Di balik aroma segar dan sensasi dingin yang khas, Mentha arvensis L. menyimpan potensi besar sebagai komoditas atsiri bernilai tinggi. Minyaknya—dikenal sebagai cornmint oil—menjadi bahan baku penting untuk permen, pasta gigi, minyak angin, hingga balsam, berkat kandungan mentol yang tinggi. Tidak heran, tanaman ini kini menjadi salah satu bahan aromatik paling prospektif di pasar global.
Tanaman mint (Mentha arvensis L.), merupakan salah satu tanaman herbal aromatik penghasil minyak atsiri yang dewasa ini merupakan komoditas masa depan yang cukup prospektif sebagai penambah aroma dan rasa pada makanan, minuman, obat, kosmetik, dan produk penyegar lainnya. Tanaman mint bukan merupakan tanaman asli Indonesia, tetapi berasal dari daerah subtropik, sekitar Mediteriania (Laut Tengah).
Minyak M. arvensis dalam perdagangan disebut cornmint oil, bahan penting untuk pembuatan permen, pasta gigi, minyak angin, balsem dan berbagai obat-obatan. Minyak ini kaya senyawa aromatik terutama mentol, menton dan mentil asetat, dengan kandungan mentol sebagai komponen terbesar dan paling berkhasiat. Mentol sendiri bersifat karminatif (menenangkan), antispasmodik (meredakan batuk), dan diaforetik (menghangatkan dan merangsang keluarnya keringat).
Cornmint oil merupakan sumber mentol utama untuk berbagai industri. Setelah mentolnya diambil, tersisa minyak yang disebut dementholized oil (DMO) yang dapat digunakan sebagai substitusi minyak permen (peppermint oil) dari M. piperta. Minyak cornmint mudah menguap, tidak berwarna, berbau tajam, dengan sensasi hangat diikuti rasa dingin menyegarkan. Minyak ini dihasilkan melalui proses penyulingan bagian terna—batang dan daun—tanaman mint.
Selama ini, seluruh bahan baku untuk produk berbasis mentha masih bergantung pada impor. Padahal, permintaan terhadap minyak permen, cornmint, DMO, dan kristal mentol terus meningkat setiap tahun. Kondisi ini membuka peluang besar bagi pengembangan budi daya mentha di Indonesia. Selain mengurangi ketergantungan impor dan menghemat devisa, pengembangan mentha juga berpotensi menciptakan lapangan kerja baru serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Jenis dan Varietas
Di Indonesia terdapat enam jenis Mentha, yaitu M. piperita, M. arvensis, M. spicata, М. crispa, M. canadensis, dan M. viridis. Minyak mentha yang paling banyak beredar di pasar dunia ada tiga macam, yaitu peppermint (minyak dari M. piperita), cornmint (minyak dari M. arvensis), dan spearmint (minyak dari M. spicata).
Dari ketiganya, cornmint dari M. arvensisenis merupakan jenis paling potensial dikembangkan di Indonesia. Tanaman ini tidak membutuhkan panjang hari lebih dari 12 jam untuk berbunga dan mampu tumbuh di daerah lembap pada ketinggian 150−900 m dpl. Selain itu, mampu beradaptasi di dataran rendah dengan pertumbuhan tegak dan dapat berbunga. Waktu panen yang ideal ditandai ketika 60–70% tanaman dalam pertanaman telah berbunga.
Dalam mendukung pengembangan mentha nasional, Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (kini BRMP Tanaman Rempah dan Obat) telah melepas varietas unggul MEARSIA 1 (Mentha arvensis Indonesia 1). Varietas ini memiliki keunggulan produksi terna basah 10,57 ton/ha/th, terna kering angin 3,64 ton/ha/th, dan produksi minyak 80,72 kg/ha/th dengan kadar minyak 2,77% serta total mentol 64,26%. Secara morfologi, MEARSI 1 memiliki daun memanjang (oblongus), berwarna hijau tua dan batang merah keunguan.
