Keberhasilan budidaya jeruk nipis tidak hanya ditentukan oleh perawatan saat tanaman tumbuh, tetapi dimulai sejak pemilihan benih hingga penanganan hasil panen. Penerapan teknik budidaya yang tepat akan menghasilkan tanaman yang sehat, produktif, dan mampu memberikan hasil panen berkualitas tinggi.
Langkah pertama yang harus diperhatikan adalah penggunaan benih jeruk bermutu. Benih yang baik harus bebas dari patogen sistemik, termasuk penyakit Huanglongbing (HLB/CVPD) yang hingga kini belum ditemukan obatnya. Benih juga harus memiliki kemurnian varietas batang atas dan batang bawah serta diproduksi melalui proses sertifikasi sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 42/Kpts/SR.130/D/10/2019. Ciri benih bermutu antara lain berlabel biru, berasal dari hasil okulasi pada batang bawah Jeruk Japansche Citroen (JC), tinggi okulasi sekitar 20 cm dari leher akar, memiliki batang bawah lurus berdiameter sekitar 1 cm, tinggi tanaman 75–100 cm, perakaran sehat, dan ditanam sejak dini dalam polibag. Untuk menjamin kualitasnya, benih sebaiknya diperoleh dari penangkar resmi yang dibina oleh Dinas Pertanian dan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB).
Tahap berikutnya penyiapan lahan. Pilih lokasi yang sesuai dengan kebutuhan tumbuh jeruk nipis, yaitu pada ketinggian 200–1.300 mdpl, curah hujan 1.000–1.500 mm per tahun atau tersedia irigasi, penyinaran sekitar delapan jam per hari, serta memiliki tanah yang subur dengan drainase dan aerasi yang baik. Kondisi fisik lahan perlu menjadi prioritas karena lebih sulit diperbaiki dibandingkan sifat kimia tanah.
Lahan yang akan ditanami harus dibersihkan dari pohon besar, tunggul, batu, semak, dan gulma, terutama alang-alang. Pada lahan dengan kemiringan lebih dari 30 persen, perlu dibuat terasering untuk mengurangi risiko erosi. Setelah itu dilakukan plotting dengan memasang ajir sesuai jarak tanam. Sistem tanam baris tunggal berjarak 3 × 4 meter menghasilkan sekitar 800 pohon per hektare, sedangkan Sistem Tanam Rapat (SITARA) dengan model baris ganda berjarak 4 × 5 meter mampu mencapai sekitar 1.000 pohon per hektare.
Tahap berikutnya adalah membuat lubang tanam berukuran 60 × 60 × 60 cm. Tanah galian dicampur dengan 10–20 kg pupuk kandang atau kompos serta 1 kg dolomit, kemudian dimasukkan kembali ke dalam lubang dan didiamkan minimal dua minggu sebelum tanam. Untuk lahan basah, dibuat gundukan setinggi 30–50 cm atau sekitar 75 cm di atas tinggi air pasang tertinggi pada lahan pasang surut.
Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan agar tanaman lebih cepat beradaptasi. Gunakan benih yang sehat dengan perakaran normal. Akar yang melengkung dapat dipotong terlebih dahulu, sedangkan benih dengan akar busuk atau melingkar di pangkal tidak boleh digunakan. Buat lubang tanam berukuran 20 × 20 × 20 cm, atur akar agar menyebar merata dengan akar tunggang mengarah ke bawah, kemudian timbun tanah hingga sekitar 5 cm di atas leher akar. Setelah itu pasang ajir sekitar 20 cm dari pangkal batang dan lakukan penyiraman secukupnya.
Selama masa pertumbuhan, tanaman membutuhkan pemeliharaan rutin. Pengairan sangat penting, terutama pada tanaman berumur kurang dari dua tahun saat musim kemarau. Metode pengairan disesuaikan dengan kondisi lahan, seperti sistem gentong atau kubangan di lahan kering, alur resapan pada lahan beririgasi, serta saluran satu arah pada lahan pasang surut. Tanaman yang mati atau terserang HLB harus segera dicabut hingga akarnya, kemudian dibakar agar penyakit tidak menyebar. Benih yang digunakan untuk penyulaman dan cara penanaman harus sesuai dengan rekomendasi. Pemeliharaan juga meliputi penyiangan gulma dan pemangkasan. Gulma dibersihkan secara rutin agar tidak bersaing dalam memperoleh air dan unsur hara. Pemangkasan pertama dilakukan saat tanaman berumur sekitar enam bulan, kemudian dilanjutkan setelah panen raya atau ketika tajuk terlalu rimbun. Pemangkasan membantu menjaga kesehatan tanaman sekaligus meningkatkan kualitas buah. Untuk memperoleh buah yang seragam, lakukan penjarangan buah saat ukurannya masih sebesar kelereng. Buang buah yang cacat dan sisakan maksimal tiga buah pada setiap dompol. Buah hasil penjarangan yang sehat dapat dimanfaatkan sebagai bahan kompos atau ditimbun di kebun sebagai pupuk organik. Kebutuhan unsur hara dipenuhi melalui pemupukan organik dan kimia. Pupuk organik dan dolomit berfungsi memperbaiki kesuburan tanah, terutama pada tanah dengan pH di bawah 5. Aplikasinya dilakukan menjelang musim hujan. Sementara itu, pupuk kimia diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nitrogen, fosfor, dan kalium yang tidak dapat dipenuhi seluruhnya oleh pupuk organik. Pemupukan dapat menggunakan pupuk tunggal, pupuk majemuk (NPK), atau kombinasi keduanya sesuai kebutuhan tanaman.
Jeruk nipis umumnya siap dipanen pada umur 3–4 bulan setelah bunga mekar. Buah matang ditandai antara lain tekstur kulit halus, warna kulit cerah, aroma lebih harum, pori kulit lebih halus, jika ditekan dengan kedua jari terasa lembek (tidak keras) dan jika dibelah lalu diperas kadar airnya tinggi. Panen dilakukan saat cuaca cerah menggunakan gunting panen yang bersih dan tajam dengan cara memotong tangkainya, lalu potong kembali tangkai buahnya hingga rata dengan pangkal buah agar tidak melukai buah yang lain, buah segera dipindahkan ke tempat teduh dan dikirim ke gudang untuk penanganan pascapanen.
Tahap pascapanen dimulai dengan pencucian menggunakan larutan pembersih 0,5–1 persen untuk menghilangkan sisa pestisida dan kotoran. Selanjutnya dilakukan sortasi untuk memisahkan buah yang rusak atau memar, kemudian grading berdasarkan jumlah buah per kilogram, yaitu Kelas A (15–16 buah/kg), Kelas B (18–20 buah/kg), dan Kelas C (lebih dari 20 buah/kg).
Dengan budi daya yang tepat, tanaman akan tumbuh sehat, produktif, menghasilkan buah berkualitas tinggi, dan memiliki nilai jual yang lebih baik. (WD 2026)
Sumber:
- Ernawati H.R.,dkk. (2019). Budidaya jeruk nipis (Citrus Aurantifolia). Direktorat Sayuran dan Tanaman Obat. Pertanian Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/21262
- Pirmansyah (2019). Perbanyakan tanaman jeruk nipis (Citrus aurantifolia L.) secara vegetatif dengan menggunakan metode teknik okulasi di Instalasi Kebun Benih Hortikultura (IKBH) Sudiang, Sulawesi Selatan. Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9503





