Tongkol jagung kerap dipandang sebagai sisa panen yang tak bernilai, menumpuk di lahan atau berakhir sebagai limbah. Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, tersimpan peluang inovasi pertanian yang menjanjikan. Melalui inovasi pengolahan yang mudah dan murah, tongkol jagung dapat disulap menjadi media tanam jamur merang yang efektif, ramah lingkungan, dan berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi petani.
Jagung merupakan komoditas pangan strategis di Indonesia yang kaya karbohidrat, protein, serta berbagai komponen gizi penting lainnya. Selain sebagai bahan pangan, jagung juga dimanfaatkan untuk pakan ternak, bahan baku industri, dan bioenergi. Namun, limbah budi daya jagung seperti tongkol, batang, dan klobot yang jumlahnya mencapai 20–30% dari total produksi masih belum dikelola secara optimal. Padahal, limbah tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai media tanam jamur yang mudah diterapkan, berbiaya rendah, bahan dan alatnya sederhana, dan mampu memberikan nilai tambah serta meningkatkan pendapatan petani.
Budi Daya Jamur dengan Media Tongkol Jagung
Persiapan tempat (kotak). Tempat untuk meletakkan tongkol jagung dibuat dari papan atau sisa bangunan yang tidak terpakai, seperti talang, baja ringan, hebel, dan lain-lain. Kotak media jamur merang dibuat memanjang ukuran 1 m x 3 m dengan ketinggian 20−30 cm dan diatur sesuai kebutuhan.
Penempatan kotak media. Kotak media diberi alas karung beras, karung goni, atau bahan sejenis lainnya untuk menjaga suhu dan kelembapan media. Kotak diletakkan di dalam rumah atau tempat yang terhindar dari paparan sinar matahari secara langsung maupun hujan. Tempat budi daya harus terjaga kebersihan dan kelembapannya agar jamur merang dapat tumbuh optimal.
Bahan. Bahan yang diperlukan, yaitu tongkol jagung yang sudah hancur sebanyak 100 kg, ragi tape 250 g (1 bungkus), pupuk urea 2 kg, dan dedak halus/ bekatul 4 kg. Campur ragi tape, pupuk urea, dan dedak halus/ bekatul secara merata. Tongkol jagung dimasukkan setengah bagian ke dalam kotak dengan tinggi 15–20 cm dan ratakan dengan baik. Campuran ragi tape, pupuk urea, dan dedak halus/bekatul selanjutnya ditaburkan ke atas permukaan tongkol jagung. Dengan proses yang sama, kemudian ditambahkan lagi tongkol jagung setengah bagian lainnya di atasnya hingga ketinggian 20 cm secara merata dan taburkan campuran ragi tape, pupuk urea, dan dedak halus/ bekatul ke atas permukaan tongkol jagung yang baru. Pengulangan ini dilakukan untuk memastikan agen jamur merang dan tongkol jagung tercampur merata.
Perawatan. Lakukan penyemprotan air sebanyak 4 ember dengan menggunakan handsprayer secara merata. Usahakan kelembapan tetap terjaga, tidak terlalu basah dan tidak terlalu kering. Tongkol jagung ditutup dengan menggunakan terpal/ plastik yang berwarna gelap secara menyeluruh, rapat, dan sempurna agar terjaga kelembapan udaranya. Pengecekan dilakukan setiap 2–3 hari sekali dengan, membuka penutup terpal dan mengontrol kelembapannya. Jika terlalu kering lakukan penyemprotan air secara hati-hati. Jika suhu tinggi, buka penutup agar suhu tetap stabil, lalu tutup kembali dengan rapat.
Panen. Ciri-ciri jamur merang siap panen memiliki ukuran seragam, bentuk seperti pentol korek api namun lebih besar, berwarna putih/ krem bersih, segar, dan tidak layu. Masa panen jamur merang bervariasi 10–14 hari tergantung dari kondisi media, kelembapan, dan faktor lingkungan lainnya. Pemanenan dilakukan secara perlahan dan hati-hati menggunakan pisau, gunting, atau tangan dengan cara memotong atau mencabut jamur tanpa merusak media tumbuh jamur merang yang masih kecil, kemudian ditempatkan pada wadah yang bersih.
Produksi rata-rata jamur merang antara 1–1,5 kg per kotak ukuran 3 m x 1 m dengan frekuensi panen dua kali dalam sebulan. Siklus budi daya jamur berakhir saat produksi mulai menurun. Sisa tongkol jagung dari media tanam selanjutnya dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik atau bahan baku energi terbarukan (syngas) melalui proses gasifikasi, sehingga mendukung sistem pertanian berkelanjutan.
Prospek Ekonomi Jamur Merang
Pemasaran jamur relatif mudah karena dapat diterima oleh berbagai kalangan. Cita rasanya yang lezat, teksturnya yang kenyal dan lembut, serta manfaat kesehatannya menjadi daya tarik utama konsumen. Jamur merang dapat dipasarkan melalui pasar tradisional, pasar modern, maupun secara daring melalui media sosial, seperti Facebook, Instagram, TikTok, dan WhatsApp, sehingga jangkauan pasar semakin luas hingga ke berbagai daerah.
Peluang agribisnis jamur merang berbasis media tongkol jagung masih sangat menjanjikan. Budi dayanya relatif mudah, biaya produksi rendah, dan harga jualnya cukup tinggi serta diminati berbagai kalangan. Pemanfaatan tongkol jagung sebagai media tanam jamur merang menunjukkan bahwa solusi pertanian tidak selalu harus mahal dan rumit. Inovasi sederhana ini mampu mengubah limbah pascapanen menjadi sumber nilai tambah, membuka peluang usaha yang mudah diterapkan, serta memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga petani. Dengan dukungan pengetahuan, kreativitas, dan kemauan untuk berinovasi, tongkol jagung tidak lagi sekadar sisa panen, melainkan awal dari peluang agribisnis yang menjanjikan dan berkelanjutan juga membuka peluang peningkatan pendapatan dan kesejahteraan keluarga petani, sekaligus menginspirasi petani lain untuk menerapkan.(HS2025).
Sumber
Harmoko. (2024). Meraih cuan dari limbah tongkol jagung. Buletin Teknologi dan Inovasi Pertanian, 3(3), 11−15. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/24624





