Ketergantungan tinggi terhadap beras masih mewarnai pola konsumsi masyarakat Indonesia. Padahal, tantangan produksi yang semakin kompleks menuntut arah baru kebijakan pangan melalui diversifikasi dan pemanfaatan sumber pangan lokal yang beragam. Beras analog merupakan perwujudan diversifikasi, terbuat dari bahan nonpadi yang dibentuk menyerupai beras dan dikonsumsi seperti nasi, menjadi alternatif pangan pokok dan ketahanan pangan berkelanjutan yang lebih inklusif.
Komoditas pangan pokok lokal dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal sebagai alternatif pangan di masyarakat. Inovasi pangan pokok berbasis sumber daya lokal memunculkan beras analog, yaitu produk pangan menyerupai beras yang terbuat dari bahan nonpadi, seperti jagung, ubi kayu, ubi jalar, kacang-kacangan dan umbi-umbian, serta serealia lainnya. Beras analog dirancang agar dapat dimasak dan dikonsumsi seperti nasi. Komposisi gizi beras analog tidak hanya mirip seperti beras biasa, bahkan juga bisa melebihi.
Pembuatan Beras Analog
Beras analog dibuat dari bahan pangan lokal berbasis nonpadi. Pembuatan beras analog umumnya dilakukan dalam beberapa tahapan, diantaranya penyiapan bahan baku, pembuatan tepung atau pati, pencampuran dengan air dan bahan pengikat, pembentukan butiran, pemanasan, dan pengeringan. Pembentukan butir dilakukan dengan metode granulasi dan ekstrusi.
Pada tepung ubi kayu dan ubi jalar, pembuatan adonan dilakukan dengan bahan pencampur berupa air. Adapun beras analog berbahan tepung jagung dan tepung kacang dapat ditambahkan agar-agar dalam pembuatannya sebagai bahan pengikat. Hal ini dilakukan agar struktur butiran menjadi lebih kompak.
Ragam Gizi Beras Analog
Karakter gizi beras analog sangat ditentukan oleh bahan baku dan bahan penyusun.Berikut perbedaan kandungan gizi beras analog berdasarkan bahan utama..
- Beras Analog Ubi Kayu
Terbuat dari bahan utama ubi kayu (singkong) dan menjadi sumber karbohidrat murni. Beras mengandung pati yang tinggi, namun protein dan mikronutriennya relatif rendah. Beras ubi kayu bermanfaat sebagai pengganti energi dan pangan pokok darurat. Untuk meningkatkan kualitas gizi, beras dapat dikombinasikan dengan kacang-kacangan atau sumber protein lainnya. - Beras Analog Ubi Jalar
Disebut juga beras mutiara. Memiliki keragaman zat gizi dan senyawa fungsional serta tinggi karbohidrat dan serat. Beras dari ubi jalar oranye mengandung provitamin A, sedangkan beras dari ubi jalar ungu mengandung antioksidan. Daya cerna pati ubi jalar lebih lambat karena adanya kandungan amilosa yang tinggi. Oleh karena itu, beras ini memiliki indeks glikemik yang lebih rendah sehingga baik untuk mengontrol gula darah. - Beras Analog Jagung
Terbuat dari bahan utama jagung, berperan sebagai sumber energi berprotein sedang. Kandungan karbohidrat kompleks, protein, dan seratnya lebih tinggi daripada beras padi. Namun, kualitas protein beras jagung memiliki asam amino esensial lisin yang rendah. Seratnya yang tinggi membuat beras analog jagung cocok untuk membantu melancarkan pencernaan. - Beras Analog Jagung–Kacang Merah
Beras ini merupakan kombinasi jagung dengan kacang merah sehingga menghasilkan jenis beras analog yang tinggi protein dan serat. Protein pada beras ini lebih baik dari beras analog jagung biasa. Kacang merah yang dikombinasikan dapat menambah asam amino lisin untuk melengkapi protein jagung. Beras ini juga termasuk sebagai pangan fungsional, terutama untuk kelompok yang membutuhkan asupan protein nabati yang tinggi. Kandungan lemak pada beras ini rendah sehingga bebas kolesterol, lebih mengenyangkan, dan cocok sebagai pangan pokok sehat.
Manfaat dan Pengembangan
Pengembangan beras analog dapat disesuaikan dengan kebutuhan gizi spesifik baik tinggi protein, tinggi serat maupun indeks glikemik yang rendah. Beras analog dapat mengurangi ketergantungan pada beras padi sekaligus memanfaatkan komoditas lokal. Kadar airnya rendah sehingga lebih awet dalam penyimpanan dan pendistribusian. Produk beras analog juga lebih fleksibel untuk diolah menjadi berbagai pangan turunan. Hal ini semakin menguatkan potensi nilai tambahnya.
Beras analog dapat dikembangkan pada perbaikan warna, aroma, tekstur, dan penjenamaan. Masyarakat yang teredukasi manfaat beras analog dapat lebih menerima dan mendukung diversifikasi pangan lokal. Inovasi teknologi pengolahan serta dukungan kebijakan pangan menjadi kunci dan penguat distribusi serta penerimaan beras analog secara nyata di masyarakat.
Inovasi beras analog akan memperkuat ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi konsumsi dan pemberdayaan sumber daya lokal. Kolaborasi dan sinergi yang baik diperlukan untuk pengembangan ke depan sehingga beras analog menjadi pangan sehat berkelanjutan yang mandiri dan inklusif. (AM’2025)
Sumber:
- Aini, N., dkk. (2019). Karakteristik beras analog dari tepung jagung–kacang merah menggunakan agar-agar sebagai bahan pengikat. Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian, 16(1). https://repository.pertanian.go.id/items/f0ff24b3-5fc2-4516-aeb5-d7edfd9a765a
- Arief, R.W., & Asnawi, R. (2017). Diversifikasi produk olahan beberapa varietas ubi kayu menjadi beras analog, tiwul instan, dan oyek dalam rangka mendukung program ketahanan pangan di Lampung. Prosiding Seminar Nasional Agroinovasi Spesifik Lokasi untuk Ketahanan Pangan Pada Era Masyarakat Ekonomi ASEAN. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6372
- Herawati, H. & Widowati, S. (2009). Karakteristik beras mutiara dari ubi jalar (Ipomea batatas). Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian, 5. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/3432





