Selama ini, jawawut, hotong, atau sekoi lebih dikenal sebagai pakan burung. Padahal, serealia berbiji kecil ini memiliki potensi besar sebagai sumber pangan dan pakan alternatif. Di Pulau Biak dan Numfor, Papua, jawawut yang dikenal sebagai pokem telah lama menjadi sumber karbohidrat masyarakat secara turun-temurun.
Jawawut (Setaria italica) merupakan salah satu serealia lokal Indonesia yang telah lama dibudidayakan, khususnya di Pulau Biak dan Numfor, Papua. Meski memiliki nilai gizi dan potensi ekonomi yang tinggi, pemanfaatan jawawut di Indonesia masih relatif terbatas dan lebih dikenal sebagai pakan burung.
Di tengah meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk dan tantangan perubahan iklim, jawawut menjadi salah satu komoditas yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan nasional. Tanaman ini menghasilkan biji yang kaya karbohidrat dan dapat diolah menjadi berbagai produk pangan, sehingga dapat menjadi alternatif selain beras dan jagung.
Karakteristik Jawawut
Secara morfologi, jawawut merupakan tanaman serealia semusim dengan batang tegak yang ramping, terkadang bercabang, dan berwarna sedikit ungu. Sistem perakarannya padat sehingga mampu beradaptasi pada lahan kering maupun lahan marginal. Jawawut dapat tumbuh di daerah semi kering dengan curah hujan rendah, hingga ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut. Umur panennya relatif singkat, berkisar antara 60–120 hari tergantung varietas, sehingga berpotensi mendukung intensifikasi pertanian.
Daun-daun tunggalnya tumbuh berseling membentuk garis atau pita panjang yang meruncing di ujung dengan pelepah yang sedikit berambut serta lidah (ligula) pendek yang berjumbai. Bagian yang paling mencolok adalah perbungaannya berupa malai rapat berambut yang panjangnya dapat mencapai 30 sentimeter, kemiripan bentuk inilah yang membuat orang Inggris menjulukinya sebagai "foxtail millet" (milet ekor rubah).
Karakter fisiknya yang kokoh membuat jawawut sangat ramah terhadap lahan marginal atau lahan kering. Sifatnya tangguh menghadapi kondisi semi-kering dan dapat dipanen dalam waktu singkat, yaitu setiap tiga hingga empat bulan. Artinya, petani dapat memperoleh dua sampai tiga kali masa panen dalam setahun.
Keunggulan Nutrisi yang Menyaingi Jagung
Selain sebagai sumber pangan manusia, jawawut juga berpeluang besar dikembangkan sebagai bahan baku pakan ternak unggas. Komoditas ini muncul sebagai kandidat pengganti ideal pakan karena memiliki karakteristik kimiawi dan nilai gizi yang hampir setara dengan jagung. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, biji jawawut Papua mengandung karbohidrat yang sangat tinggi, yakni mencapai 83,99 persen. Kandungan proteinnya menyentuh angka 12,07 persen, diikuti lemak 2,76 persen, serat kasar 1,93 persen, serta energi metabolis sebesar 3.139 kkal/kg.
Lebih dari itu, jawawut kaya akan vitamin A, C, D, vitamin B kompleks, serta mineral penting seperti kalsium, zat besi, seng, magnesium, dan senyawa bioaktif antioksidan berupa vitamin E serta beta-karoten. Meskipun memiliki senyawa antinutrisi alami seperti fitat sebesar 3,07 persen dan tanin sebesar 0,01 persen, kadar tersebut terbukti masih berada dalam batas aman dan tidak mengganggu produktivitas maupun kesehatan ternak.
Langkah awal untuk membawa jawawut ke panggung nasional telah dirintis melalui eksplorasi plasma nutfah di berbagai provinsi. Melalui analisis klasterisasi berbasis karakter agromorfologi, kekayaan genetika ini dikelompokkan untuk mengidentifikasi hubungan kekerabatan tanaman guna mempermudah perakitan varietas unggul baru yang lebih produktif. Pemanfaatan potensi jawawut secara luas diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap jagung impor, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan komoditas lokal demi mewujudkan kedaulatan pangan nasional. (QAR, 2026).
Daftar Pustaka
- Andriani, I. Nurhafsah, Hikmawati, Sumiati, Andriani, I., & Rahasia, H. (2025). Tarreang, pangan lokal bernilai tinggi yang terpinggirkan. Buletin Teknologi & Inovasi Pertanian, 4(3), 23–28. https://epublikasi.pertanian.go.id/berkala/btip/article/view/4431
- Tatuhey, D. M. D., & Masbaitubun, H. (2018). Klasterisasi beberapa aksesi jawawut dalam mendukung perakitan varietas unggul. In Prosiding Seminar Nasional: Mewujudkan Kedaulatan Pangan Melalui Penerapan Inovasi Teknologi Pertanian Spesifik Lokasi pada Kawasan Pertanian (pp. 638–645). Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/8837
- Tirajoh, S. (2018). Pemanfaatan jawawut (Setaria italica) asal Papua sebagai bahan pakan pengganti jagung. Wartazoa, 25(3), 117–124. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/4581





