membantu menutup permukaan tanah sehingga mengurangi penyiangan.
- Memperbaiki struktur tanah. Sisa organik dari berbagai tanaman menambah unsur hara dan memperkuat sistem agroekologi.
Produktivitas jahe dalam tumpang sari sedikit lebih rendah dibandingkan dengan produktivitas jahe monokultur. Namun, tumpang sari memberikan nilai tambah dari tanaman pendamping. Ragam hasil panen memberikan total nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Tumpang sari jahe menjadi strategi pertanian yang ramah lingkungan, adaptif dan berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan produktivitas tetapi juga menguatkan fungsi ekologis pada lahan kering. (AM’2025)
Sumber:
- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran. (2000). Pola tumpangsari jahe dengan jagung dan cabai di lahan kering. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Ungaran. https://repository.pertanian.go.id/items/be0a38e3-4aef-4205-bfbc-07362d62b23d





