Pinang bukan sekadar tanaman pekarangan. Biji pinang telah lama menjadi bagian dari tradisi, bahan obat, hingga komoditas perdagangan bernilai ekonomi. Di tengah meningkatnya permintaan global terhadap bahan alami, pinang mulai dilirik sebagai tanaman perkebunan prospektif yang menyimpan potensi besar bagi petani dan industri herbal. Namun, pengembangan pinang di Indonesia masih terhambat oleh keterbatasan bahan tanaman dan sumber benih yang berkualitas.
Pinang (Areca catechu) merupakan salah satu palma asli Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan banyak dibudidayakan di Jambi. Hampir seluruh bagian tanaman ini, mulai dari daun hingga akar, dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan manusia, mulai dari peralatan rumah tangga hingga bahan fitofarmaka. Kandungan senyawa bioaktif yang kaya menjadikan buah pinang tidak hanya bernilai sebagai komoditas pertanian, tetapi juga sebagai bahan strategis industri berbasis sumber daya alam.
Saat ini buah pinang menjadi salah satu komoditas perdagangan yang berperan penting dalam meningkatkan pendapatan petani. Berbagai olahan buah pinang dimanfaatkan sebagai bahan obat cacing berkat kandungan senyawa alkaloid; bahan pembuatan sabun melalui pemanfaatan lemak buah; dan campuran obat gosok atau pasta gigi yang dikombinasikan dengan daun sirih.
Syarat Pertumbuhan
Pohon pinang umumnya memiliki tinggi 12–22 meter, dan dalam kondisi optimal dapat mencapai hingga 30 meter. Buahnya berukuran sebesar telur ayam dengan berat rata-rata 6–8 gram per biji. Tanaman ini tumbuh baik pada ketinggian 500–600 meter di atas permukaan laut serta dapat beradaptasi dengan berbagai jenis tanah selama kondisi iklim tidak terlalu kering.
Budi Daya Pinang
Bahan Tanam
Tanaman pinang dibudidayakan menggunakan biji yang berasal dari pohon induk berumur minimal 20 tahun, memiliki produktivitas tinggi, serta pertumbuhan yang tegak dan sehat. Buah yang dipilih sebagai benih adalah buah normal yang masak di pohon, tidak terserang hama atau penyakit, serta memiliki kulit yang mulus.
Pembibitan
Bedengan persemaian dibuat selebar 1 meter dan panjang sekitar 5 meter, dengan tanah yang dicangkul dan dicampur pupuk kandang atau pasir sebagai media. Sebelum disemai, benih pinang direndam selama tiga hari untuk mempercepat perkecambahan, kemudian ditebar dengan jarak 15 cm × 30 cm dan ditutup tanah gembur atau pasir setebal 10 cm. Bedengan disiram tiga kali seminggu dan bibit dipindahkan ke kantong atau pelepah setelah berumur enam bulan.
Penanaman
Penanaman pinang dilakukan pada awal musim hujan. Sebelum menanam, lahan dibersihkan dari sisa akar dan rumput-rumputan. Ajir dipasang untuk menjaga jarak tanam yang dianjurkan, yaitu 2,5 m × 2,5 m atau 2,5 m × 5 m jika menggunakan tanaman sela seperti pisang. Lubang tanam digali sebulan sebelumnya dengan ukuran 60 cm × 60 cm dan kedalaman 30–45 cm. Bibit kemudian dimasukkan ke dalam lubang, diisi tanah yang telah dicampur pupuk kandang secukupnya atau TSP 50–75 gram per lubang, lalu dipadatkan.
Pemeliharaan
Pada tahun pertama, penyiangan dilakukan tiga hingga empat kali, sedangkan pada tahun-tahun berikutnya cukup dua kali setahun. Pemupukan diberikan secara bertahap setiap tahun, terutama pada awal musim hujan dan setelah penyiangan. Perbaikan tata air dilakukan dengan menjaga agar kebun tidak tergenang serta membuat saluran drainase setiap 9–12 meter di dalam kebun.
Panen
Panen pinang dilakukan dengan memperhatikan kondisi kebun agar tidak lembab untuk mencegah penyakit. Pinang mulai berbuah pada tahun kelima dan mencapai produksi normal pada tahun kesepuluh, dengan produktivitas dapat berlangsung hingga usia lima puluh tahun. Setiap pohon biasanya menghasilkan rata-rata dua tandan per tahun, dan satu tandan berisi sekitar 300–400 biji. Buah dipetik setelah masak, ditandai dengan warna oranye dan mulai berguguran, dengan cara memotong tandan. Setelah dipetik, buah dijemur selama 24 jam agar biji terlepas dari sabutnya, kemudian biji dipisahkan dari sabut untuk proses selanjutnya.
Dengan pemeliharaan yang tepat, mulai dari pemilihan benih, pembibitan, penanaman, hingga perawatan dan panen, tanaman pinang dapat memberikan produktivitas yang optimal sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani serta mendukung pengembangan ekonomi lokal. (QAR, 2025).
Sumber:
- Jambi, B. (1988). Tanaman pinang (Areca catechu L). BPTP Jambi. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/18997
- Maskromo, I., Natawijaya, A., Djufry, F., & Syakir, M. (2017). Eksplorasi dan evaluasi keragaman genetik plasma nutfah pinang asal Sumatera Barat dan Timika Papua. Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Lampung. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6969






