Ketersediaan air menjadi faktor penting bagi keberlanjutan produksi pertanian, terutama pada musim kemarau. Pemanfaatan sumber air lokal melalui pompa irigasi menjadi solusi cepat, namun kebutuhan energi yang tinggi dapat meningkatkan emisi karbon dan berpengaruh pada lingkungan. Karena itu, teknologi irigasi bertenaga surya hadir sebagai alternatif yang lebih hemat energi, efisien, dan ramah lingkungan.
Pengembangan pertanian di Indonesia kerap kali terhambat oleh keterbatasan air, terutama ketika musim kemarau. Irigasi menggunakan pompa menjadi solusi pengairan pada lahan kering terutama saat musim kemarau. Teknologi pompa membantu menyedot dan mengambil air tanah untuk kemudian dialirkan ke permukaan. Pompanisasi bermanfaat untuk penyediaan stabilisasi pasokan air, memperluas jangkauan air pada lahan kering, dan distribusi air yang efisien juga tepat waktu. Namun, penerapan irigasi pompa juga memiliki kendala, seperti kerusakan infrastruktur, kebocoran saluran, struktur tanah yang tidak rata, lokasi lahan terpencil, dan keterbatasan pasokan listrik atau bahan bakar. Integrasi antara sistem irigasi dan pompanisasi yang komprehensif dapat mewujudkan produktivitas lahan dan tanam yang stabil dan berkelanjutan.
Dari banyaknya kendala tersebut, rendahnya infrastruktur menjadi alasan tidak terdukungnya irigasi yang efektif. Kondisi ini seringkali terjadi pada daerah-daerah terpencil, terutama dalam penyediaan pasokan listrik dan penyediaan bahan bakar. Pompa dengan bahan bakar fosil memberikan dampak yang kurang baik dalam lingkungan, emisi gas dari bahan bakar ini mengandung partikel polutan yang mencemari udara dan berpengaruh pada perubahan iklim.
Inovasi irigasi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan adalah dengan membuat sistem irigasi pompa tenaga surya. Indonesia memiliki potensi radiasi matahari yang cukup besar dan berlangsung sepanjang tahun. Radiasi surya ini kemudian dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi penggerak pompa dan pengairan. Energi surya memberikan keuntungan seperti ketersediaan bahan yang lebih berlimpah, mendukung kebijakan energi nasional, dan tidak memerlukan transmisi energi sehingga mudah dibangun di daerah terpencil.
Tenaga surya dapat mengumpulkan energi melalui sel surya, yaitu bahan semikonduktor yang dapat mengubah radiasi surya menjadi energi listrik. Sel surya tersusun atas bahan semikonduktor yang terbentuk dari silikon kristal dan tersusun dalam lapisan tipis setebal 0,3 mm. Bahan semikonduktor di dalamnya memiliki kutub positif dan kutub negatif yang memungkinkan terjadinya aliran arus listrik ketika terpapar cahaya matahari.
Pompa air tenaga surya berpeluang unggul dalam meringkas pengelolaan, menghemat biaya operasional dan pemeliharaan, serta ramah lingkungan. Instalasi dan pengaplikasian pompa tenaga surya tersusun atas rangkaian:
- Solar cell, alat penyerap energi surya yang mengubahnya menjadi energi listrik.
- Solar charge controller, alat pengontrol penyimpanan dan pemakaian energi listrik.
- Baterai, tempat pengisian energi listrik dan penyuplai energi pada beban.
- Inverter, alat pengubah arus DC (Direct Current) ke AC (Alternating Current).
- Pompa air, sebagai penyiram air ke kebun atau tanaman.
Informasi mengenai kebutuhan dan kesediaan sumber air, topografi serta potensi radiasi matahari perlu dikumpulkan dan dianalisis terlebih dahulu agar sesuai dan cocok dengan daerah pengaplikasian. Ketersediaan air dapat dihitung menggunakan current meter, adapun radiasi matahari diukur dari AWS portlog, dan tinggi rendah tipografi diukur dengan total station. Informasi ini kemudian dapat digunakan sebagai pertimbangan spesifikasi komponen, yaitu panel surya, baterai kering, pompa, dan inverter.
Contoh pemanfaatan pompa tenaga surya, di antaranya dapat dilakukan pada sistem penyiraman salak, pengairan bawang, dan sistem irigasi sawah percobaan. Melalui listrik yang dihasilkan tenaga surya, pompa air dapat bekerja secara otomatis tanpa bergantung pada listrik PLN (Perusahaan Listrik Negara). Kapasitas listrik tenaga surya umumnya berkisar antara 1–5 kilowatt puncak (kWp), angka ini cukup untuk mendukung kegiatan pertanian skala kecil hingga menengah.
Tenaga surya adalah alternatif energi yang mendukung prinsip pertanian berkelanjutan. Tidak hanya menekan ketergantungan bahan bakar fosil, tetapi juga bisa menghemat biaya operasional jangka panjang, serta aksi nyata modernisasi pertanian yang ramah lingkungan. (AM’2026)
Sumber:
- Rachman, R.O.(2025). Pemanfaatan tenaga surya untuk pompanisasi irigasi. Buletin Teknologi & Inovasi Pertanian, 4(2), 1—4.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/28929 - Rejekiningrum, P., & Kartiwa, B. (2017). Pengembangan sistem irigasi pompa tenaga surya hemat air dan energi untuk antisipasi perubahan iklim di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Jurnal Tanah dan Iklim, 41(2), 159-171.
https://repository.pertanian.go.id/items/71444810-946f-4ccc-b081-8c468d23b9ee






