Meski berukuran kecil, hama WBC dapat menyebabkan kerusakan yang signifikan, mulai dari mengisap cairan tanaman hingga menyebarkan penyakit virus yang berpotensi menurunkan hasil panen, bahkan memicu puso. Pengendalian secara terpadu merupakan langkah cerdas menekan serangan hama ini sekaligus menjaga ekosistem sawah.
Wereng batang cokelat (WBC) merupakan salah satu hama utama pada tanaman padi di Indonesia. Serangan WBC mampu menyebabkan kerusakan yang luas bahkan mengakibatkan gagal panen (puso). Hama ini mampu berkembang biak dengan cepat dan menyebar dalam waktu singkat.
Perkembangan populasi WBC (Nilaparvata lugens) dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti penggunaan varietas padi yang rentan, pola tanam yang tidak serempak, perubahan iklim, serta penggunaan insektisida yang kurang bijaksana. Penggunaan insektisida tidak sesuai anjuran memicu resistensi WBC terhadap bahan aktif tertentu dan mengurangi populasi musuh alami. Oleh karena itu. Pemahaman mengenai biologi, ekologi, dan teknik dalam pengendalian WBC sangat diperlukan.
Karakteristik WBC
Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan WBC pada tanaman padi tidak hanya berasal dari aktivitasnya sebagai hama pengisap cairan tanaman, tetapi juga dari perannya sebagai vektor penyebar penyakit virus. Kerugian yang ditimbulkan oleh serangan WBC pada tanaman padi tidak hanya dari aktivitasnya. Sebagai hama, WBC menyerang tanaman padi dengan cara menghisap cairan tanaman pada sistem vaskular, menyebabkan tanaman kehilangan nutrisi , daun menguning, pertumbuhan terhambat dan cepat sekali mengering dan mati seperti terbakar (hopperburn). Selain itu, WBC juga menjadi vektor dua penyakit penting pada padi, yaitu penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa. Serangan kedua penyakit tersebut biasanya muncul mengelompok pada satu hamparan sawah.
WBC berukuran sangat kecil. Hidup di bagian pangkal batang atau pelepah padi, tempat yang lembap dan terlindung. Ketika populasinya meningkat, individu dewasa bersayap dapat ditemukan hingga ke bagian daun.
Perubahan warna tubuh WBC mengikuti fase pertumbuhannya. Nimfa muda berwarna putih, kemudian berubah menjadi kekuningan, cokelat muda, hingga cokelat tua saat dewasa. Seekor betina mampu menghasilkan sekitar 100–600 butir telur dengan siklus hidup hanya sekitar 28 hari. Kombinasi antara tingkat reproduksi yang tinggi, siklus hidup yang pendek, dan kemampuan bermigrasi menjadikan WBC sebagai salah satu hama yang paling cepat mengalami ledakan populasi.
Faktor yang Memicu Ledakan Populasi
Perkembangan WBC yang pesat didorong oleh beberapa faktor utama. Perubahan iklim menjadi salah satu penyebab penting. Peningkatan suhu dan perubahan pola curah hujan menciptakan kondisi yang lebih sesuai bagi perkembangan serangga, sehingga tingkat serangan hama cenderung meningkat. Risiko ledakan populasi juga dipicu oleh penanaman varietas yang sama dan memiliki ketahanan rendah terhadap WBC. Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah pola tanam yang tidak serempak. Adanya tanaman padi dengan umur berbeda dalam satu kawasan menyebabkan sumber makanan selalu tersedia sepanjang waktu dan memungkinkan WBC terus berkembang.
Pentingnya Monitoring Sejak Dini
Keberhasilan pengendalian WBC sangat bergantung pada kegiatan pemantauan atau monitoring sejak awal pertanaman. Monitoring bertujuan mengetahui jumlah populasi WBC dibandingkan dengan ambang ekonomi. Dalam praktiknya, banyak petani baru menyadari keberadaan WBC ketika tanaman mulai mengalami gejala hopperburn. Pada kondisi tersebut populasi WBC umumnya telah memasuki generasi ketiga dengan kepadatan mencapai sekitar 400–1.000 ekor per 22 rumpun padi. Populasi yang sangat tinggi dan terdiri atas berbagai stadia perkembangan (telur, nimfa, dan dewasa) menyebabkan pengendalian menjadi jauh lebih sulit dan kurang efektif.
Pengendalian Terpadu Menjadi Solusi Terbaik
Pengendalian WBC tidak dapat mengandalkan insektisida semata. Pendekatan yang paling efektif adalah pengendalian hama terpadu (PHT). Penggunaan insektisida harus dilakukan berdasarkan prinsip enam tepat, yaitu tepat sasaran, tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat cara aplikasi, dan tepat mutu. Penggunaan yang tidak sesuai justru dapat mempercepat munculnya resistensi WBC serta menyebabkan kematian musuh alami. Beberapa bahan aktif yang masih digunakan dalam pengendalian WBC, antara lain piymetrozine, dinotefuran, imidakloprid, fipronil, dan tiametoksam.
Di sisi lain, pelestarian musuh alami merupakan komponen penting dalam pengendalian yang berkelanjutan. Berbagai predator alami, seperti laba-laba, kumbang koksi (Coccinellidae), Ophionea spp., Paederus spp., kepik predator Cyrtorhinus spp., predator akuatik, parasitoid telur dan nimfa, serta cendawan entomopatogen terbukti mampu membantu menekan perkembangan populasi WBC secara alami.
Upaya pengendalian yang efektif melalui penerapan PHT mampu menekan populasi WBC dan menjaga stabilitas hasil panen.
Sumber
- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Sulawesi Selatan. (2019). Wereng batang coklat. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/8699
- Mahfud, M. C. (2019). Potensi pengelolaan tanaman padi secara terpadu dalam mengendalikan hama wereng batang coklat: Orasi purna tugas. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/7110
- Tim Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. (2023). Teknik mengendalikan hama dan penyakit padi. Edisi revisi. Pertanian Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22258




