Pengeringan gabah pada musim hujan menjadi tantangan utama karena tingginya kadar air yang berisiko menurunkan kualitas dan daya simpan gabah. Untuk itu, cara pengeringan yang tepat, khususnya pada musim hujan, sangat penting untuk menjaga kualitas gabah dan mencegah kerusakan selama penyimpanan.
Pada musim hujan gabah yang baru dipanen sering kali belum dikeringkan dengan baik karena kurangnya sinar matahari dan tingginya kelembapan udara. Jika dibiarkan terlalu lama dalam kondisi basah, gabah mudah berjamur, berubah warna, dan mutunya menurun. Dampaknya bukan hanya pada kualitas beras, tetapi juga pada pendapatan petani.
Banyak petani yang masih menyimpan gabah basah lebih dari tiga hari setelah perontokan. Padahal, penanganan pascapanen yang tepat sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Penggunaan mesin perontok (power thresher) saat panen saja sudah mampu mengurangi kehilangan hasil hingga sekitar 9 persen. Namun, tanpa pengeringan yang baik, potensi kerugian tetap besar.
Pentingnya Pengeringan Gabah
Tujuan utama pengeringan adalah menurunkan kadar air gabah dari sekitar 20–26 persen menjadi 13–14 persen agar aman disimpan. Gabah dengan kadar air tinggi sebaiknya tidak disimpan terlalu lama, apalagi saat cuaca lembap. Kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan jamur, munculnya beras butir kuning, serta penurunan mutu beras.
Panen raya biasanya bertepatan dengan musim hujan. Karena itu, penggunaan pengering buatan (dryer) atau pengering berbahan bakar sekam menjadi pilihan penting. Namun, ketika sarana tersebut belum tersedia, petani masih memiliki alternatif lain untuk menjaga gabah tetap aman.
Teknologi Pengering dengan Tungku Biomassa
Teknologi pengering ini mengombinasikan energi matahari dengan biomassa, seperti sekam padi, sebagai sumber panas. Prinsip kerjanya adalah menghasilkan aliran udara panas dengan tingkat kelembapan rendah yang kemudian dialirkan secara terkontrol ke tumpukan gabah. Dengan sistem tersebut, proses pengeringan tidak sepenuhnya bergantung pada sinar matahari langsung, sehingga dapat dilakukan meskipun cuaca mendung atau hujan.
Keunggulan utama teknologi ini terletak pada efisiensi energi dan kestabilan proses pengeringan. Gabah dapat dikeringkan lebih cepat dan merata, sehingga risiko kerusakan akibat jamur dan fermentasi dapat ditekan. Selain itu, pemanfaatan biomassa lokal, seperti sekam padi menjadikan biaya operasional relatif terjangkau sekaligus ramah lingkungan. Bagi petani serta pelaku penggilingan padi skala kecil hingga menengah, teknologi ini menjadi solusi strategis untuk menjaga mutu gabah sepanjang musim, termasuk pada musim penghujan.
Menyimpan Gabah Basah dengan Bantuan Garam
Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah menyimpan gabah basah dengan bantuan garam dapur (NaCl) untuk menyerap kelembapan sehingga dapat menekan kerusakan gabah selama masa penyimpanan sementara. Langkah-langkah yang perlu dilakukan sebagai berikut:
- Tentukan jumlah gabah basah yang akan disimpan. Setelah itu, siapkan garam dapur sebanyak 1,5–2 % dari berat gabah basah.
- Siapkan kotak kayu yang bersih sebagai tempat mencampur gabah dan garam. Selain itu, sediakan wadah bersih, seperti plastik, kotak kayu, bak, atau keranjang bambu.
- Masukkan gabah basah ke dalam kotak kayu, lalu tambahkan garam sesuai kebutuhan, yaitu (1) 1,5% dari berat gabah basah untuk penyimpanan sekitar 37 hari dan (2) 2% dari berat gabah basah untuk penyimpanan lebih lama, hingga 70 hari.
- Aduk dan campur gabah dengan garam sampai merata. Setelah itu, pindahkan gabah campur ke dalam karung plastik atau wadah penyimpanan yang tersedia.
Gabah basah yang sudah dicampur garam dapat disimpan hingga 70 hari. Jika harus disimpan lebih lama, gabah perlu segera dijemur agar kerusakan tidak semakin parah. Perlakuan ini mampu menurunkan persentase beras butir kuning secara signifikan dibandingkan gabah tanpa perlakuan.
Dengan mengintegrasikan teknologi modern atau praktik sederhana, kerusakan gabah basah dapat ditekan secara signifikan. Pada akhirnya, upaya ini bukan hanya menjaga mutu beras nasional, tetapi juga meningkatkan ketahanan usaha tani padi dan kesejahteraan petani di tengah tantangan perubahan iklim dan cuaca ekstrem. (QAR, 2026).
Sumber
- Badan Litbang Pertanian. (1999). Cara penanganan gabah basah di musim penghujan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Yogyakarta. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/16330
- Maryana, Y. E., & Meithasari, D. (2017). Mekanisme dan kinerja alat pengeringan gabah di lahan rawa. . Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Lampung. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6941
- Zhang, R., Wang, Y., Hussain, S., Yang, S., Li, R., Liu, S., Chen, Y., Wei, H., Dai, Q., & Hou, H. (2022). Study on the Effect of Salt Stress on Yield and Grain Quality Among Different Rice Varieties. Frontiers in Plant Science, 13, 918460. https://doi.org/10.3389/FPLS.2022.918460/BIBTEX





