Tanaman jambu mete (Anacardium occidentale L.) sudah berkembang lama di Indonesia dan menjadi salah satu tanaman perkebunan yang dapat dimanfaatkan baik untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri juga sumber devisa negara. Hasil utama dari tanaman ini adalah kacang mete dan buah semunya yang dimanfaatkan dalam industri makanan dan obat. Saat ini produktivitas tanaman jambu mete Indonesia masih rendah. Salah satu penyebabnya adalah hama Helopeltis spp. yang menyebabkan tanaman terganggu pertumbuhan dan produksinya.
Strategi Pengendalian Tahan Hama dan Penyakit
Salah satu upaya meningkatkan produksi tanaman jambu mete adalah penggunaan varietas unggul yang tahan hama dan penyakit. Sampai tahun 2020, Balai Penelitian tanaman Rempah dan Obat (Balittro) sudah melepas 21 varietas unggul jambu mete dengan keunggulan produksi dan tingkat ketahanan terhadap hama dan penyakit yang bervariasi. Sembilan diantaranya merupakan varietas unggul jambu mete pada sentra utama pengembangan jambu mete. Sebanyak sembilan varietas unggul jambu mete yang telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian RI Tahun 2001, dua diantaranya merupakan varietas unggul yang toleran terhadap hama Helopeltis spp. yaitu varietas SM 9 dan varietas BO2.
Pengendalian Kultur Teknis
Pengelolaan tanah dan pemupukan yang tepat dan berimbang
Jambu mete mampu tumbuh optimal di daerah dengan kelembaban udara yang rendah dan beriklim kering seperti di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan beberapa daerah lainnya yang memiliki struktur tanah solum tipis dan berbatu. Jambu mete mampu tumbuh pada kondisi tanah yang gembur, bertekstur ringan dengan lapisan tanah yang pejal/keras dan beriklim basah. Populasi hama Helopeltis spp. dapat ditekan dengan memberikan pupuk yang tepat dan seimbang sesuai dosis anjuran.
Pemangkasan dan Sanitasi Tanaman Inang
Pemangkasan bentuk tajuk penting dilakukan pada kondisi tanah gembur atau bertekstur ringan dan memiliki lapisan tanah pejal (keras). Iklim basah dianjurkan terutama ketika tanaman masih muda untuk membentuk sistem percabangan yang baik, sehingga tanaman memiliki satu batang utama dan mengurangi pertumbuhan cabang berlebih sehingga sinar matahari yang masuk kanopi optimal. Pada tanaman dewasa, pemangkasan dilakukan untuk memperoleh luas permukaan tajuk yang optimal. Tinggi optimal untuk sistem percabangan terbawah yaitu 1-2 m di atas permukaan tanah. Pemangkasan tanaman dilakukan untuk membuang cabang atau ranting yang tumbuh pada bagian dalam tajuk, seperti tunas air dan cabang ekstensif serta bagian pohon yang ditemukan serangan hama dan penyakit. Sanitasi pada lahan perkebunan jambu mete juga perlu dilakukan karena kebun yang kotor mendukung perkembangan hama Helopeltis spp.
Pengendalian Hayati
Penggunaan cendawan patogen serangga menggunakan Beauveria bassiana telah banyak diaplikasikan sebagai pestisida nabati yang ramah lingkungan dan efektif. Pengendalian hayati dapat juga dilakukan dengan menggunakan serangga predator yaitu semut rangrang (Oecophylla smaragdina), laba-laba (Gastercantha spp.), laba-laba pembuat jaring berbentuk cincin/lingkaran (Leucauge venusta), kumbang helm (Cyloneda spp) dan cocopet (Forticula auricularia L). Kelima spesies predator tersebut memiliki perilaku dan kemampuan yang berbeda dalam menanggapi mangsanya.
Pengendalian Fisik dan Mekanik
Pengendalian secara fisik dapat dilakukan dengan pengaturan suhu, kelembaban dan cahaya. Pengendalian dengan cara pemangkasan akan mempengaruhi faktor-faktor fisik di sekitar pertanaman jambu mete. Pengendalian secara mekanik dilakukan dengan cara penangkapan Helopeltis spp. tanpa alat bantu (tangan) dan menggunakan jaring. Pengendalian mekanik tanpa alat bantu mudah dilakukan untuk telur, karena telur Helopeltis spp. mudah dikenali berdasarkan karakteristiknya yang berwarna putih menyerupai helaian benang.
Pengendalian Kimiawi
Pengendalian kimiawi dilakukan menggunakan prinsip kerja dari sistem peringatan dini (SPD) atau early warning system (EWS). Setiap tujuh hari mengamati semua pohon dalam pertanaman yang luasnya kurang lebih 3 hektar. Tujuannya untuk menetapkan ada tidaknya serangga atau terjadi serangan baru pada buah. Semua buah pada pohon yang ditemukan adanya hama, empat pohon di sekelilingnya segera disemprot dengan insektisida. Apabila jumlah pohon jambu mete yang terserang hama lebih dari 15%, penyemprotan dilakukan menyeluruh pada areal tersebut. Secara ekonomi penggunaan insektisida relatif mahal dan beresiko tinggi untuk digunakan, baik terhadap tenaga pelaksana maupun terhadap agroekosistem. Oleh karena itu penggunaan harus bijaksana, yaitu harus tepat jenis, tepat dosis, tepat cara dan tepat waktu. Konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) menyarankan penggunaan pestisida kimia sintetik sebagai alternatif pengendalian hama yang terakhir apabila populasi hama meningkat dan berada di atas aras populasi hama atau sebagai Ambang Ekonomi (AE). Hingga saat ini, penggunaan pestisida nabati berbahan tanaman atsiri sudah banyak dikembangkan, karena hasilnya yang cukup efektif dalam mengendalikan beberapa Organisme Pengganggu Tanaman (OPT).
Dengan melakukan strategi pengendalian yang tepat diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, dan kesejahteraan petani jambu mete. (WD 2025)
Sumber
- Rismayani, Rizal, M. (2020). Sirkuler Teknologi Pengendalian Terpadu Hama Penghisap Buah Helopeltis sp.. (Hemiptera: Miridae) pada Perkebunan Jambu Mete. Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/11451 - Irianto, W. (2023). Serangan Helopeltis sp. pada tanaman jambu mete di wilayah kerja BBPPTP Surabaya dan teknik pengendaliannya
https://balaisurabaya.ditjenbun.pertanian.go.id/ - Adnyana, G.S., (2025). Mengenal hama kepik penghisap buah (Helopeltis) dan strategi pengendalian yang efektif
https://distan.bulelengkab.go.id/




