Di tengah urbanisasi yang pesat dan menyusutnya ruang hijau, muncul solusi sederhana namun berdampak besar bagi lingkungan: biopori. Hanya berupa lubang kecil di tanah, biopori mampu menjawab berbagai tantangan sekaligus mulai dari menyuburkan lahan, mengolah sampah dapur menjadi pupuk alami, hingga mencegah genangan air. Teknologi ini hadir sebagai cara cerdas, murah, dan mudah dilakukan oleh siapa saja, bahkan dari halaman rumah sendiri.
Apa itu biopori?
Lubang Resapan Biopori (LRB) adalah lubang silindris vertikal yang dibuat ke dalam tanah, berdiameter 10–30 cm dan kedalaman hingga 100 cm. Meski tampak sederhana, lubang ini menyimpan kekuatan besar untuk meningkatkan daya serap air hujan, menyuburkan tanah, dan mengolah sampah organik langsung dari halaman.
Biopori sebenarnya meniru proses alami yang terjadi di dalam tanah. Cacing, semut, akar tanaman, dan mikroorganisme membentuk jaringan saluran kecil yang membuat air lebih mudah meresap. Cukup memasukkan sampah organik seperti sisa makanan atau daun kering ke dalam lubang biopori, aktivitas biota tanah akan semakin hidup dan aktif. Hasilnya? Air hujan cepat terserap, tidak menggenang, tanah menjadi gembur dan subur, serta cadangan air tanah meningkat.
Lubang biopori bekerja seperti "dapur bawah tanah". Saat sampah organik seperti sisa makanan atau daun kering dimasukkan ke dalamnya, mikroorganisme dan hewan tanah akan menguraikan bahan tersebut menjadi humus, pupuk alami kaya nutrisi yang sangat dibutuhkan tanaman.
Cara biopori dalam menyuburkan tanah dan tanaman
- Menghasilkan pupuk alami (kompos) yang dihasilkan dari sampah organik sehingga tanaman di sekitar biopori akan mendapatkan nutrisi dari hasil dekomposisi sampah organik.
- Meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah yang bekerja untuk menjaga kesuburan tanah secara alami.
- Meningkatkan porositas tanah menjadi lebih gembur dan tidak padat, sehingga akar tanaman dapat tumbuh lebih baik dan lebih dalam.
- Memperbaiki drainase alami agar air yang menggenang dapat meresap lebih cepat ke dalam tanah untuk mengurangi risiko banjir dan menjaga kelembaban tanah secara alami.
- Mencegah erosi karena tanah lebih stabil dan tidak mudah terkikis.
Manfaat Ganda: Dari Sampah Jadi Pangan
Salah satu kekuatan utama biopori adalah kemampuannya mengubah masalah menjadi solusi dan menyulap limbah jadi berkah. Dengan biopori, sampah organik seperti sisa sayur, kulit buah, atau daun kering tak lagi berakhir di tempat sampah, melainkan berubah menjadi pupuk alami yang menyuburkan tanaman di sekitar rumah Sampah organik yang biasanya dibuang ke tempat sampah kini bisa langsung diolah di halaman rumah menjadi pupuk alami.
Alih-alih membuang sisa sayur, kulit buah, atau daun kering, kita cukup memasukkannya ke dalam lubang biopori. Cukup masukkan limbah dapur ke dalam lubang biopori, dan biarkan alam bekerja. Dalam hitungan minggu, sampah tersebut terurai menjadi humus yaitu pupuk kaya nutrisi tanpa biaya tambahan, tanpa bahan kimia, dan tanpa repot. imia. Ini merupakan langkah konkret menuju pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih bijak sekaligus mendukung pertanian perkotaan (urban farming).
Jika diterapkan secara luas, biopori bisa menjadi kunci sederhana dalam memperkuat ketahanan pangan kota, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia dan memperbaiki ekosistem tanah yang sehat dan berkelanjutan.
Langkah pembuatan luang biopori
- Pilih lokasi strategis dimana seperti area yang sering tergenang air.
- Gali tanah dengan kedalaman hingga 100 cm dan diameter 10–30 cm (disesuaikan dengan kondisi tanah).
- Lapisi dengan pipa PVC yang sudah disesuaikan dengan ukuran lubang biopori.
- Isi lubang dengan sampah organik, seperti sisa makanan, kulit buah, daun kering, atau limbah dapur lainnya.
- Tutup bagian atas lubang dengan penutup sederhana (bisa pakai tutup paralon berlubang) agar tidak menjadi sarang nyamuk.
- Tambahkan sampah organik secara berkala (setiap 2–3 hari) dan biarkan mikroorganisme bekerja.
Banyak kota di Indonesia mulai mengadopsi lubang resapan biopori sebagai bagian dari gerakan penghijauan dan pengelolaan air berkelanjutan. Sekolah, perkantoran, dan komunitas warga kini bisa menjadi bagian dari solusi lingkungan melalui langkah sederhana ini. Biopori bukan hanya soal lubang di tanah, tapi simbol dari kesadaran baru bahwa lingkungan sehat dimulai dari pekarangan sendiri.
Di era ketika teknologi yang sering menawarkan solusi mahal dan kompleks, biopori hadir sebagai bukti bahwa perubahan besar bisa datang dari tindakan kecil. Satu lubang sederhana bisa menyuburkan tanaman, mengurangi sampah rumah tangga, memperbaiki kualitas dan struktur tanah, serta menjaga cadangan air tanah tetap tersedia.
Biopori mencerminkan gaya hidup yang bertanggung jawab tanpa limbah, tanpa boros air, dan tanpa ketergantungan pada bahan kimia. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran, kemauan dan konsistensi.
Bayangkan jika setiap rumah di kota memiliki dua atau tiga lubang biopori. Dalam waktu singkat, kita bukan hanya akan melihat kota yang lebih hijau, tapi juga merasakan udara yang lebih sejuk, tanah yang lebih sehat, dan generasi yang lebih peduli pada lingkungan. (QAR, 2025)
Sumber
- Gusti Aji, T., Resapan Biopori untuk Meningkatkan Kapasitas Penyimpanan Air di Daerah Perakaran Jeruk Keprok, L., Norry Eka Palupi Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika, dan, Raya Tlekung No, J., & Timur, J. (2021). Lubang Resapan Biopori untuk Meningkatkan Kapasitas Penyimpanan Air di Daerah Perakaran Jeruk Keprok (Citrus reticulata). Jurnal Hortikultura, 30(1), 41. https://repository.pertanian.go.id/items/23684676-3e68-45d3-9f54-49e39b288bb8
- Mulyandari, R. S. H., Sunusi, M. A., Purwaningsih, Y., Hermami, A., Setiawan, A., Razak, A., Pratiwi, R. C., & Steviano, O. (2022). Adaptasi dan Mitigasi Dampak Perubahan Iklim Subsektor Hortikultura. Jurnal Hortikultura, 30(1), 41. https://repository.pertanian.go.id/items/3b6322ac-d567-4a35-beb2-46c50200e9e3






