Sukun─buah yang dulu sering dipandang sebelah mata─ternyata menyimpan potensi besar sebagai sumber karbohidrat bergizi tinggi. Dengan tekstur lembut, rasa gurih alami, dan kandungan gizi yang melimpah, sukun menjadi solusi nyata dalam upaya diversifikasi pangan di Indonesia.
Sukun (Artocarpus altilis) merupakan salah satu tanaman tropis yang memiliki potensi besar sebagai bahan pangan alternatif sumber karbohidrat. Tanaman ini tumbuh subur di berbagai daerah Indonesia dan relatif mudah dibudidayakan tanpa memerlukan perawatan intensif. Tanaman sukun berumur panjang sehingga mampu berproduksi secara terus menerus sampai puluhan tahun.
Tanaman─dikenal dengan nama bread fruit karena tekstur buah yang menyerupai roti (berdaging tebal dan lunak)─merupakan tanaman yang berbuah musiman dengan masa panen raya pada bulan Januari–Februari dan panen susulan pada bulan Juli−Agustus. Waktu pembungaan dan pembuahan sukun terjadi pada saat musim kemarau kering.
Sebagai tanaman lokal yang produktif, sukun dapat menjadi solusi dalam diversifikasi pangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap beras dan gandum. Buahnya yang melimpah dan masa panen yang tidak terlalu lama menjadikan sukun sumber pangan yang berkelanjutan dan ekonomis bagi masyarakat.
Karakteristik Buah Sukun
Sukun yang ditemui di Indonesia dapat dibedakan berdasarkan bentuk buah, ukuran buah, tepi daun, serta kedudukan daunnya. Berdasarkan bentuk buah, terdapat tiga jenis sukun, yaitu bentuk buah bulat, agak lonjong, dan berbentuk lonjong, dengan lebar 12−20 cm dan panjang 12−30 cm. Kulit buah berwarna hijau muda, hijau kekuningan atau kuning ketika buah masak dan daging buah berwarna krem atau kuning pastel. Sementara, ukuran buah, tepi, dan kedudukan daun, terdapat tiga jenis yang banyak terdapat di lapangan, yaitu
- Buah berukuran kecil, dengan ciri daun menyirip, tepi daun bercangap dengan lekuk dangkal, dan kedudukan daun agak menguncup ke atas.
- Buah berukuran agak besar (medium), dengan ciri daun menyirip, tepi daun bercangap dengan lekuk dangkal, dan kedudukan daun agak menguncup ke atas.
- Buah berukuran besar, dengan ciri daun menyirip, tepi daun bercangap dengan lekuk dalam, dan kedudukan daun mendatar.
Nilai Gizi Sukun Sebagai Pangan Alternatif
Sukun mengandung karbohidrat kompleks yang cukup tinggi, yakni sekitar 27–30 g per 100 g bahan segar, serta kaya akan serat, vitamin C, kalium, magnesium, antioksidan alami, dan asam amino esensial. Dibandingkan umbi lain, kandungan protein sukun segar lebih tinggi dari ubi kayu, dan kandungan karbohidratnya lebih tinggi dari ubi jalar atau kentang Dalam bentuk tepung, nilai gizinya bahkan setara dengan beras.
Buah ini juga mengandung 65–85% air, 1,2–1,4% protein, dan 28–79% karbohidrat dengan energi 470–670 kalori per 100 gram. Teksturnya yang lembut membuat sukun mudah diolah menjadi beragam makanan, dari gorengan tradisional hingga tepung untuk roti dan kue modern. Dengan kandungan gizi dan fleksibilitas olahan yang tinggi, sukun layak menjadi pangan bergizi alternatif bagi masyarakat Indonesia.
Manfaat konsumsi sukun tidak hanya sebagai sumber energi, tetapi juga baik untuk kesehatan tubuh. Kandungan seratnya membantu menjaga kesehatan pencernaan dan menurunkan kadar kolesterol, sementara vitamin dan mineralnya mendukung sistem kekebalan tubuh serta menjaga fungsi jantung.
Sukun termasuk dalam jenis buah yang berpotensi menurunkan gula darah karena mengandung indeks glikemik (IG) yang rendah. Dengan potensi gizi dan ketersediaannya yang melimpah, sukun dapat dikembangkan sebagai salah satu pangan lokal unggulan untuk mendukung ketahanan pangan nasional serta mendukung pola makan sehat dan beragam di masyarakat.
Dengan keunggulan yang dimilikinya, sukun berpotensi menjadi pangan lokal unggulan sekaligus penopang ketahanan pangan masa depan. Inovasi olahan dan dukungan kebijakan yang tepat dapat menjadikannya ikon pangan sehat dan berkelanjutan.(HS2025).
Sumber
- Badan Ketahanan Pangan. (2008). Sukun pangan potensial sumber karbohidrat. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9854
- Edison H. S., & Yufdy, M.P. (2014). Mari mengenal sukun. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/13785






