Serangan penyakit pada tanaman padi masih menjadi hal yang menakutkan yang kerap mengancam kegagalan panen. Padahal, deteksi dini gejala serangan penyakit merupakan langkah yang krusial. Untuk itu, mengenali gejala penyakit pada padi sejak awal serta strategi pengendalian yang efektif adalah kunci pertumbuhan tanaman yang optimal dan mengamankan produksi tinggi.
Penyakit pada tanaman padi merupakan ancaman utama yang dapat menurunkan pertumbuhan dan hasil panen secara signifikan. Keberhasilan mengamankan produktivitas padi sangat bergantung pada pemahaman tentang penyebab, mendeteksi gejala sejak awal, serta menerapkan metode pengendalian yang efektif. Setiap penyakit memiliki penyebab, gejala, serta cara pengendalian yang berbeda. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang baik tentang jenis dan karakteristik penyakit pada padi. Selain itu, penerapan pengelolaan terpadu perlu dilakukan agar serangan dapat ditekan secara efektif, memastikan padi tumbuh optimal hingga menghasilkan standar panen yang tinggi. Berikut penyakit padi beserta cara pengendaliannya:
Hawar Daun Bakteri (HDB)
Gejala: Awalnya daun menguning/kemerahan di tepi, lalu menjadi abu-abu dan kering. Pada tanaman muda, daun cepat menggulung, layu, kerdil, bahkan mati. Gejala jelas terlihat saat fase anakan maksimum hingga pembungaandan dapat menyebar ke pelepah pada varietas peka.
Pengendalian: Menanam varietas tahan, sanitasi sisa tanaman terinfeksi, penggunaan benih sehat dan agens hayati (seperti Paenibacillus polymyxa), serta pemupukan nitrogen sesuai takaran.
Blas
Gejala: penyakit blas pada padi meliputi blas daun dan busuk leher. Gejala awal berupa bercak kecil cokelat keputihan. Bercak khas berbentuk belah ketupat dengan tengah putih/kelabu dan tepi cokelat. Serangan berat menyebabkan daun kering, tanaman kerdil, bahkan mati, serta batang mudah patah. Menyerang leher malai menjadi cokelat kehitaman, mudah patah, dan menyebabkan malai hampa.
Pengendalian
- Pemupukan berimbang. Pada daerah serangan endemis dianjurkan tidak memupuk dengan pupuk N lebih dari 90 kg per Ha karena meningkatkan kerentanan.
- Penanaman dan pergiliran varietas tahan
- Tidak menggunakan benih dari daerah endemis blas dan melakukan perlakuan benih dengan fungisida.
- Hindari waktu tanam pada saat keluar malai dan awal berbunga terdapat banyak embun. Apabila ditemukan gejala serangan blas, maka perlu penyemprotan fungisida.
- Membakar jerami dari pertanaman yang sakit untuk mengurangi sumber infeksi.
- Jika diperlukan, tanaman dapat diaplikasi dengan fungisida yang berbahan aktif.
Tungro
Gejala: tanaman kerdil, daun menguning-oranye hingga kecokelatan dari bawah ke atas, anakan dan bulir berkurang, serta daun tampak seperti kipas. Pada daun muda muncul garis/bercak putih. Singgang menjadi sumber inokulum virus dan penyakit cepat menyebar jika populasi wereng daun hijau tinggi.
Pengendalian
- Pengaturan waktu tanam dilakukan dengan persemaian minimal 5 hari setelah pengolahan tanah dan memastikan singgang sebagai sumber virus sudah dibersihkan. Tanam seawal mungkin agar saat puncak populasi wereng hijau, tanaman sudah berumur lebih dari 60 HST dan lebih tahan terhadap tungro.
- Tanam serentak dilakukan agar umur tanaman seragam dalam satu hamparan, sehingga membatasi peluang penularan virus tungro.
- Pergiliran tanaman dengan menanam tanaman bukan inang virus tungro.
- Penggunaan varietas tahan disesuaikan dengan kondisi setempat. Pergiliran varietas tahan karena penanaman terus-menerus dapat memicu munculnya strain baru virus dan adaptasi wereng hijau yang mampu mematahkan ketahanan varietas.
- Eradikasi dengan menghilangkan/membersihkan sumber inokulum tungro.
- Aplikasi insektisida dilakukan di daerah endemis sehari sebelum sebar benih, terutama jika populasi wereng daun hijau sebanyak 20 ekor/25 ayunan tunggal.
Kerdil Rumput
Gejala: Tanaman yang terinfeksi berat tampak seperti rumput: anakan banyak, kerdil, dan berbentuk kipas. Daun pendek, sempit, kaku, hijau kekuningan dengan bercak seperti karat. Gejalanya mirip tungro, tetapi warna daun lebih hijau. Penyakit bertahan hingga fase pemasakan.
Pengendalian: Pengendalian dilakukan dengan menanam varietas tahan, pergiliran tanaman non-padi, dan tanam serentak. Sanitasi dilakukan dengan membersihkan tanaman sakit dan sumber virus. Untuk mengatasi vektor penyakit ini digunakan insektisida karbofuran melalui perlakuan di persemaian dan tanah, serta penyemprotan tambahan jika ditemukan wereng cokelat hingga umur 30 HST.
Kerdil Hampa
Gejala: Tanaman menjadi kerdil dan pada fase pemasakan memiliki anakan lebih banyak dari tanaman sehat. Pada fase awal, daun pecah-pecah di tepi, menggulung, dan mengalami klorosis (kuning hingga kecokelatan). Daun bendera dapat melintir, berubah bentuk, dan memendek.
Pengendalian: Menanam varietas tahan wereng cokelat, tanam serempak, menerapkan budi daya tanaman sehat, serta membajak tunggul terinfeksi setelah panen untuk mengurangi sumber virus.
Pengendalian penyakit yang tepat menjaga tanaman tetap sehat hingga panen, sehingga hasil dan kualitas gabah tetap optimal serta risiko gagal panen dapat ditekan.(WD 2026)
Sumber
- Purnama, G. dkk. (2023). Teknik mengendalikan hama dan penyakit tanaman padi. Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan. Pertanian Press
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22258 - Suprihanto, dkk. (2024). Pengendalian hama dan penyakit utama tanaman padi. Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi. Pertanian Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/26536





