Kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Di antara beragam jenis kopi nusantara, nama Kopi Liberika mungkin belum sepopuler Arabika atau Robusta, namun jenis ini menyimpan potensi besar, baik dari sisi cita rasa, ketahanan tanaman, hingga peluang ekonominya di lahan gambut.
Kopi Liberika berasal dari Afrika Barat dan diperkenalkan ke Indonesia pada masa kolonial. Jenis ini mampu tumbuh di lahan dengan keasaman dan kadar air tinggi, sehingga cocok untuk daerah gambut di Sumatera. Berbeda dari Arabika dan Robusta, pohon Liberika lebih tinggi, berdaun lebar, serta berbuah besar dengan kulit tebal dan daging biji tipis. Ciri tersebut justru menghasilkan aroma khas yang memadukan wangi rempah, buah nangka, dan sentuhan kayu.
Salah satu varietas unggulnya, Liberika Tungkal Komposit (Libtukom), telah dilepas sebagai varietas bina melalui SK Menteri Pertanian No. 4968/Kpts/SR.120/12/2013. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, dan menjadi kebanggaan petani setempat.
Kopi Liberika memiliki ketahanan tinggi terhadap penyakit karat daun yang sering menyerang varietas lain, sehingga menjadi pilihan ideal untuk budidaya berkelanjutan di lahan gambut yang sebelumnya dianggap kurang produktif. Namun, meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap gaya hidup sehat menghadirkan tantangan baru: kadar kafein yang tinggi dapat membatasi konsumsi bagi sebagian orang. Kondisi ini mendorong pengembangan teknologi dekafeinasi, yaitu proses pengurangan kadar kafein tanpa mengubah cita rasa dan aroma khas kopi.
Mengapa Dekafeinasi?
Kafein merupakan alkaloid alami yang berperan sebagai stimulan. Dalam kadar seimbang, zat ini dapat meningkatkan konsentrasi dan performa tubuh. Namun, konsumsi berlebih dapat memicu gangguan tidur, kecemasan, hingga tekanan darah tinggi. Sebagian orang bahkan sensitif terhadap kafein, tetapi tetap ingin
menikmati cita rasa kopi tanpa efek sampingnya.
Proses dekafeinasi berperan penting dalam tahap ini, yakni mengurangi kadar kafein tanpa mengubah karakter rasa dan aroma kopi. Penelitian menunjukkan bahwa dekafeinasi pada kopi Liberika mampu menurunkan kadar kafein hingga 0,6–0,7% sambil mempertahankan cita rasa khasnya. Dengan demikian, kopi Liberika rendah kafein menjadi pilihan ideal bagi penikmat kopi yang menginginkan sensasi nikmat tanpa rasa gelisah atau jantung berdebar.
Teknik Dekafeinasi Kopi Liberika
Bahan yang Digunakan
Pelarut alami yang umum digunakan adalah etil asetat, yaitu cairan tidak berwarna dengan aroma buah yang khas. Bahan ini aman digunakan dan mudah menguap sehingga tidak meninggalkan residu pada biji kopi.
Tahapan Dekafeinasi
Biji kopi Liberika terlebih dahulu dikukus selama ±30 menit untuk meningkatkan kadar air hingga sekitar 40%, sehingga kafein lebih mudah larut pada tahap berikutnya. Setelah itu, biji direndam dalam larutan etil asetat 10–12% selama 70–120 menit guna melarutkan kafein dari dalam biji. Usai perendaman, biji kembali dikukus sebentar pada suhu 50–65°C untuk menguapkan sisa pelarut. Setelah dikeringkan, biji kopi kemudian disangrai seperti biasa sebelum digiling menjadi bubuk siap seduh.
Proses dekafeinasi berperan penting dalam tahap ini, yakni menurunkan kadar kafein tanpa mengubah karakter rasa dan aroma kopi. Penelitian menunjukkan bahwa dekafeinasi pada kopi Liberika mampu menurunkan kadar kafein hingga 0,6–0,7% sekaligus mempertahankan cita rasa khasnya. Dengan demikian, kopi Liberika rendah kafein menjadi pilihan ideal bagi penikmat kopi yang ingin menikmati kenikmatan rasa tanpa rasa gelisah atau jantung berdebar.
Potensi Ekonomi dan Sosial Kopi Liberika
Kopi Liberika memiliki nilai ekonomi yang besar, terutama bagi masyarakat di daerah gambut. Pendapatan petani dapat mencapai Rp 12–13 juta per musim tanam per petak (0,7–0,8 ha) dengan rasio keuntungan (B/C ratio) sekitar 1,8. Artinya setiap Rp1 biaya produksi menghasilkan Rp1,80 pendapatan. Sebagian besar petani di Jambi juga mempraktikkan pola tanam campuran, menanam kopi di antara tanaman pinang, kelapa, atau sawit. Strategi ini membantu menjaga kestabilan pendapatan dan memanfaatkan lahan secara efisien.
Kopi Liberika rendah kafein dapat menjadi ikon baru dari inovasi kopi nusantara yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Melalui teknologi dekafeinasi, kopi ini tidak hanya menjadi lebih sehat bagi konsumen, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi petani di lahan gambut yang selama ini dianggap sulit diolah. (Rafa/Edit JA, 2025)
Sumber
- Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Kalimantan Tengah. (2023). Kopi Liberika (Leaflet). Repositori Pertanian Indonesia. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22420
- Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar. (2013). Teknik dekafeinasi kopi Liberika Tungkal Jambi dan teknologi pengolahannya menjadi kopi bubuk rendah kafein. Repositori Pertanian Indonesia.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6570 - Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar. (2018). Keragaan agroekonomi kopi Liberika Tungkal Komposit pada lahan gambut Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Repositori Pertanian Indonesia.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6828 - Putri, D. A., & Wulandari, S. (2020). Pengaruh suhu dan lama pemanasan terhadap tingkat dekafeinasi kopi Liberika [Skripsi, Universitas Jambi]. Repositori Universitas Jambi. https://repository.unja.ac.id/13546
- Rahmadani, N. (2021). Analisis mutu kimia kopi Liberika [Skripsi, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau]. Repositori UIN Suska Riau. https://repository.uin-suska.ac.id/59081





