Budidaya buah dalam Screen House kini semakin diminati oleh petani dan pelaku usaha di Indonesia. Kondisi lingkungan pertanaman yang lebih stabil dari pengaruh cuaca seperti hujan, panas, angin, OPT, dan lainnya menyebabkan buah yang dibudidayakan di dalam Screen House memiliki mutu lebih baik daripada budidaya di lahan terbuka (openfield).
Sejalan dengan perkembangan teknologi pertanian, pemerintah terus mendorong penerapan budidaya dalam Screen House sebagai bagian dari konsep smart farming. Teknologi ini dinilai sangat sesuai untuk komoditas buah bernilai ekonomi tinggi seperti melon, stroberi, dan anggur.
Screen house merupakan struktur bangunan tertutup yang dirancang untuk membantu pertumbuhan tanaman dengan menciptakan lingkungan yang relatif terkendali. Fungsi screen house adalah mengoptimalkan pertumbuhan tanaman dengan mengatur kelembaban, suhu, pencahayaan, serta sirkulasi udara di dalamnya. Screen house berfungsi juga sebagai perlindungan terhadap cuaca ekstrim seperti curah hujan berlebihan, pengendalian hama dan penyakit, perpanjangan musim tanam yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas serta kualitas tanaman.
Struktur Screen House
Bangunan dengan tiang setinggi 3–4 m dan tinggi puncak 5,75–6,75 m. Pondasi harus kuat dan bahan tahan lama sesuai jenis material bangunan, dengan kebutuhan khusus untuk konstruksi kaca, plastik berat, kayu, atau polyethylene. Pengaturan udara dilakukan melalui ventilasi alamiah atau mekanis, di mana ventilasi alamiah lebih efisien dan ekonomis karena tidak memerlukan listrik dan perawatan.
Rangka dan penutup berfungsi melindungi bangunan dari pengaruh iklim luar. Material rangka disesuaikan dengan umur pemakaian, mulai dari bambu (kurang dari 2 tahun, kayu (5-10 tahun), hingga baja ringan/besi (lebih dari 10 tahun), dengan kemampuan menahan beban hingga 25 kg/m² dan tiupan angin maksimum 250 km/jam. Pembuatan rangka sebaiknya dibuat dengan sistem knock down agar mempermudah dalam melakukan pemindahan
Penutup atap harus awet, terpasang erat/pas, dan mampu meneruskan cahaya secara optimal. Material penutup yang umum digunakan di daerah tropis meliputi acrylic, polycarbonate, fiberglass reinforced polyester, polyethylene film (plastik UV), Polyvinyl Chloride Film, dan screen (kassa), masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasan terkait daya tahan, transmisi cahaya, biaya, dan perlindungan cuaca.
Pemilihan bentuk atap Screen House harus mempertimbangkan karakteristik fisik, termal, optik, dan daya tahan material karena sangat memengaruhi iklim mikro di dalam bangunan. Atap dirancang agar mampu mengalirkan air hujan secara optimal dengan kemiringan minimal sekitar 28° untuk mendukung sirkulasi udara dan mencegah peningkatan suhu berlebih.
Pintu masuk Screen House harus dirancang rapat dan idealnya menggunakan sistem pintu ganda untuk mencegah masuknya hama, dengan material penutup berupa plastik UV atau kassa, dilengkapi “alas berfungisida” yang terbuat dari gabus atau bahan lain berbentuk persegi panjang dengan ukuran 40 – 50 cm, yang diisi dengan larutan fungisida sesuai dosis. Lantai Screen House sebaiknya menggunakan bahan material dari plesteran semen atau paving block atau karpet lantai penahan gulma (weedmat), menghindari penutupan semen penuh karena dapat meningkatkan suhu, serta dilengkapi selasar lantai untuk mencegah masuknya air hujan.
Jenis Screen House
Screen House dibedakan berdasarkan material konstruksi yang memengaruhi biaya dan umur pakai. Konstruksi logam (besi galvanis) memiliki daya tahan paling tinggi dan mendukung pemasangan sistem kendali iklim, namun berbiaya mahal dan memerlukan perawatan. Konstruksi non-logam meliputi bambu (murah, mudah didapat, umur pakai pendek) dan kayu (lebih awet, sanitasi lebih baik, cocok untuk wilayah Indonesia Tengah dan Timur). material Screen House kayu adalah kayu yang tahan air, seperti bengkirai dan ulin.
Model Bangunan Screen House
- Model Tunnel: struktur kuat dan tahan angin, tetapi ventilasi terbatas sehingga perlu alat pendingin di daerah tropis.
- Model Piggy Back (tropical Screen House): banyak ventilasi atap, cocok untuk iklim tropis, namun kurang tahan angin kencang.
- Model Campuran: menggabungkan kekuatan dan ventilasi maksimal, umum digunakan pada skala besar. Terdiri dari singlespan (unit tunggal, biaya per m² lebih tinggi) dan multispan (gabungan unit, lebih efisien dan kuat, membutuhkan ventilasi optimal).
Sarana Pendukung Screen House
Shading net/paranet untuk mengatur intensitas cahaya, peralatan irigasi dapat berupa drip irrigation atau irigasi tetes, fogger, sprinkler, mist blower serta cooling pad yang penggunaannya disesuaikan dengan jenis komoditas yang akan ditanam. Lampu tambahan untuk komoditas membutuhkan penyinaran lebih dari 12 jam. Bedengan, serta rak tanaman untuk budidaya pot yang efisien.
Screen House adalah solusi smart farming efektif untuk meningkatkan kualitas, produktivitas, dan daya saing hortikultura bernilai ekonomi tinggi. (WD 2026)
Sumber
- Haryati, S. dkk. (2024). Pedoman teknis pembangunan screen house buah. Pertanian Press.
https://epublikasi.pertanian.go.id/pertanianpress/catalog/view/108/109/1014 - Rizki, A. (2025). Budidaya melon (Cucumis melo L.) menggunakan sistem irigasi tetes di dalam screen house.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26231 - Narulita, H. (2025). Teknik budidaya pakcoy (Brassica rapa L.) pada screen house 5 Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Lembang
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26301





