Dari dataran tinggi Tana Toraja, tumbuh sebuah cabai mungil dengan kekuatan rasa yang luar biasa. Katokkon yang juga dikenal dengan nama cabe bakul atau lada katokkon dalam bahasa Toraja yang mampu menyaingi cabai rawit. Dengan tingkat kepedasan mencapai 400.000-691.000 SHU, Katokkon bukan hanya bumbu dapur biasa, melainkan juga ikon kuliner, buah tangan wisatawan, hingga sumber kebanggaan masyarakat Toraja.
Cabai Katokkon, yang juga dikenal dengan sebutan Lada Katokkon (Capsicum annuum var. chinense), merupakan jenis cabai khas dan primadona dari Kabupaten Tana Toraja. Sekilas, bentuknya menyerupai paprika, namun memiliki ciri khas tersendiri: ukurannya kecil, gemuk, bulat, dan pendek, dengan panjang rata-rata sekitar 3-4 cm. Buahnya berwarna hijau keunguan saat masih muda, dan berubah menjadi merah cerah yang menyegarkan ketika telah matang.
Cabai Katokkan memiliki tingkat kepedasan yang lebih pedas dari cabai rawit biasa dan memiliki aroma yang khas. Juara pedas asal Toraja ini ini hanya dapat tumbuh di dataran tinggi sekitar 1000-1500 M dpl. Pada umur 3-4 bulan setelah tanam, cabai katokkon sudah bisa menghasilkan buah. Jumlah buah cabai katokkon dapat mencapai 100-150 buah/pohon setara dengan 0,8-1,2 kg cabai. Pada umumnya dalam 1 kali musim tanam cabai katokkon dapat dipanen sampai empat kali.
Banyak wisatawan yang mengunjungi tanah Toraja yang mengantongi cabai katokkon sebagai buah tangan mereka. Biasanya para penjual akan merekomendasikan cabai katokkon atau lada katokkon yang masih berwarna hijau dan kuning karena belum sepenuhnya matang. Harga cabai katokkon ini juga lebih mahal daripada jenis cabai lainnya.
Manfaat cabai katokkon
Dibalik rasa pedasnya, cabai katokkon mengandung vitamin A dan vitamin C yang bisa melindungi tubuh dari radikal bebas yang menyebabkan penyakit kanker. Seperti cabai pada umumnya, Katokkon mengandung zat minyak atsiri Capsaicin yaitu zat yang membuat rasanya menjadi pedas dan terasa panas di lidah. Oleh karena itu, jika tidak terbiasa mengkonsumsi makanan pedas sebaiknya makanlah sesuai dengan porsi yang secukupnya ya. Manfaat lain, diantaranya :
- Menambah nafsu makan;
- Membantu mengatasi masalah persendian;
- Membantu menurunkan kolesterol;
- Membantu mencegah stroke;
- Membantu meredakan batuk berdahak;
- Membantu melegakan hidung tersumbat; dan
- Membantu meredakan migrain.
Cara menanam cabe Katokkon
- Pembibitan
Benih (biji cabai) berasal dari cabai matang di pohon yang tidak terserang penyakit, subur, dan berbuah banyak. Buah yang telah diseleksi dikeluarkan bijinya, kemudian dijemur selama kurang lebih 7 hari. - Persemaian
Pada saat persemaian, rendam benih terpilih dalam air hangat selama kurang lebih 24 jam, kemudian tiriskan benih dan campur dengan abu dapur halus dengan perbandingan benih dan abu 1 : 10. Benih yang sudah tumbuh setelah 15 hari sebaiknya dipindahkan ke dalam polybag berdiameter 5 cm dan dipindahkan setelah 30-45 hari semai. - Pengolahan tanah
Saat menunggu bibit untuk siap ditanam, lakukan pengolahan tanah pada lahan yang akan ditanami untuk menggemburkan tanah. Pengolahan lahan secara sempurna dilakukan 2 kali. Pengolahan pertama meliputi pembongkaran tanah dengan menggali sedalam 25-30 cm, kemudian lahan dibiarkan 1 minggu agar gas-gas yang berbahaya dalam tanah dapat menguap. Setelah gembur, buat bedengan dengan lebar 1-1,5 m dan panjang disesuaikan dengan kondisi lahan. Jika musim hujan dianjurkan membuat parit dengan kedalaman 25 m. - Penanaman
Penanaman didahului dengan penyiapan lubang dengan jarak 50 x 80 cm. kemudian lubang diisi dengan pupuk kandang yang sudah jadi sebanyak 1-2 genggam. Bibit ditanam ke lubang tanam yang telah disiapkan secara tegak lurus dan pangkal tanaman harus rata dengan permukaan mulsa untuk mengurangi serangan hama. - Penyulaman dan Penyiangan
Penyulaman/rempel cabe dapat dilakukan paling lama 2 (dua) minggu setelah tanam. Selanjutnya dilakukan penyiangan yang sesuai dengan keadaan pertumbuhan gulma. - Pemeliharaan tanaman
Terdiri dari pemupukan dan pengendalian hama/penyakit pada cabai. Pemupukan yang baik pada cabe ini adalah dengan menggunakan pupuk alam. Hama yang sering menyerang cabe ini adalah kutu daun dan lalat buah, sedangkan penyakit yang menyerang biasanya penyakit busuk buah, busuk daun dan busuk akar.
Panen yang dinanti-nanti dilakukan setelah tanaman berumur 3-4 bulan. Setelah panen pertama, panen berikutnya dapat dilakukan setiap 3 hari sekali dan dipetik berlangsung selama 8-10 bulan (4 kali panen). Jumlah buah cabai katokkon dapat mencapai 100-150 buah/pohon setara dengan 0,8 - 1,2 kg cabai. (QAR, 2025).
Sumber
- Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sulawesi Selatan, B. (2017). Keunggulan & Manfaat Lada Katokkon. BPTP Sulawesi Selatan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6213
- Pasambe, D., & Kallo, R. (2017). Industri Hilir Pengolahan Cabai (Lada katokkon) Berbasis Kelompok Wanita Tani. In Buletin Informasi Teknologi Pertanian (Issue 4, pp. 33-38). BPTP Sulawesi Selatan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/8612
- Pusluhtan Kementan. (n.d.). Budidaya Cabe Bakul (Lada Katokkon). https://cybex.id/detail-pdf.php?id=17723
- Saiputra, R. P. (2023, January 12). Katokkon, Cabai Pedas Indonesia dari Tanah Toraja. Good News from Indonesia. https://www.goodnewsfromindonesia.id/2023/01/12/katokkon






