Di tengah kekhawatiran akan dampak pestisida kimia terhadap kesehatan dan lingkungan, alam ternyata telah menyediakan solusi cerdas: daun selasih. Tanaman aromatik yang kerap dijumpai di pemakaman ini menyimpan rahasia besar bagi dunia pertanian. Dengan kandungan senyawa aktif yang mampu menarik dan mengendalikan hama, daun selasih tak hanya berfungsi sebagai herbal, tetapi juga sebagai pestisida nabati alami yang ramah lingkungan. Mudah dibuat, murah, dan efektif—ekstrak selasih menawarkan harapan baru bagi pertanian sehat dan swasembada pangan yang berkelanjutan.
Selasih (Ocimum basilicum) merupakan tanaman perdu tahunan yang dapat tumbuh setinggi 30–150 cm. Tanaman ini tumbuh optimal di daerah teduh dengan tanah lembab pada ketinggian hingga 1.100 meter di atas permukaan laut. Di beberapa daerah, khususnya di Jawa Barat, selasih kerap digunakan dalam ritual keagamaan seperti ziarah kubur, sehingga tanaman ini mudah menyebar dan banyak ditemukan di sekitar pemakaman. Bagian tanaman yang dimanfaatkan sebagai pestisida nabati adalah daun dan bunganya.
Daun selasih mengandung senyawa aktif seperti minyak atsiri, saponin, flavonoid, tanin, serta senyawa volatil seperti geraniol, metil eugenol (ME), dan linalol. Minyak atsirinya dilaporkan mengandung lebih dari 65% metil eugenol yang berfungsi sebagai penarik (attractant) bagi organisme pengganggu tumbuhan (OPT), khususnya lalat buah (Bactrocera dorsalis). Berdasarkan kandungan senyawa dominannya, tanaman selasih dibagi menjadi dua kelompok, yakni kelompok metil eugenol (misalnya O. tenuiflorum, O. sanctum, dan O. minimum) dan kelompok eugenol (seperti O. basilicum dan O. gratissimum).
Langkah-langkah pembuatan ekstrak daun selasih
Untuk membuat larutan pestisida nabati dari daun selasih, diperlukan beberapa bahan dan peralatan. Bahan utama yang digunakan adalah daun selasih segar sebanyak 100–200 gram atau sekitar satu genggam penuh, 1 liter air bersih, dan sabun cuci piring sebanyak 1–2 sendok teh sebagai bahan opsional yang berfungsi sebagai perekat agar larutan dapat menempel lebih baik pada permukaan daun saat diaplikasikan.
Peralatan yang digunakan meliputi blender atau mortar dan alu untuk menghancurkan bahan, wadah penampung seperti ember atau baskom, saringan kain atau saringan halus, serta botol semprot (sprayer) untuk aplikasi. Proses pembuatannya dimulai dengan merajang daun selasih hingga ukuran kecil, lalu merendamnya dalam air selama 24 jam. Setelah proses perendaman selesai, larutan disaring untuk memisahkan ampas dari cairan. Kemudian, tambahkan sabun cuci piring ke dalam larutan dan aduk hingga tercampur merata. Larutan yang telah jadi siap digunakan sebagai pestisida nabati dengan cara disemprotkan ke tanaman yang membutuhkan perlindungan.
Cara menggunakan ekstrak daun selasih
Larutan pestisida nabati dari daun selasih yang telah dibuat dapat digunakan dengan cara disemprotkan secara merata ke seluruh bagian tanaman yang terserang, baik pada daun, batang, maupun bagian lain yang menunjukkan gejala serangan. Waktu penyemprotan yang dianjurkan adalah pada pagi atau sore hari untuk menghindari penguapan berlebih akibat sinar matahari langsung, sehingga efektivitas larutan tetap terjaga. Pestisida nabati ini efektif untuk mengendalikan berbagai jenis organisme pengganggu tumbuhan (OPT).
Keunggulan pestisida nabati untuk swasembada pangan
- Keamanan pangan dan kesehatan lingkungan yang terjamin
Ekstrak daun selasih, sebagai pestisida nabati, mudah terurai secara alami (biodegradable), sehingga dapat meminimalkan risiko kontaminasi pada produk pertanian dan menjadikannya lebih aman untuk dikonsumsi. Selain itu, penggunaan pestisida nabati tidak mencemari tanah, air, maupun udara. Pestisida jenis ini juga cenderung lebih selektif, artinya tidak membahayakan serangga bermanfaat seperti predator alami hama, serta organisme lain di sekitarnya. Hal ini penting dalam menjaga keanekaragaman hayati dan mempertahankan kesehatan ekosistem tanah secara keseluruhan. - Peningkatan spesifikasi hama yang ingin dikendalikanSenyawa dalam daun selasih cenderung lebih spesifik dalam menargetkan hama tertentu, seperti lalat buah dan kutu daun. Ini berarti ia tidak membahayakan serangga bermanfaat seperti lebah penyerbuk atau predator alami hama yang justru membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian.
- Kemandirian ekonomi petani
Daun selasih adalah tanaman yang mudah ditemukan dan dibudidayakan di banyak daerah. Kondisi ini memungkinkan pengurangan biaya pengendalian hama secara keseluruhan dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia yang cenderung mahal dan harganya tidak menentu. - Mendukung pertanian berkelanjutan dan swasembada pangan
Pestisida nabati memainkan peran penting dalam mendukung pertanian berkelanjutan dan upaya mencapai swasembada pangan. Sebagai alternatif pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang lebih ramah lingkungan, pestisida nabati sejalan dengan prinsip pertanian berkelanjutan karena mampu meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan serta mendorong pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
Dengan segala keunggulannya, daun selasih bukan sekadar tanaman herbal biasa. Ia adalah harapan baru bagi pertanian Indonesia yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. Kini saatnya petani beralih ke solusi alami, memanfaatkan kekayaan hayati lokal seperti selasih untuk mewujudkan ketahanan pangan tanpa merusak lingkungan. Mari kita rawat bumi sambil tetap memberi makan bangsa. (QAR, 2025)
Sumber
Balitsa, P. T., Setiawati, W., Murtiningsih, R., Gunaeni, N., Tati, D., Prima, R., Balai Penelitian, T., Sayuran, T., Penelitian, P., Pengembangan, D., Badan, H., Dan, P., & Pertanian, P. (2008). Tumbuhan Bahan Pestisida Nabati dan Cara Pembuatannya untuk Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT). Balai Penelitian Tanaman Sayuran. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/8741
Pengukuhan Profesor Riset Bidang Hama Tanaman, O., Agus Kardinan, I., & Penelitian dan Pengembangan Pertanian, B. (2009). Kearifan Lokal Penggunaan Pestisida Nabati Dalam Pengendalian Hama Tanaman Menuju Sistem Pertanian Organik (Issue April). Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/16399
Pertanian, K., Penelitian, B., Pertanian, P., Penelitian, P., & Pengembangan Perkebunan, D. (2017). Pestisida Nabati. Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/20774 




