Jamur tiram (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jamur pangan yang banyak diminati karena rasanya lezat, kandungan gizinya tinggi, serta beragam manfaat bagi kesehatan. Selain berpotensi membantu menurunkan kolesterol dan meningkatkan daya tahan tubuh, jamur tiram juga memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan. Budidayanya relatif mudah, membutuhkan modal dan lahan yang tidak besar, serta mampu menghasilkan panen berulang dengan produktivitas yang tinggi. Namun, untuk memperoleh hasil panen yang optimal, petani perlu memperhatikan berbagai faktor yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan produksi jamur, termasuk gangguan hama dan penyakit.
Serangan hama dan penyakit dapat terjadi pada berbagai fase pertumbuhan jamur tiram. Jika tidak ditangani dengan tepat dapat menurunkan produktivitas, kualitas hasil panen, bahkan menyebabkan kerugian ekonomi yang besar. Pemahaman mengenai jenis-jenis hama dan penyakit serta cara pencegahan dan pengendaliannya menjadi kunci penting dalam menjaga keberhasilan usaha budi daya jamur tiram. Berikut hama dan penyakit yang umum menyerang jamur tiram dan cara pengendaliannya.
Kumbang (Cyllodes bifacies)
Kumbang Cyllodes baik kumbang dewasa maupun larvanya menyerang tubuh buah dan tangkai jamur, tetapi kerusakan yang ditimbulkan larva umumnya lebih parah. Keberadaan larva sering tidak terdeteksi saat panen karena bersembunyi di dalam jamur. Gejala serangan biasanya baru terlihat beberapa hari kemudian, ditandai tudung jamur yang menjadi lembek, berair, dan mudah terlepas dalam 2–3 hari. Pada serangan berat, jamur mengalami kerusakan serius sehingga tidak layak dipasarkan.
Pengendalian: bersihkan area sekitar dan di dalam kumbung atau rumah jamur. Semprotkan insektisida nabati, seperti ekstrak bawang putih dan tembakau. Hindari penggunaan insektisida kimia untuk pemberantasan hama kumbang karena residu insektisida kimia berbahaya.
Lalat (Lycoriella sp.)
Lalat Lycoriella menjadi salah satu hama penting pada budidaya jamur tiram karena larvanya dapat menyerang berbagai fase pertumbuhan, mulai dari wadah tanam (baglog), bibit, miselium, hingga tubuh buah jamur. Serangan hama ini umumnya meningkat saat kelembapan udara tinggi, terutama pada musim hujan, dan sering ditemukan pada baglog berumur lebih dari dua bulan. Kondisi kumbung yang kurang bersih, seperti adanya sisa baglog dan tangkai jamur yang berserakan, dapat menarik lalat untuk berkembang biak. Selain itu, media tanam seperti bekatul yang tidak disterilisasi dengan baik juga berpotensi membawa telur lalat yang kemudian menetas dan berkembang menjadi larva di dalam baglog.
Pengendalian: segera panen semua jamur hingga tak bersisa. Baglog dan kumbung juga dibersihkan. Cara lain dengan menjebak lalat dewasa dengan plastik atau gelas berwarna kuning terang. Jebakan dapat dibuat dari gelas air mineral yang dicat kuning atau lembaran plastik berwarna kuning seperti potongan map plastik. Dinding gelas atau plastik itu kemudian diberi perekat atau sedikit minyak. Warna kuning terang akan menarik serangga yang terbang datang dan mati terjebak di gelas atau lembaran plastik kuning. Pengendalian lain dengan menggunakan bawang putih. Ambil segenggam bawang putih, kupas kulitnya, blender, lalu tambahkan 3 liter air bersih. Saring menggunakan kain kasa. Semprotkan larutan bawang putih yang telah disaring pada baglog. Minyak atsiri pada bawang menghasilkan aroma menyengat yang tidak disukai serangga, sehingga dapat mencegahnya bertelur pada tubuh buah jamur.
Tungau (Tyrophagus putrescentive)
Tungau hidup dan berkembang biak pada lipatan tudung sehingga tudung yang diserangnya kerap hancur. Siklus hidupnya terdiri atas fase telur 7-8 hari, larva 6-7 hari, protonimfa 5-6 hari, deutonimfa 6-7 hari, dan dewasa 35-40 hari.
Pengendalian: melakukan sterilisasi media secara tepat. Cara lain dengan memperbaiki sanitasi dalam kumbung terutama dari baglog-baglog yang rusak atau terkontaminasi sehingga tungau menjauh.
Pseudomonas tolaasii
Bakteri penyebab bercak cokelat pada jamur tiram menghasilkan racun yang menimbulkan bercak kuning kecokelatan hingga jingga pada tudung dan tangkai jamur. Serangan menyebabkan jamur tidak layak jual, bahkan dapat menimbulkan bau tidak sedap pada kondisi lembap. Bakteri ini juga dapat menyerang baglog dan menyebabkan kerusakan hingga 20–30%, terutama akibat proses sterilisasi yang kurang sempurna.
Pengendalian: penyiraman jamur secara rutin dengan air sodium hipoklorit yang mengandung klorin aktif (AC) 5,7 mg/l sejak inisiasi hingga menjelang panen. Penggunaan sodium hipoklorit dengan konsentrasi AC di bawah 171 mg/l aman karena tidak akan mematikan miselia jamur tiram.
Trichoderma
Trichoderma merupakan cendawan hijau yang sering menyerang jamur tiram dan berkembang cepat pada suhu 25–30 °C. Serangan dapat muncul pada tubuh buah maupun media dalam baglog. Pada tahap awal, infeksi sulit dikenali karena miseliumnya berwarna putih, tetapi seiring perkembangan akan berubah menjadi hijau. Serangan berat menyebabkan bercak pada jamur sehingga tidak layak dipasarkan. Baglog yang terinfeksi parah sebaiknya segera dimusnahkan dan dijauhkan dari area produksi untuk mencegah penyebaran kontaminasi.
Pengendalian: gunakan disinfektan, pasteurisasi, pengaturan pH baglog, perlakuan kimia, kontrol biologi dengan bakteri antagonis, dan menggunakan varietas tahan. Bakteri antagonis yang mampu melawan kapang hijau antara lain adalah Bacillus amyloliquefaciens.Pengendalian kapang hijau secara hayati dapat menggunakan ekstrak bawang merah Allium cepa, bawang putih Allium sativum, dan mimba Azadirachta indica.
Dengan menerapkan langkah-langkah pencegahan secara konsisten dan melakukan pemantauan rutin, petani dapat meminimalkan risiko serangan hama dan penyakit, mempertahankan kualitas produksi, dan meningkatkan keberlanjutan usaha budi daya jamur tiram. (WD 2026)
Sumber:
- Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. (2018). Kiat Budi Daya jamur Tiram. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5453 - Auliansya, N.P. (2025). Budidaya jamur tiram (Pleurotus ostreatus) dan pengolahannya di UKM Rumah Jamur Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan. Polbangtan Gowa.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26732





