Lahan sulfat masam yang selama ini dianggap marginal dan sulit diusahakan ternyata dapat diubah menjadi lahan produktif melalui integrasi mikroba tanah dan teknologi budi daya yang tepat, ramah lingkungan, dan berbasis sumber daya lokal.
Lahan rawa pasang surut telah dimanfaatkan masyarakat Banjar, Melayu, dan Bugis selama ratusan tahun dengan kearifan lokal, namun produktivitasnya rendah. Metode konvensional ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, sehingga diperlukan inovasi teknologi yang mampu mengubah lahan rawa menjadi lahan pertanian produktif demi ketahanan pangan nasional yang merata dan berkelanjutan.
Lahan ini memiliki potensi besar untuk pertanian, khususnya padi. Namun, tanah ini mengandung pirit/sulfida (FeS₂) dalam jumlah tinggi, yang bila teroksidasi akan menghasilkan ion H⁺ dan sulfat (SO₄²⁻). Proses ini menurunkan pH tanah, meningkatkan kelarutan besi dan aluminium, serta menghambat pertumbuhan tanaman. Kondisi ini membuat lahan sulfat masam sering dianggap sulit atau marginal untuk dibudidayakan. Akibatnya, produktivitas padi rendah dan pemanfaatan lahan terbatas.
Peran Mikroba dalam Perbaikan Tanah
Salah satu strategi utama untuk memperbaiki lahan sulfat masam adalah pemanfaatan mikroba tanah. Bakteri pereduksi sulfat dapat menurunkan kadar sulfat dan menaikkan pH tanah secara alami. Berbagai mikroba ini dapat menjadi agen biologis yang membantu menciptakan kondisi tanah lebih sehat dan ramah bagi pertumbuhan tanaman, yaitu:
- Mikroba pelarut fosfat.
- Bakteri pengikat nitrogen non-simbiotik.
- Trichoderma sebagai dekomposer mempercepat dekomposisi bahan organik dan mendukung kesuburan tanah.
Dukungan Bahan Pembenah
Efektivitas mikroba diperkuat dengan penggunaan bahan pembenah tanah, seperti humat, silikat, kalsium, kompos eceng gondok, biochar, dan abu sekam padi. Bahan-bahan ini menaikkan pH, meningkatkan kapasitas tukar kation, serta menyediakan substrat bagi mikroba, sehingga kesuburan tanah meningkat sebelum teknologi budi daya diterapkan.
Integrasi dengan Teknologi Budi Daya
Perbaikan tanah harus diikuti dengan teknologi budi daya yang tepat agar hasil maksimal dapat tercapai. Strategi yang diterapkan meliputi:
- Pengelolaan air satu arah dan dua arah untuk menjaga kondisi tanah tetap produktif.
- Penggunaan varietas unggul baru yang adaptif terhadap lahan rawa.
- Pemupukan berimbang dengan pupuk anorganik, fosfat alam, dan pupuk hayati.
- Pengendalian organisme pengganggu tanaman secara terpadu.
- Modernisasi cara tanam menggunakan transplanter dan alat tanam mekanis.
Integrasi teknologi budi daya ini bekerja selaras dengan proses biologis yang dibangun oleh mikroba tanah, sehingga produktivitas lahan meningkat signifikan.
Penerapan integrasi mikroba dan teknologi budi daya telah terbukti meningkatkan kesuburan tanah, indeks pertanaman, dan produktivitas padi secara signifikan. Lahan yang sebelumnya marginal kini mampu memberikan hasil yang lebih tinggi, sekaligus meningkatkan pendapatan petani. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan terpadu bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat lokal.
Dengan penerapan yang konsisten dan berbasis sumber daya lokal, integrasi mikroba dan teknologi budi daya di lahan sulfat masam dapat mendukung ketahanan pangan nasional dan menciptakan pertanian rawa yang berkelanjutan. Mikroba memperbaiki kualitas tanah, sementara teknologi budi daya mengoptimalkan hasil tanaman, menjadikan lahan rawa pasang surut sebagai sumber pangan yang produktif, ramah lingkungan, dan menguntungkan. (QAR, 2026)
Sumber
- Lestari, Y. (2019). Remediasi Lahan Rawa Pasang Surut Sulfat Masam Melalui Pemanfaatan Mikroba Tahan Masam dan Bahan Pembenah Tanah. Balittra. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/12999
- Masganti, Masganti & Simatupang, R. & Alwi, Muhammad & Khairullah, Izhar & Nurzakiah, Siti. (2022). Pengelolaan Hara dan Tanaman di Lahan Rawa Pasang Surut. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22103
- Yusuf, A. W. (2019). Model Pengelolaan Lahan dan Tanaman Terpadu Ramah Lingkungan Di Lahan Pasang Surut Sulfat Masam. Balittra. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/12998