Persyaratan Tumbuh
M. arvensis tumbuh optimal pada jenis tanah Latosol dan Andosol terutama yang berpasir dengan tekstur lempung atau debu berpasir, subur, dan kaya bahan organik, serta drainase baik. Rentang pH tanah ideal untuk pertumbuhannya adalah 5,5−7,0. Tanaman ini dapat berproduksi dengan baik di dataran rendah (100−400 m dpl) sampai medium (400−700 m dpl).
Dari sisi iklim, M. arvensis membutuhkan curah hujan 2000−4000 mm/tahun, kelembapan 70−80%, paparan cahaya penuh, dan suhu 20−30°C. Tipe iklim yang sesuai adalah A, B1, dan B2 menurut klasifikasi Oldeman, wilayah dengan lebih dari tujuh bulan basah dan kurang dari tiga bulan kering.
Persiapan Bahan Tanaman
Tanaman mentha diperbanyak secara vegetatif dengan setek pucuk, setek batang dan setek stolon. Setek asal pucuk/batang/stolon disemaikan terlebih dahulu di dalam polibag. Cara persemaian di polibag sebagai berikut:
- Bahan tanaman berupa setek pucuk 5−10 cm (3−5 ruas atau 2−4 buku), minimal 2 pasang daun muda. Bahan tanaman dapat juga berupa setek batang dan setek stolon. Untuk setek batang caranya sama dengan setek pucuk, sedang setek stolon bisa langsung ditanam di lapang dengan cara membenamkan 2/3 stolon ke dalam tanah. Kelemahan setek stolon lambat tumbuhnya dibanding setek pucuk dan setek batang.
- Ukuran polibag 12 cm x 10 cm, dan berlubang untuk menghindari genangan air.
- Media persemaian adalah campuran tanah dan pupuk kandang (2:1) atau (3:1). Masukkan media ke dalam polibag sebanyak 3/4 bagian, biarkan selama 4−5 hari.
- Setek ditanam dalam polibag pada posisi tegak sedalam 2−3 cm, kemudian disungkup dengan plastik berukuran lebar 1 m, tinggi 0,5 m, sedangkan panjangnya disesuaikan kebutuhan, selama ± 1 minggu untuk menjaga kelembapan, sungkup dibuka setelah 1 minggu.
- Selama di persemaian diberi naungan dari daun kelapa, alang-alang atau paranet. Naungan dibuat menghadap ke timur setinggi 180 cm dan di bagian barat setinggi 150 cm. Bentuk naungan disesuaikan dengan jumlah benih yang disemai.
- Lakukan pemeliharaan berupa penyiraman. Penyiraman dilakukan satu kali sehari pada pagi hari atau disesuaikan dengan kondisi.
- Setelah benih (setek pucuk) berumur 1 bulan (15−20 cm), benih dapat ditanam ke lapangan.
- Jumlah benih dalam polibag yang diperlukan untuk 1 ha luas lahan adalah 40.000 dan 2.000 untuk cadangan/sulaman.
Dengan kebutuhan mentol dan produk turunan mentha yang terus meningkat, peluang pengembangan Mentha arvensis di Indonesia terbentang luas. Dukungan varietas unggul, teknik budi daya yang tepat, serta potensi pasar yang kuat menjadi modal penting untuk menjadikan mentha sebagai komoditas andalan baru. Bila dikelola secara berkelanjutan, tanaman aromatik ini bukan hanya mampu memenuhi kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia di pasar minyak atsiri dunia.(HS 2025).
Sumber
- Hadipoentyanti, E. (2012). Plasma nutfah tanaman mentha. Dalam Agus Wahyudi et al. (eds.). Bunga rampai Inovasi Tanaman Atsiri Indonesia. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
- Hadipoentyanti, E. (2012). Varietas unggul mentha (Mentha arvensis), budi daya dan pascapanen. Sirkuler Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/11278





