Di Indonesia, pohon sawo tumbuh subur di pekarangan rumah, tepi kebun, bahkan di pinggir jalan desa. Buahnya manis, dagingnya lembut, dan aromanya khas. Namun, di tengah gempuran buah impor dan varietas unggul baru, sawo justru semakin jarang dibicarakan. Padahal Sawo adalah buah lokal yang mudah dibudidayakan.
Sawo (Manilkara zapota L) sering disebut neesbery atau sapodilla, tergolong dalam famili Sapotaceae, merupakan tanaman buah yang berasal dari Guatemala (Amerika Tengah), Mexico dan Hindia Barat. Sawo termasuk tanaman buah yang relatif “ramah” bagi petani karena mampu tumbuh di berbagai kondisi lahan, tahan terhadap kekeringan, dan tidak membutuhkan perawatan intensif.
Tanaman sawo tumbuh optimal di daerah beriklim tropis dengan suhu 22–32°C, curah hujan sedang, serta tanah yang gembur dan memiliki drainase baik. Sawo dapat ditanam di dataran rendah hingga ketinggian sekitar 1200 m dpl. Bibit yang dianjurkan adalah bibit hasil okulasi atau cangkok karena lebih cepat berbuah dan kualitas buahnya seragam.
Kriteria bibit bermutu untuk ditanam di lapangan
- Diameter batang ±2 cm dan tinggi minimal 50 cm.
- Umur tanaman minimal 4 bulan setelah pindah ke polibag.
- Daun berwarna hijau dan tidak ada noda berwarna coklat atau menguning.
Penanaman sawo dilakukan dengan jarak tanam sekitar 9 × 9 m. Lubang tanam disiapkan terlebih dahulu, diisi campuran tanah dengan pupuk kandang dan dibiarkan selama 2 minggu sebelum bibit ditanam. Waktu tanam terbaik adalah awal musim hujan agar tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Perawatan tanaman sawo meliputi penyiraman, pemupukan, penyiangan, dan pemangkasan. Penyiraman dilakukan secara rutin pada tanaman muda, sedangkan tanaman dewasa cukup disiram saat musim kering. Pemupukan menggunakan pupuk kandang dan pupuk NPK secara berkala untuk menunjang pertumbuhan dan pembentukan buah. Pemangkasan dilakukan untuk membuang cabang yang rusak serta membentuk tajuk tanaman agar pertumbuhan lebih optimal.
Pengendalian hama dan penyakit
- Lalat buah (Dacus sp.), ditandai dengan bintik hitam pada kulit buah dan daging membusuk. Pengendalian dilakukan dengan sanitasi kebun, pemasangan perangkap lalat buah, serta penyemprotan insektisida.
- Kutu hijau (Lecanium viridis atau Coccus viridis) dan kutu cokelat (Saissetia nigra), menyerang ranting muda dan menghasilkan embun madu penyebab cendawan jelaga. Pengendalian dilakukan dengan penyemprotan insektisida langsung pada hama.
- Jamur jelaga, berupa lapisan hitam pada permukaan daun yang menghambat fotosintesis. Pengendalian dilakukan dengan memberantas serangga penghasil embun madu dan aplikasi fungisida sesuai dosis.
- Hawar benang putih, ditandai dengan daun mengering dan adanya benang-benang jamur pada batang dan cabang. Pengendalian dilakukan dengan mengurangi kelembapan kebun, memangkas bagian terserang, dan menyemprotkan fungisida.
Tanaman sawo hasil perbanyakan cangkok umumnya mulai berbuah pada umur 3–5 tahun, dan buah dapat dipanen sekitar 4–6 bulan setelah berbunga. Buah siap panen ditandai dengan warna kulit yang tampak kusam serta berkurangnya getah. Panen sebaiknya dilakukan menggunakan gunting agar buah tidak rusak dan kualitas tetap terjaga.
Setelah memasuki usia produktif, pohon sawo dapat berbuah secara rutin setiap tahun. Bahkan, banyak pohon sawo tua yang tetap produktif meskipun minim pemupukan dan perawatan intensif.
Sawo mungkin tidak tampil mencolok di etalase supermarket, namun ketangguhan dan kesederhanaannya menjadikannya buah lokal yang layak mendapat perhatian lebih. Dengan teknik budidaya yang tepat, tanaman sawo dapat menjadi sumber buah sehat sekaligus peluang usaha yang menjanjikan bagi petani dan pekebun rumahan. (QAR, 2026).
Sumber
Kuswandi. (2013). Petunjuk Teknis Budidaya Sawo. Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26165






