Meski dijuluki raja buah, durian nusantara belum sepenuhnya berjaya di pasar. Ketersediaannya memang sepanjang tahun, namun kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produksinya masih kalah bersaing karena panen yang bersifat musiman dan terbatas di daerah asal. Penerapan teknologi in-off season menjadi kunci dalam mengatur waktu panen agar durian tetap sehat, produktif, dan berkualitas tinggi sepanjang tahun.
Durian (Durio sp.) merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai tinggi, namun produksinya masih didominasi oleh pola musiman. Pasokan yang melimpah pada saat panen durian serempak menyebabkan harga durian turun. Sementara, di luar musim buah, durian menjadi langka dan mahal. Teknologi pembungaan dan pembuahan durian dikembangkan untuk menjawab tantangan ini, teknologi in-off season adalah salah satunya. Pendekatan ini memungkinkan petani untuk mengatur waktu berbunga, berbuah, hingga panen dengan lebih presisi dan berkelanjutan.
Pembungaan durian dapat terjadi karena pengaruh keseimbangan faktor internal dan eksternal tanaman, seperti ketersediaan air, intensitas cahaya, suhu, cadangan karbohidrat, rasio karbon dan nitrogen, serta hormon. Teknologi in-off season pada dasarnya dilakukan dengan meniru kondisi-kondisi alam yang dapat memicu pembungaan. Upaya membungakan dan membuahkan durian dapat dilakukan kapanpun dengan rekayasa sehingga dapat panen lebih awal (early-season) atau lebih lambat (late-season).
Teknologi In-Off Season pada Durian
Proses pembungaan dan pembuahan menggunakan teknologi in-off dapat dilakukan dengan cara mekanis dan teknis. Beberapa cara mekanis sebagai berikut:
- Stringing, mengikat akar pohon untuk menghambat distribusi fotosintat hingga tanaman mengalami stres dan memunculkan bunga.
- Pengeratan kulit pohon, dilakukan dengan mengerat pembuluh floem (kulit pohon) melingkar sepanjang lingkaran pohon hingga terlihat pembuluh xylem (kayu pohon). Proses ini membuat tanaman menjadi stres dan meningkatkan rasio massa karbon terhadap massa nitrogen (C/N).
- Pemangkasan cabang dan ranting, memangkas cabang dan ranting hingga menyisakan sedikit daun, fotosintat akan meningkat untuk menumbuhkan daun dan bunga.
- Stressing air, menghentikan penyiraman selama periode tertentu hingga mencapai titik layu permanen. Setelah itu dilakukan penggenangan pada akar dan pangkal batang hingga jenuh air (saturated). Keseimbangan hormon giberelin, sitokinin, dan asam absisat (ABA) akan berubah dan meningkatkan rasio C/N.
Lingkungan dan hara dalam proses pembungaan in-off season juga sangat memengaruhi pertumbuhan durian. Cara teknis yang dilakukan untuk mendukung teknologi ini, antara lain
- Pemberian pupuk, dilakukan dengan memberi pupuk organik atau anorganik dengan meninggikan kandungan fosfor dan kalium (KNO3, thio urea, kalsium sianamida, dan hidrogen sianamida.
- Penanaman ragam varietas, dalam satu lokasi, durian dapat ditanam dengan berbagai varietas durian dengan tipe rentang pemasakan buah yang berbeda.
- Penanaman pada agroekosistem beragam, varietas durian dapat ditanam pada lokasi zona agroekosistem yang berbeda-beda.
Pemeliharaan Tanaman Durian
Bunga durian akan muncul pada 40—60 hari setelah proses rekayasa pembungaan. Calon bunga muncul secara serempak dengan ukuran sebesar butiran beras (bunga beras). Pemeliharaan pembungaan menjadi fase yang krusial karena bunga yang muncul tidak menjamin terbentuknya buah yang berkualitas. Tanaman berada pada fase fisiologis sensitif, kesalahan pemeliharaan dapat menggugurkan bunga dan buah muda. Pemeliharaan dilakukan dengan:
- Pelindungan bunga. Bunga durian rentan terhadap hujan, angin, dan kelembaban. Curah hujan tinggi saat bunga mekar memicu kegagalan penyerbukan bahkan pembusukan bunga, mulsa plastik dapat digunakan sebagai pelindung dan peneduh dompolan bunga.
- Penyerbukan buatan. Dilakukan khususnya pada produksi di luar musim. Selama ini penyerbukan alami dilakukan oleh serangga dan kelelawar, adapun penyerbukan buatan dapat dilakukan pada malam hari dengan memindahkan serbuk sari pada kepala putik yang mekar menggunakan kuas atau sapu ijuk.
- Pemeliharaan bakal buah. Durian secara alami menggugurkan bakal buah, perontokan sering kali terjadi berlebih karena stres air. Untuk itu ketersediaan air perlu dijaga terutama pada 4—6 minggu pertama setelah pembuahan. Pemupukan dilakukan secara bertahap dengan dosis sesuai jumlah buah pada pohon.
- Penjarangan buah. Dilakukan untuk meningkatkan ukuran dan kualitas buah serta menjaga kesehatan tanaman untuk produksi berikutnya. Penjarangan disesuaikan dengan jumlah dan kemampuan tanaman agar suplai nutrisi menjadi optimal.
- Pembesaran dan pemasakan buah, menjaga kestabilan air dan pelindungan buah. Air berlebih dapat menurunkan mutu dan meningkatkan risiko busuk akar. Selain mengendalikan air, pengamanan buah dengan pengikatan tali atau jaring juga dapat dilakukan untuk mencegah kerusakan buah.
Pembungaan dan pembuahan durian merupakan rangkaian terintegrasi yang membutuhkan ketelitian dan konsistensi tinggi. Keberhasilan produksi durian tidak hanya diukur dari jumlah panen, tetapi juga mutu dan keberlanjutan pertanamannya. Teknologi in-off season menjadi inovasi penting untuk menghasilkan durian berkualitas tinggi dan berkelanjutan sepanjang waktu. (AM’2025)
Sumber
- Nuraini, F., dkk. (2023). Teknologi produksi melalui pengaturan fase pembungaan dan pembuahan durian. Pertanian Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/23683




