Siapa sangka, padi ternyata bisa berproduksi dan dipanen kembali tanpa perlu ditanam ulang. Inovasi ini dikenal sebagai teknik budidaya padi salibu, setelah panen sisa batang padi yang tertinggal dapat dimanfaatkan sebagai tanaman baru yang dapat kembali berproduksi. Inovasi ini dapat mengubah sawah kembali hijau dalam waktu beberapa minggu setelah panen. Selain menarik dalam budidaya, teknik salibu turut membuka peluang dalam efisiensi biaya dan peningkatan produktivitas lahan. Budidaya padi dengan teknik salibu menjadi praktik nyata produksi beras berkelanjutan.
Teknik budidaya salibu adalah pengembangan dari sistem ratun yang memanfaatkan tunas dari tunggul (sisa batang) panen sebelumnya sebagai tanaman produksi tanpa menanam kembali padi. Perbedaan sistem salibu dengan ratun terletak pada perlakuan tunggul setelah panen. Dalam sistem ini, batang padi dipotong pendek dan dilakukan pemotongan ulang hingga menyisakan tunggul sekitar 3—5 cm dari permukaan tanah. Dari ruas batang terbawah tunas baru akan muncul disertai dengan pembentukan akar baru yang relatif mandiri dari batang lama. Dengan cara ini, tanaman salibu memiliki peluang tumbuh lebih seragam dan sehat dibanding ratun konvensional.
Langkah Budidaya
Teknik budidaya salibu diawali sejak persiapan lahan dan pengelolaan tanaman induk. Lahan yang akan ditanami tanaman induk terlebih dahulu dibersihkan dari jerami sisa panen dan gulma. Pembersihan dapat dilakukan secara mekanis dengan alat seperti cangkul atau sabit. Apabila populasi gulma padat, maka dapat disemprot dengan herbisida. Lahan yang terlalu kering perlu digenangkan air selama 1-2 hari, air dapat dikeluarkan jika tanah telah lembap.
Tanaman induk dapat ditanam dengan beberapa cara, yakni tanam pindah (tapin), tanam benih langsung menggunakan alat (atabela), dan tanam benih langsung (tabela) manual. Tapin menggunakan bibit berumur sekitar 17 hari setelah semai yang dipindahkan ke sawah, sedangkan tabela menggunakan benih berkecambah yang langsung ditanam di lahan.
Tanaman induk dapat dipanen ketika 90% gabahnya telah menguning dengan batang yang masih hijau, panen dilakukan dengan menyisakan tunggul sekitar 25 cm dari permukaan tanah. Tunas baru padi akan keluar dalam kurun waktu 7--10 hari, apabila tunas yang keluar kurang dari 70% populasi, budidaya salibu tidak memenuhi syarat.
Tunggul dengan tunas yang baik kembali dipotong ulang secara seragam hingga tersisa 3–5 cm dari permukaan tanah. Pemotongan tunggul dilakukan dengan alat pemotong bermata pisau petak. Pengairan pada tunas salibu dilakukan setinggi 2–5 cm dari permukaan tanah agar tunas tidak tenggelam. Pada umur sekitar 14 hari setelah pemotongan, penyulaman dapat dilakukan apabila terdapat rumpun yang tidak tumbuh. Tunas dipecah menjadi 2–3 anakan untuk kemudian disulam pada lokasi tanaman yang tidak tumbuh.
Pemupukan pada tanaman salibu dilakukan dengan dosis yang sama dengan tanaman induk sesuai dengan rekomendasi spesifik lokasi (perangkat uji tanah sawah dan pemupukan hara spesifik lokasi). Kombinasi pupuk yang dipakai umumnya adalah NPK dan urea. Pemupukan pertama diberikan pada awal pertumbuhan tunas, sebanyak 40% dari dosis tanaman salibu berumur 15–20 HSP (Hari Setelah Pemotongan). Pemupukan lanjutan dilakukan untuk mendukung pembentukan anakan dan pengisian gabah, diberikan sebanyak 60% dari dosis tanaman salibu berumur 30–35 HSP.
Pengendalian hama dan penyakit pada padi salibu dilakukan berdasarkan pada agroekosistem lingkungan yang berkelanjutan dan sama seperti tanaman padi pada umumnya dengan memperhatikan: (1) agronomi (olah tanah, irigasi, jarak tanam, pemupukan), (2) varietas tahan, (3) fisik dan mekanik (lampu, boneka sawah, perangkap, gelombang suara), (4) hayati (musuh alami dan bahan ramah lingkungan), (5) kimiawi (penggunaan bahan kimia). Adapun pengendalian gulma dilakukan dengan penyiangan menggunakan gasrok (cangkul kecil) sekaligus untuk menggemburkan tanah dan perbaikan sistem akar tanaman salibu.
Padi salibu dapat dipanen ketika 95% gabah telah menguning dan batang masih hijau. Panen dilakukan menggunakan thresher atau sabit, sisakan kembali tunggul tanaman maksimal 25 cm dari permukaan tanah. Teknologi salibu ini dapat menghemat hingga 40 hari waktu pertanaman dibanding dengan cara tanam pindah. Salibu dapat memproduksi padi minimal sama dengan tanaman induknya.
Faktor Keberhasilan
Dalam penelitian, cara tanam padi induk salibu dapat berpengaruh terhadap beberapa komponen hasil seperti jumlah malai, jumlah gabah per malai, dan persentase gabah isi. Pertanaman dengan tabela manual, cenderung menghasilkan anakan yang lebih banyak, namun jumlah gabah per malai akan lebih rendah akibat kompetisi dalam satu rumpun yang terlalu padat.
Varietas padi juga berperan penting dalam keberhasilan salibu. Setiap varietas menunjukkan respons yang berbeda terhadap sistem ini. Uniknya, dalam salah satu penelitian, varietas dengan tanaman induk yang berpotensi hasil tinggi dan mampu menghasilkan gabah lebih banyak, mengalami penurunan hasil yang cukup signifikan pada salibu pertama dan kedua. Adapun varietas yang tidak selalu unggul pada tanaman induk justru menunjukkan performa relatif lebih stabil pada salibu, terutama dalam mempertahankan jumlah anakan dan bobot gabah.
Budidaya salibu berpeluang dalam mendukung peningkatan produktivitas lahan, peningkatan indeks pertanaman (IP), menghemat benih, dan menekan biaya upah kerja usaha tani hingga 45%. Manfaat lainnya adalah dapat menekan kebiasaan petani dalam membakar jerami, dengan demikian jerami dapat kembali dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik lahan.
Teknik salibu menawarkan keuntungan dari sisi efisiensi waktu, biaya produksi, dan pemanfaatan lahan–terutama bila dikelola dengan teknik yang tepat dan varietas yang sesuai. Salibu menjadi solusi nyata peningkatan produktivitas dan keberlanjutan pertanian, pengembangan dan adopsi teknologi ini dapat terus didorong sebagai bagian dari strategi menuju pertanian yang efisien dan ramah lingkungan. (AM’2026)
Sumber:
- Abdulrachman, S., dkk. (2015). Panduan teknologi budidaya padi salibu. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/23054
- Sujinah, N.A., Jamil, A., (2018). Pengujian cara tanam dan varietas pada budidaya salibu. Prosiding Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi). https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/27687






