Di balik segelas susu segar, terdapat tantangan besar yang dihadapi peternak dalam menjaga kesehatan ambing ternak. Mastitis atau radang ambing sering kali menjadi musuh senyap dalam usaha ternak perah. Penyakit ini kerap luput dari perhatian karena tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas, padahal dampaknya begitu signifikan karena dapat menurunkan produksi susu hingga kerugian usaha. Penyakit ini dapat dicegah melalui manajemen kebersihan yang baik, deteksi dini, dan penanganan yang tepat.
Mastitis merupakan peradangan pada jaringan kelenjar susu yang disebabkan oleh infeksi mikroorganisme patogen, terutama bakteri. Mikroorganisme ini masuk ke dalam ambing dan menghasilkan zat metabolit yang merusak sel-sel alveoli, yaitu bagian penting dalam proses produksi susu. Akibatnya, fungsi normal kelenjar susu terganggu sehingga produksi dan kualitas susu menurun. Mastitis terbagi menjadi dua bentuk, yaitu (1) mastitis klinis, menunjukkan gejala yang tampak jelas dan (2) mastitis subklinis, tidak memperlihatkan tanda-tanda nyata, menjadi kasus yang paling banyak ditemukan di lapangan, mencapai 95–98% pada sapi laktasi. Mastitis bukan hanya persoalan kesehatan hewan, tetapi juga menyangkut kualitas dan keamanan produk susu yang dihasilkan.
Penyebab utama mastitis umumnya berasal dari infeksi bakteri patogen. Berdasarkan berbagai penelitian di sentra peternakan sapi perah di Jawa Barat, bakteri yang paling sering ditemukan adalah Staphylococcus aureus dan Streptococcus agalactiae. Kedua bakteri ini memiliki kemampuan untuk berkembang biak dengan cepat di dalam kelenjar susu, membentuk koloni, dan menyebar ke jaringan yang lebih luas, seperti lobuli dan alveoli. Selain sapi perah, mastitis juga dapat menyerang kambing dan bahkan hampir semua jenis ternak menyusui.
Gejala Mastitis pada Ternak
Gejala mastitis berkaitan erat dengan respons peradangan tubuh terhadap infeksi. Ketika bakteri masuk ke dalam kelenjar susu, tubuh akan memobilisasi sel darah putih (leukosit) sebagai bentuk pertahanan. Proses ini menimbulkan tanda-tanda peradangan, seperti peningkatan suhu, pembengkakan, rasa nyeri, serta gangguan fungsi jaringan. Pada kondisi tertentu, ambing dapat terlihat merah dan terasa panas. Dampak paling nyata adalah penurunan produksi susu, baik dari segi kuantitas maupun kualitas.
Mastitis subklinis sering terjadi karena sistem pertahanan tubuh ternak masih cukup baik sehingga tidak menimbulkan gejala mencolok, tetapi ternyata ada proses infeksi yang tetap berlangsung. Bakteri umumnya masuk melalui lubang puting (sphincter puting), terutama setelah proses pemerahan. Pada saat itu, sphincter masih terbuka selama sekitar 2–3 jam, sehingga menjadi celah bagi mikroorganisme untuk masuk. Padahal, secara alami kelenjar susu memiliki sistem pertahanan yang terdiri atas mekanisme fisik, seluler, dan nonspesifik untuk menjaga susu tetap steril.
Penularan mastitis sangat erat kaitannya dengan manajemen kebersihan. Puting yang terbuka setelah pemerahan dapat terkontaminasi oleh bakteri dari lingkungan, seperti lantai kandang atau tangan pemerah yang tidak higienis. Oleh karena itu, praktik pemerahan yang bersih dan sanitasi yang baik menjadi kunci utama dalam mencegah penyebaran penyakit ini. Bakteri yang berhasil masuk ke dalam puting akan berkembang biak dan menyebar dengan cepat ke seluruh jaringan kelenjar susu.
Penanganan Mastitis
Pencegahan
Upaya pencegahan mastitis dapat dilakukan melalui deteksi dini, terutama untuk kasus subklinis. Susu dari sapi laktasi perlu diuji menggunakan metode uji mastitis yang tersedia. Jika terdeteksi positif, ternak tersebut harus diberi penanganan khusus, misalnya dengan pemberian antibiotik yang efektif saat masa kering. Antibiotik, seperti amoksisilin, ampisilin, dan neomisin, sering digunakan untuk mengendalikan infeksi bakteri penyebab mastitis.
Pengobatan
Dalam hal pengobatan, penting untuk melakukan uji sensitivitas terlebih dahulu guna mengetahui jenis antibiotik yang paling efektif. Hal ini diperlukan karena beberapa bakteri, seperti Staphylococcus aureus, telah menunjukkan resistensi terhadap antibiotik tertentu, misalnya penisilin. Pengobatan yang umum digunakan meliputi antibiotik, seperti lincomycin, erythromycin, dan chloramphenicol. Selain itu, terapi tambahan, seperti disinfeksi puting, pemberian antibiotik intramamaria, serta injeksi kombinasi obat antiinflamasi juga dapat membantu mempercepat penyembuhan.
Pada kasus mastitis akut, pengobatan harus dilakukan segera dengan pemberian antibiotik sistemik sesuai dosis. Sementara itu, pada mastitis ringan, pengobatan dapat ditunda hingga masa laktasi selesai agar tidak mengganggu produksi susu. Untuk kasus kronis, penggunaan salep antibiotik khusus mastitis dapat menjadi pilihan. Pendekatan pengobatan yang tepat akan membantu menekan perkembangan infeksi sekaligus memulihkan fungsi kelenjar susu.
Mastitis merupakan penyakit penting pada ternak perah yang berdampak besar terhadap produktivitas dan kualitas susu. Strategi pengendalian yang tepat perlu dilakukan agar dapat menjaga kesehatan ternak secara optimal untuk meningkatkan keberlanjutan usaha ternak. (AM’2026)
Sumber:
Rawendra, R. & Isyunani.(2018). Buku petunjuk praktikum kesehatan ternak. Pusat Pendidikan Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/14198





