Di balik ketangguhan jambu mete yang dapat tumbuh di lahan marginal, perubahan iklim menghadirkan tantangan yang semakin berat. Kekeringan berkepanjangan, pergeseran musim, hingga cuaca ekstrem berpotensi menurunkan hasil panen dan kualitas produksi. Untuk itu, perlu strategi pengelolaan jambu mete yang adaptif untuk menjaga pertumbuhan tanaman dan tetap mampu berproduksi optimal.
Tanaman jambu mete (Anacardium occidantale L.) merupakan tanaman unik yang dapat berkembang dan tumbuh di lahan tandus, kritis dan marginal. Tanaman yang dikenal juga dengan sebutan jambu monyet ini merupakan satu dari lima komoditas pertanian yang mempunyai nilai ekonomis cukup tinggi. Salah satu sentra produksi jambu mete adalah Nusa Tenggara Timur yang mempunyai agroekologi marginal dan kering dengan tanah yang kurang subur, solum relatif dangkal, dan musim penghujan yang singkat (3–4 bulan/tahun).
Ketahanan dan Tantangan Ekologis
Meskipun mampu tumbuh di lahan kritis dan tandus, jambu mete sangat peka terhadap perubahan iklim. Fenomena penyimpangan unsur iklim, seperti meningkatnya suhu bumi dan perubahan pola curah hujan, berdampak langsung pada produktivitas tanaman.
Perubahan pola curah hujan dengan musim kering selama 4–5 bulan pada fase pembungaan justru optimal untuk meningkatkan produksi gelondong. Sebaliknya, hujan yang turun pada periode pembungaan dapat mencuci dan menggugurkan tepung sari, melukai permukaan bunga hingga rontok. Selain itu, dapat menghambat aktivitas serangga penyerbuk dalam fase pembentukan buah sehingga dapat menurunkan hasil panen secara signifikan.
Volume curah hujan tinggi dan cuaca berawan meningkatkan kelembapan udara, yang memicu serangan hama Helopeltis. Curah hujan di bawah rata-rata dalam jangka panjang dapat menurunkan produksi hingga 40%, sementara kondisi air yang ideal dapat melipatgandakan hasil panen.
Peran Mitigasi dan Upaya Penanggulangan
Jambu mete memiliki peran ekologis penting dalam menekan emisi gas rumah kaca (GRK). Selain berperan dalam penyerapan karbon melalui tajuk tanaman, limbah berupa buah semu dan kulit gelondong dapat diolah menjadi bioetanol serta cashew nut shell liquid (CNSL) yang ramah lingkungan. Konsep circular economy dapat diterapkan melalui pemanfaatan limbah industri mete. Dengan demikian, pengembangan perkebunan mete secara masif dapat menjadi strategi ganda, yaitu penguatan ekonomi wilayah tertinggal sekaligus pemulihan kualitas lingkungan melalui cadangan karbon hayati.
Untuk menjaga keberlangsungan komoditas ini, diperlukan langkah komprehensif yang mencakup:
- Antisipasi: Mengidentifikasi risiko sejak dini untuk menyiapkan langkah penyelamatan tanaman.
- Adaptasi: Menyesuaikan teknik budi daya guna meminimalkan risiko kerusakan akibat cuaca yang menyimpang dari kondisi rata-rata.
- Mitigasi: Langkah aktif untuk mengurangi laju perubahan iklim melalui praktik budi daya yang berkelanjutan dan pemanfaatan limbah rendah emisi.
Strategi Adaptasi: Teknologi Hemat Air
Untuk menghadapi tantangan agroekologi di wilayah kering seperti NTT, penerapan teknologi konservasi air menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas produksi jambu mete:
- Rorak (saluran buntu): Teknik ini dilakukan dengan membuat lubang atau penampung yang memotong lereng. Rorak berfungsi efektif untuk menangkap aliran permukaan, meningkatkan infiltrasi air ke dalam tanah, serta menekan laju erosi. Selain menjaga ketersediaan air, rorak juga berperan sebagai tempat penampungan bahan organik yang dapat meningkatkan kesuburan tanah di sekitar perakaran mete.
- Embung: Sebagai solusi strategis menghadapi kemarau panjang, pembangunan embung sangat krusial di daerah beriklim kering. Embung berfungsi memanen air hujan selama musim basah yang singkat, yang kemudian didistribusikan sebagai air irigasi tambahan untuk menjamin kelangsungan hidup tanaman saat pasokan air tanah mulai menipis.
Melalui integrasi teknologi hemat air dan pengelolaan limbah yang berkelanjutan, jambu mete dapat terus eksis sebagai komoditas unggulan yang tangguh secara ekonomi sekaligus ramah secara ekologis di tengah perubahan iklim global. (QAR, 2026).
Sumber
- Firman, C. (2006). Peningkatan produktivitas jambu mete melalui teknologi rorak. Warta Balittro No. 53. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/29079
- Supriadi, H., & Heryana, N. (2011). Dampak perubahan iklim terhadap produksi jambu mete dan upaya penanggulangannya. Buletin RISTRI, 2( 2). Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/2539
- Astuti, Y., Daniati, C., & Nuningtyas, E. (2018). Buku pedoman penerapan PHT pada jambu mete. Direktorat Perlindungan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9795





