Kualitas buah tidak ditentukan ketika tersedia di pasar atau konsumen, melainkan sejak pertama panen. Pisang memiliki laju respirasi dan produksi gas etilen yang cepat. Oleh karenanya pisang termasuk dalam buah yang dapat dipanen ketika mentah. Cara memotong tandan yang salah dapat menciptakan goresan dan benturan yang dapat mempercepat kerusakan, memperpendek umur simpan, bahkan menurunkan harga jual. Panen dan pascapanen menjadi bagian penting penentu keberhasilan usaha tani pisang, penerapan teknik dan alat panen yang sesuai adalah kunci cerdas penghasil mutu pisang berkualitas.
Pisang termasuk dalam buah klimakterik, yaitu buah yang mengalami lonjakan respirasi dan produksi gas etilen saat proses pematangan. Ketika dipanen, pisang akan terus melakukan proses respirasi sehingga mudah mengalami pematangan dan kerusakan. Oleh karena itu, setiap tahapan penanganan harus dilakukan secara tepat agar kesegaran tetap terjaga, umur simpan lebih panjang, dan nilai ekonominya meningkat. Penanganan pascapanen meliputi kegiatan panen, sortasi, pencucian, pengeringan, pemeraman, pengemasan, hingga pengangkutan secara benar. Rangkaian kegiatan tersebut bertujuan menekan kerusakan hasil sekaligus mempertahankan mutu buah sampai ke konsumen.
Teknologi dalam Panen dan Pascapanen Pisang
Dalam memanen pisang, langkah pertama penentu keberhasilan adalah pemilihan waktu panen yang tepat. Buah pisang dapat dipanen ketika telah mencapai tingkat ketuaan optimal, yaitu sekitar 80 hari setelah berbunga. Ciri pisang siap panen diantaranya adalah sudut-sudut buah mulai membulat, perbandingan daging dan kulit telah sesuai, dan ujung tandan mulai rapuh. Tahap pemanenan kemudian dapat dilakukan secara hati-hati seperti dengan memotong batang, menahan tandan agar tidak terjatuh, dan mengangkut menuju tempat penampungan tanpa menimbulkan benturan pada buah.
Perkembangan teknologi kini telah banyak membantu petani dalam proses pemanenan, terutama dalam panen pisang. Pisang dipanen dengan teknik dan bantuan alat tertentu untuk memaksimalkan mutu buah yang lebih baik. Pada tahap prapanen, buah pisang yang telah tumbuh menuju masak dapat dilindungi dengan plastik pembungkus untuk mengurangi potensi penularan penyakit layu dan perlindungan dari serangga. Pemasangan plastik dapat menggunakan alat pembungkus tandan pisang untuk pembungkusan tandan dari bawah tanpa menggunakan tangga. Alat ini terdiri atas plastik pembungkus, cincin, dan tali yang dapat disesuaikan dengan tinggi dan kemiringan tandan.
Saat panen, inovasi alat yang digunakan pertama kali adalah alat pemetik buah pisang. Alat pemetik berbentuk galah yang dapat dibongkar pasang dan telah dilengkapi dengan pembungkus plastik pada bagian ujung. Alat ini memungkinkan buah pisang yang telah terpotong tandannya dapat langsung tertampung dalam plastik, sehingga meminimalisir bahkan terhindar dari benturan maupun kontak dengan getah pisang, getah yang berkontak dengan buah dapat menjadi media penularan penyakit. Alat pemetik sederhana ini dapat diterapkan baik pada kebun pisang skala kecil maupun perkebunan komersil, dan bermanfaat mempercepat proses panen, dan mengurangi kehilangan hasil.
Setelah tandan dipanen, proses selanjutnya adalah penyisiran, buah pisang dipisahkan dari tandan menjadi kelompok kecil (sisir). Penyisiran secara tradisional sering kali menyebabkan luka pada buah, terutama apabila susunan sisir dalam tandan cukup rapat. Penggunaan alat penyisir pisang menjadi solusi untuk melepaskan sisir dari tandannya dengan hasil potongan yang lebih rapi tanpa menimbulkan goresan, memar, ataupun luka. Keunggulan tersebut sangat penting karena kerusakan sekecil apapun dapat mempercepat pembusukan dan menurunkan mutu buah.
Setelah penyisiran, tahap pasca panen selanjutnya adalah sortasi dan grading buah sesuai standar mutu pasar. Buah dicuci untuk menghilangkan getah dan kemudian dikering-anginkan, pada skala besar proses pengeringan dapat juga menggunakan mesin pengering. Jika diperlukan, pemeraman buah dapat dilakukan untuk mengatur tingkat kematangan. Apabila pasar menginginkan kematangan seragam dalam jumlah besar, proses pemeraman dapat menggunakan tambahan gas etilen yang mampu merangsang pematangan secara alami.
Pisang yang siap dipasarkan selanjutnya dikemas menggunakan kemasan seperti karton bergelombang (corrugated fibre box), styrofoam, dan keranjang plastik atau peti yang dilengkapi lapisan lembaran plastik berlubang (perforator). Pelapisan bagian dalam kemasan bermanfaat untuk mengurangi gesekan antar buah sekaligus menambah kekuatan wadah kemasan. Selama proses pengangkutan dan distribusi, kondisi buah harus benar-benar terjaga agar bentuk fisik tidak mengalami kerusakan yang dapat menurunkan nilai jual.
Implementasi inovasi teknologi berupa alat bantu panen dan pasca panen memberikan dampak nyata dalam kemudahan pekerjaan petani sekaligus meningkatkan standar mutu hasil panen. Kualitas fisik buah pisang dapat terjaga mulai dari pencegahan penyakit dan serangga saat prapanen, minimalisir kerusakan dan memar buah, hingga mempertahankan kesegaran dan umur simpan yang maksimal. Dengan begitu, peningkatan peluang, daya saing pasar, dan kesejahteraan ekonomi petani dapat terwujud. (AM’2026)
Sumber:
- Anomsari, S.D., dkk.(2023). Petunjuk teknis panen dan pascapanen pisang terstandar. Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Jawa Tengah. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/23499
- Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. (2018). 600 teknologi inovatif pertanian. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5361








