Produktivitas bawang putih tidak hanya ditentukan oleh kesuburan lahan, tetapi juga oleh ketepatan teknik budi dayanya. Dengan menerapkan tahapan budi daya sesuai rekomendasi, mulai dari pemilihan benih hingga penanganan pascapanen, hasil panen lebih optimal baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Bawang putih merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki peran penting sebagai bumbu utama dalam berbagai masakan Indonesia. Tingginya tingkat konsumsi menyebabkan kebutuhan bawang putih terus meningkat dari waktu ke waktu. Kondisi ini membuka peluang yang besar bagi pengembangan usaha budi daya bawang putih di dalam negeri. Terlebih lagi, produksi nasional hingga kini belum mampu memenuhi permintaan pasar sehingga sebagian besar kebutuhan masih bergantung pada impor. Untuk itu, peningkatan produksi domestik menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pengembangan komoditas ini. Penerapan teknologi budi daya yang sesuai dengan kondisi lahan dan kebutuhan tanaman menjadi langkah penting untuk meningkatkan produktivitas dan memperbaiki kualitas umbi.
Persiapan benih. Benih berasal dari umbi varietas unggul berumur 100–120 hari yang telah disimpan selama 5–8 bulan. Dalam budi daya bawang putih yang digunakan sebagai benih adalah siungnya, yang dilepas dari umbinya , Siung yang digunakan dipisahkan dengan hati-hati, berisi penuh, keras, licin, tidak kisut, berbobot 1,5–3 gram, bebas hama dan penyakit, telah melewati masa dormansi, serta belum mengeluarkan tunas hijau.
Pengolahan lahan. Lahan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman, kemudian diolah menggunakan cangkul, bajak, atau traktor hingga gembur. Jika menggunakan bajak, lakukan pembajakan sedalam 20–30 cm sebanyak 2–3 kali, dimulai 21 hari sebelum tanam dengan selang satu minggu. Bedengan yang telah dibuat disarankan disemprot herbisida pratumbuh satu minggu sebelum tanam. Selanjutnya, tanah diratakan dan dibentuk menjadi bedengan berukuran lebar 100–150 cm, tinggi 20–30 cm, dengan panjang menyesuaikan kondisi lahan. Di antara bedengan dibuat parit selebar 30–40 cm untuk irigasi.
Pemberian pupuk dasar. Diberikan bersamaan dengan pembuatan bedengan berupa pupuk kandang atau kompos 10 ton/ha. Pupuk disebar di atas bedengan lalu diaduk rata dengan tanah. Setelah diberi pupuk kandang, lahan dibiarkan lagi selama dua minggu. Jika kondisi tanah masam, perlu diberikan kapur pertanian dengan cara disebar di atas lahan lalu diaduk rata. Berikan pupuk SP36 setelah pupuk kandang, 15–30 hari sebelum tanam dengan dosis 375 kg/ha. Pupuk disebar merata di atas bedengan kemudian dicampurkan dengan tanah lapisan atas.
Penanaman. Benih bawang putih ditanam dengan menancapkan satu siung per lubang sedalam 3–4 cm dalam posisi tegak hingga tertimbun tanah. Penanaman yang terlalu dalam menghambat pertumbuhan, sedangkan terlalu dangkal membuat tanaman mudah rebah. Jarak tanam 12,5 cm × 12,5 cm untuk benih berukuran besar, sedangkan untuk benih kecil atau produksi benih jarak 10 cm × 10 cm. Pada tanah aluvial bertekstur berat, penanaman sedalam ½ siung dikombinasikan dengan mulsa jerami setebal 5 cm atau mulsa plastik. Waktu tanam terbaik adalah akhir musim hujan (akhir April–awal Mei).
Pemeliharaan Tanaman
- Pemasangan mulsa dilakukan sebelum atau sesudah tanam, tergantung jenis mulsa. Mulsa plastik hitam perak dipasang sebelum tanam dengan bagian hitam menghadap tanah, sedangkan mulsa jerami disebarkan setelah tanam secara merata setebal 3–5 cm di atas bedengan.
- Pengairan dan drainase. Disesuaikan dengan musim dan kondisi kelembapan tanah. Pada musim hujan, penyiraman dilakukan sekitar tiga hari sekali atau sesuai kebutuhan, serta tanaman sebaiknya dibilas dengan air bersih setelah hujan untuk mengurangi risiko penyakit. Pada musim kemarau, penyiraman dilakukan setiap hari hingga umbi mulai terbentuk, kemudian dikurangi. Jika tanah masih lembap, penyiraman tidak perlu dilakukan.
- Pemupukan susulan. Selama pemeliharaan bawang putih diberikan pupuk susulan sebanyak empat kali, yakni saat tanaman berumur 21, 35, 49, dan 63 hari setelah tanam. Pupuk yang diberikan setiap kali pemupukan adalah 286 kg ZA/ha dan 50 kg KCl/ha. Pemberian pupuk dengan cara ditabur di sela-sela barisan tanaman.
- Pengendalian gulma. Dilakukan sekitar empat kali, dimulai sebelum tanam dengan herbisida pratumbuh, kemudian pada umur 25–30 hari setelah tanam (HST), 50–60 HST, dan 70–80 HST. Penyiangan dilakukan secara mekanis dengan mencabut gulma dan membenamkannya di antara bedengan. Tanaman yang sakit dicabut lalu dibakar atau dibenamkan di lokasi terpisah. Pengendalian gulma juga dapat dilakukan secara kimiawi menggunakan herbisida.
Pengendalian hama dan penyakit. Sebaiknya dilakukan secara terpadu (PHT) dengan mengutamakan tindakan pencegahan, seperti menggunakan benih sehat dan varietas tahan, menjaga sanitasi lahan, melakukan rotasi tanaman, mengatur waktu tanam secara serempak, memasang perangkap hama, serta memusnahkan tanaman atau bagian tanaman yang terserang. Apabila serangan telah melampaui ambang pengendalian, penggunaan insektisida dan fungisida yang tepat dan dosis sesuai anjuran dapat dilakukan secara bijaksana untuk menekan populasi hama dan perkembangan penyakit.
Panen dilakukan saat tanaman berumur sekitar 3,5–4 bulan atau ketika 50–60% daun menguning dan mengering, pangkal batang melemas (tipe softneck), serta umbi telah keras dan mulai menyembul ke permukaan tanah. Panen sebaiknya dilakukan saat cuaca cerah dengan mencabut seluruh tanaman beserta umbinya, kemudian umbi dibersihkan dan diikat untuk memudahkan pengangkutan.
Pascapanen bertujuan mengurangi susut bobot dan menjaga kualitas umbi. Tahapannya meliputi pelayuan (curing) hingga umbi kering, sortasi berdasarkan mutu dan ukuran, penyimpanan di tempat berventilasi baik pada suhu 25–30°C dan kelembapan 60–70%. Pengolahan dilakukan untuk memperpanjang daya simpan dan meningkatkan nilai jual bawang putih.
Penerapan teknik budi daya yang tepat menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas bawang putih. Upaya ini tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga mendukung peningkatan produksi bawang putih nasional untuk mengurangi ketergantungan pada impor. (WD 2026)
Sumber:
- Titisari, A. , Setyorini, E., Sutriswanto, S., Suryantini, H. (2019). Kiat sukses budi daya bawang putih. Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9503
- Basuki, R.S. , Efendi, A. M., Hermanto, C. (2019). Teknologi inovatif budidaya bawang putih. Balai Penelitian Tanaman Sayuran, https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/12633





