Tanaman kentang menjadi salah satu komoditas yang memegang peranan penting dan mendapat prioritas untuk dikembangkan dan mempunyai potensi dalam diversifikasi pangan. Kentang mempunyai nilai komersial yang cukup tinggi. Tingginya nilai komersial tersebut terletak pada tingginya pemanfaatan umbi kentang yang selain dapat diolah untuk berbagai produk, juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan subtitusi yang sehat dan aman. Berikut cara panen dan pascanen kentang yang tepat untuk mempertahankan mutu, memperpanjang daya simpan, serta meningkatkan nilai jual kentang sehingga memperoleh hasil optimal.
Panen
Umbi tanaman kentang dapat dipanen setelah daun dan batangnya telah menguning serta umbinya tidak mudah mengelupas saat terjadi gesekan. Penentuan umur panen dilakukan setelah umur tanaman mencapai umur sekitar 100 – 110 hari untuk bibit dan 120 HST untuk keperluan konsumsi atau tergantung kultivar/varietas.
Waktu panen yang tepat untuk umbi kentang merupakan titik optimal karena kandungan nutrisi dan kandungan pati yang cukup tinggi serta tidak terjadi peningkatan yang berarti. Waktu panen dianjurkan dilakukan pada waktu sore atau pagi hari dan dilakukan pada saat cuaca sedang cerah. Panen dihentikan saat kondisi hujan, karena umbi basah akan menyebabkan umbi busuk sehingga pada saat penyimpanan akan memicu timbulnya jamur dan sumber penyakit lainnya.
Prosedur pelaksanaan panen pada tanaman kentang adalah sebagai berikut:
- Sebelum panen dilakukan, sangat dianjurkan untuk melakukan pemangkasan tanaman kentang yang berada diatas permukaan tanah, bila diperlukan dapat menggunakan herbisida dengan dosis setengah dari dosis anjuran.
- Pembongkaran guludan dilakukan dengan cara mencangkul tanah di sekitar umbi dengan hati-hati, lalu mengangkatnya sehingga umbi keluar dari dalam tanah dan diletakkan di permukaan tanah agar terjemur matahari.
Pasca Panen
Sortir dan grading merupakan tahapan pemilihan dan pemisahan umbi berdasarkan kondisi umbi (baik, sehat atau tidak cacat secara mekanis). Umbi juga dipisahkan berdasarkan ukuran dan kualitasnya. Sortasi dilakukan dengan cara memilih umbi yang baik dan umbi yang kurang baik berdasarkan: ada tidaknya cacat pada umbi, normal tidaknya umbi dari segi bentuk dan ukuran umbi, ada tidaknya serangan hama atau penyakit pada umbi. Selanjutnya, umbi kentang tersebut kembali disortasi atau dipilah berdasarkan kualitas dan ukuran (grading atau pengklasifikasian).
Pembersihan umbi dilakukan dengan tujuan menghilangkan kotoran yang menempel pada umbi seperti tanah, sisa tanaman dan memangkas akar tanaman yang terdapat pada umbi, selanjutnya dilakukan pencucian. Pencucian umbi kentang dilakukan dengan menggunakan bak air atau di air mengalir. Kentang yang telah bersih diletakkan diatas terpal atau bahan lain untuk dikeringkan, akan tetapi proses pengeringannya tidak boleh dikeringkan langsung di bawah sinar matahari.
Seleksi ulang (Sortir dan Grading Tahap II).
Seleksi kentang dilakukan kembali setelah diangin-anginkan selama 2 – 7 hari. Setelah diangin-anginkan, akan terlihat kentang yang sehat dan tidak sehat dan biasanya kentang yang rusak akan terlihat pada priode tersebut. Kentang yang tidak sehat dipisahkan dari kentang yang sehat (dibuang atau sebaiknya dibakar) agar tidak menyebar pada tanaman lain. Seleksi ulang biasanya dilakukan pada kentang yang akan dijadikan bibit.
Penyimpanan umbi kentang dilakukan dengan menggunakan wadah berupa kotak kayu, krat, keranjang atau waring dan disusun secara rapi. Jika penyimpanan disimpan dalam gudang, maka gudang tersebut harus memiliki ventilasi udara yang cukup supaya sirkulasi udara lancar dengan kelembaban 65 – 75% dan dalam kondisi bersih.
Pengemasan dilakukan untuk melindungi dari kerusakan, kehilangan air, menciptakan daya tarik bagi konsumen, memberikan nilai tambah produk kentang, memperpanjang umur simpan, mempermudah dalam proses pengangkutan dan penghitungan.
Kemasan yang digunakan harus kemasan yang bebas toksik, memenuhi standar sanitasi dan syarat - syarat kesehatan, bentuk, ukuran serta berat yang harus sesuai dengan produk yang akan dikemas. Kemasan yang dapat digunakan adalah jala, peti kayu, tolok dan polynet (tergantung kebutuhan). Penggunaan kemasan waring dan karung goni memiliki keuntungan yakni:
- Karung waring: struktur kemasan berongga, sehingga sirkulasi udara dari dalam dan keluar dapat berlangsung dengan baik. Sirkulasi udara tersebut akan sangat membantu selama penumpukan dan penanganan pasca panen. Kemasan ini lebih praktis dan ekonomis.
- Karung goni: Kesegaran kentang dapat tetap dipertahankan karena adanya sirkulasi udara yang terdapat pada karung. Sirkulasi udara menghambat perubahan warna kentang atau pembentukan solanin, karena kemasan karung goni dapat melindungi kentang dari paparan cahaya matahari.
Pendistribusian umbi kentang dilakukan dari produsen ke konsumen. Dalam pendistribusian harus diketahui tempat tujuan, jumlah dan tanggal pengiriman. Transportasi yang digunakan dalam pendistribusian harus aman dan layak.
Melalui proses pemanenan yang tepat, diharapkan petani dapat mengoptimalkan hasil panen, memastikan kentang tetap segar, dan siap memasuki pasar dengan kualitas terbaik. (WD 2025)
Sumber :
- Rahmi, H. dkk. (2021). Petunjuk teknis budidaya tanaman kentang. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Barat
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15318
- Prabaningrum, L. dkk. (2014). Budidaya kentang berdasarkan konsepsi PHT. Balai Penelitian Tanaman Sayuran.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5375





