Buncis bukan sekadar sayuran pelengkap hidangan, tetapi juga komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi. Dengan teknik budi daya yang tepat, tanaman polong ini dapat menghasilkan panen yang berkualitas tinggi sekaligus keuntungan ekonomi yang menjanjikan.
Buncis (Phaseolus vulgaris) merupakan salah satu jenis sayuran polong yang banyak digemari masyarakat dan memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Tanaman ini termasuk dalam keluarga leguminosae (kacang-kacangan) dan umum dikonsumsi dalam bentuk polong muda. Di Indonesia, buncis banyak dibudidayakan oleh petani, khususnya di daerah dataran menengah hingga tinggi. Dengan memperhatikan teknik budi daya yang tepat, buncis dapat menghasilkan panen yang berkualitas tinggi dan menguntungkan secara ekonomi.
Tipe Pertumbuhan Buncis
Tanaman buncis berumur pendek dan memiliki dua tipe pertumbuhan, yaitu tipe tegak (bush bean) dan tipe merambat (pole bean). Kedua tipe ini memiliki teknik budidaya yang relatif serupa, namun buncis merambat memerlukan lanjaran atau turus sebagai penyangga karena pertumbuhannya yang menjalar.
Buncis tegak memiliki tinggi sekitar 60 cm dan tidak memerlukan lanjaran dalam budi dayanya, sehingga lebih hemat dalam hal biaya, terutama pengeluaran untuk penyangga tanaman. Penggunaan buncis tegak dapat mengurangi biaya produksi hingga sekitar 30%. Sementara itu, buncis merambat dapat tumbuh hingga mencapai 3 meter dengan percabangan dan jumlah buku bunga yang lebih banyak, sehingga memiliki potensi hasil yang lebih tinggi. Namun, karena sifat pertumbuhannya yang menjalar dan mudah rebah, tanaman ini membutuhkan lanjaran.
Budi Daya Buncis
Syarat Tumbuh
Buncis membutuhkan kondisi lingkungan yang sesuai agar dapat tumbuh optimal. Buncis tegak cocok ditanam di dataran menengah pada ketinggian 300–600 meter di atas permukaan laut (mdpl), sedangkan buncis merambat lebih sesuai di dataran tinggi dengan ketinggian 1.000–1.500 mdpl.
Buncis tumbuh optimal pada tanah andosol atau regosol yang subur, gembur, dan memiliki drainase yang baik, dengan pH tanah berkisar antara 6,0 hingga 7,0. Tanaman buncis peka terhadap kondisi ekstrem, seperti kekeringan maupun genangan air. Oleh karena itu, sistem irigasi dan drainase yang baik sangat penting untuk menunjang pertumbuhannya, terutama di musim kemarau atau musim hujan dengan curah tinggi.
Tahapan Budi Daya
- Penyediaan benih
Kebutuhan benih per hektar untuk buncis rambat sebanyak 20–30 kg dan 40–60 kg untuk buncis tegak. Pilih benih yang utuh, bersih, seragam, bebas hama dan penyakit, serta tidak tercampur varietas lain. - Persiapan lahan
Lahan dibersihkan dari gulma dan tanah digemburkan. Pengolahan tanah dilakukan sekitar satu minggu sebelum tanam, dengan pembuatan bedengan selebar 120–150 cm, tinggi 30 cm, dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Antar bedengan dibuat parit selebar 50 cm. Lakukan pengapuran jika pH tanah rendah dan pemupukan menggunakan pupuk organik dan anorganik sesuai kondisi lahan. Pemasangan mulsa dianjurkan untuk menekan pertumbuhan gulma yang dapat merugikan tanaman. - Penanaman
Jarak tanam untuk buncis tegak 30 cm × 40 cm, sedangkan buncis merambat 70 cm × 40 cm. Benih ditanam sedalam 3–8 cm dengan cara ditugal dan setiap lubang diisi dua biji. Di beberapa daerah, buncis ditumpangsarikan dengan jagung atau okra, yang dimanfaatkan sebagai lanjaran alami bagi tanaman buncis merambat. - Pemupukan
Pupuk dasar yang digunakan, yakni pupuk kandang kuda atau ayam sebanyak 15 ton/ha, TSP 250 kg/ha, dan KCl 250 kg/ha. Pupuk kandang diberikan dengan cara disebar dan diratakan saat pengolahan tanah. - Pemeliharaan
● Penyulaman dilakukan jika terdapat benih yang rusak atau tidak tumbuh, maksimal hingga 7–10 hari setelah tanam, untuk menjaga populasi tanaman tetap optimal agar target produksi tercapai.
● Penyiangan dilakukan dengan mencabut gulma secara manual atau menggunakan alat agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman.
● Pembumbunan bertujuan menutup akar yang terbuka dan memperkokoh tanaman, dilakukan dengan menimbunkan tanah di sekitar pangkal batang, biasanya bersamaan dengan penyiangan pertama.
● Pengairan pada awal pertumbuhan dilakukan setiap sore hingga benih tumbuh, kemudian disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman. - Pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT)
Sanitasi lahan dan sistem drainase yang baik perlu dilakukan. Pengendalian OPT sesuai empat prinsip dasar pengendalian hama terpadu (PHT), yaitu budi daya tanaman sehat, pemanfaatan musuh alami, pengamatan rutin atau pemantauan, dan petani terampil dalam pelaksanaan PHT. - Panen dan pascapanen
Buncis tipe tegak dipanen pada umur 60–70 hari, sementara tipe merambat 10–20 hari lebih lama, dengan 4–5 kali panen selama tiga bulan. Produksi buncis rambat mencapai 24–40 ton/ha. Polong dipanen saat masih muda, 2–3 minggu setelah bunga mekar, untuk menjaga kualitas. Panen terlambat menurunkan kualitas karena biji berkembang dan polong bergelombang. Penyimpanan pada suhu 5–10°C dan kelembaban 95% dapat menjaga kesegaran polong selama 2–3 minggu.
Dengan penerapan teknik budi daya yang tepat dan pengelolaan yang baik, buncis dapat menghasilkan produksi optimal dengan kualitas unggul, sehingga memberikan keuntungan maksimal bagi petani. (QAR, 2025).
Sumber
- Bahar, Y. H., Andayani, A., Djuariah, D., Subhan, Agustini, Y. D., Tahir, & Suwarno, E. H. (2021). Standar operasional budidaya buncis. Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/13714
- Setiawati, W., Murtiningsih, R., Sopha, G. A., & Handayani, T. (2007). Petunjuk teknis budidaya tanaman sayuran. Balai Penelitian Tanaman Sayuran. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9310





