Pinang Betara memiliki prospek ekspor yang baik sehingga kualitas produk perlu dijaga melalui proses pengeringan yang tepat dan sesuai standar ekspor. Pengeringan memengaruhi kadar air biji serta membantu mencegah kerusakan akibat mikroorganisme dan hama. Petani umumnya menggunakan metode pengeringan konvensional secara konsisten atau memanfaatkan oven pengering.
Pinang (Areca catechu L.) varietas Betara merupakan salah satu komoditas pertanian yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berpotensi besar untuk dikembangkan sebagai komoditas ekspor unggulan Indonesia. Pinang telah menjadi salah satu komoditas unggulan sektor pertanian yang berkontribusi signifikan terhadap kegiatan ekspor daerah. Nilai ekspor pinang asal Provinsi Jambi tahun 2026 sejak Januari hingga April tercatat sebesar US$ 20,8 juta (BPS, 2026).
Perlindungan terhadap kualitas Pinang Betara menjadi sebuah keharusan demi menjaga angka ekspor yang fantastis tersebut. Salah satu aspek yang menentukan kualitas pinang adalah proses pengeringan. Tahapan pengeringan sangat krusial karena hasilnya akan memengaruhi tingkat kadar air akhir biji pinang. Umumnya, waktu yang dibutuhkan untuk melakukan proses pengeringan buah pinang relatif lama, yaitu sekitar 30-45 hari. Kadar air yang tinggi membuat biji pinang memiliki umur simpan yang pendek. Tidak hanya itu, kerentanan biji pinang terhadap serangan mikroorganisme dan hama juga meningkat selama masa penyimpanan. Karena itu, proses pengeringan pinang yang optimal penting untuk menjaga kualitas produk dan memenuhi standar pasar ekspor bagi petani, pedagang pengumpul, dan eksportir.
Ada dua cara yang biasa digunakan petani untuk mengeringkan Pinang Betara, yaitu dijemur di bawah matahari dan dikeringkan dengan oven. Cara konvensional dengan menjemur biji/buah pinang harus dilakukan secara benar. Konsisten adalah kunci untuk menjaga kualitas pinang. Sebab titik kritis kerusakan ada pada saat proses membolak-balik buah/biji pinang yang dilakukan secara tidak konsisten. Sementara itu, penggunaan oven sebenarnya dapat menghasilkan kadar air yang ideal. Metode ini juga dinilai efektif dan efisien. Akan tetapi, kendala biaya membuat teknologi ini masih sulit dimiliki oleh para petani.
Berbagai hal yang harus diperhatikan untuk optimalisasi proses pengeringan buah pinang segar dan biji pinang hasil pengupasan atau pembelahan, yaitu:
- Penentuan indeks panen buah yang akan dipanen (hijau, setengah oranye atau seluruhnya oranye) tergantung pada permintaan pasar.
- Melakukan sortasi tahap 1 → memisahkan antara pinang hijau dengan pinang oranye.
- Sortasi tahap 2 → memisahkan pinang yang telah mengalami kerusakan (busuk, bonyok, terkelupas, serangan hama penyakit atau serangan jamur) dengan buah pinang yang tidak mengalami kerusakan.
- Memiliki lantai jemur dan rumah pengering pinang.
- Membersihkan lantai jemur (bebas dari segala macam bentuk kotoran dan debu).
- Rumah pengeringan memiliki sirkulasi udara yang baik.
- Melakukan tahapan membolak-balikkan pinang selama proses pengeringan.
- Tidak mencampur produk dalam area pengeringan karena dapat mengakibatkan migrasi silang (perpindahan kadar air).
- Tidak meletakkan produk lain di dalam area pengeringan seperti pakaian, perkakas, atau kelengkapan rumah tangga lainnya.
Pemahaman mengenai potensi kerusakan biji/buah pinang saat proses pengeringan menjadi hal penting dalam perlindungan kualitas komoditi ekspor. Dengan memperhatikan dan menerapkan langkah-langkah yang harus diperhatikan, petani dapat mempertahankan kualitas produksi dan meningkatkan potensi ekspor Pinang Betara. (Indira,2026).
Sumber:
- Badan Pusat Statistik Provinsi Jambi. (2026). Nilai ekspor asal Provinsi Jambi (US$). https://jambi.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDc2IzI=/nilai-ekspor-asal-provinsi-jambi--us--.html
- Nofriati, D. (2023). Optimalisasi tahapan pengeringan pinang betara: komoditas unggulan spesifik lokasi Jambi. Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Jambi. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/21780
- Suheiti, K., Ardi, H., & Putra, E. (2023). Panen dan pascapanen pinang betara: komoditas unggulan spesifik lokasi Jambi. Balai Penerapan Standar Instrumen Pertanian Jambi. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/21782





