Keterbatasan air pada musim kemarau masih menjadi hambatan utama dalam budi daya kedelai. Kekeringan dapat berisiko menurunkan produktivitas panen secara signifikan. Penggunaan varietas kedelai toleran kekeringan menjadi langkah strategis untuk menjaga hasil tetap optimal di tengah tekanan iklim yang semakin ekstrem.
Kedelai memiliki peran strategis sebagai sumber protein nabati bagi masyarakat Indonesia. Berbagai produk pangan seperti tempe, tahu, kecap, hingga susu kedelai sangat bergantung pada ketersediaan komoditas ini. Namun, produksi kedelai nasional belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri. Produktivitas yang rendah dipengaruhi oleh banyak faktor, mulai dari penggunaan varietas yang kurang sesuai, pengelolaan budi daya yang belum optimal, alih fungsi lahan pertanian, hingga dampak perubahan iklim.
Perubahan iklim membuat pola musim sulit diprediksi. Kemarau lebih panjang, sementara pada waktu tertentu hujan turun dengan intensitas tinggi hingga menyebabkan banjir dan genangan. Kondisi ini sangat memengaruhi tanaman kedelai. Bahkan di wilayah pesisir, ancaman salinitas akibat masuknya air laut ke lahan pertanian membuat tanaman sulit tumbuh dan produksinya menurun.
Tanaman kedelai dikenal cukup sensitif terhadap kekeringan, terutama saat memasuki fase pembungaan, pembentukan polong, dan pengisian biji. Jika kekurangan air terjadi pada fase tersebut, ukuran tanaman menjadi lebih kecil, daun menyusut, batang mengecil, dan hasil panen menurun drastis.
Pengembangkan varietas unggul kedelai yang mampu bertahan pada kondisi minim air terus diupayakan. Kedelai toleran kekeringan dirancang agar tetap dapat tumbuh dan berproduksi baik di lahan kering maupun saat musim kemarau. Varietas kedelai unggul memiliki sistem perakaran yang lebih dalam sehingga mampu mencari sumber air lebih efektif. Selain itu memiliki mekanisme fisiologis untuk mempertahankan kadar air di dalam sel sehingga tidak mudah layu.
Beberapa Varietas Unggul Kedelai
- Dering
Dirakit khusus untuk lahan kering. Potensi hasil mencapai 2,8 ton per hektare dengan umur panen sekitar 81 hari setelah tanam. Selain tahan kekeringan, varietas ini juga tahan terhadap hama penggerek polong dan penyakit karat daun. - Gema
Varietas ini cukup populer di kalangan petani dan merupakan hasil persilangan kedelai lokal Wilis dengan galur asal Jepang Shirome. Umur panen genjah, sekitar 73–80 hari. Potensi hasilnya mencapai 2 hingga 2,8 ton per hektare. Berbiji besar dengan warna kulit kuning cerah. Gema dikenal adaptif di berbagai wilayah, baik di lahan sawah maupun tegalan, sehingga cocok dikembangkan pada musim kemarau. - Kedelai hitam Detam
Dimanfaatkan sebagai bahan baku industri pangan, terutama kecap dan pangan fungsional. Varietas Detam memiliki adaptasi luas, ukuran biji yang besar, dan kandungan protein yang sangat tinggi. Varietas Detam 1 berpotensi hasil rata-rata 2,51 ton/hektare. Umur panen kira-kira 85 hari setelah tanam. Detam 2 mempunyai hasil 2,46 t/ha, bersifat agak tahan terhadap kekeringan pada fase reproduktif sehingga adaptif ditanam di lahan tegalan maupun sawah. Varietas Detam 3 Prida mampu berproduksi 2,88 t/ha. Varietas Detam 4 Prida berdaya hasil 2,54 t/ha, berumur genjah, dan toleran kekeringan. - Tanggamus
Varietas ini menjadi andalan petani di lahan kering masam. Varietas ini banyak dikembangkan di Sumatra hingga Gorontalo karena toleran terhadap tingkat keasaman tanah yang tinggi, tahan rebah, polong tidak mudah pecah, dan tahan moderat terhadap penyakit karat daun. Potensi hasil mencapai 2,5–2,8 ton per hektare. - Pangrango
Varietas ini unik karena mampu tumbuh baik pada kondisi naungan. Cocok diterapkan pada sistem tumpang sari atau agroforestri bersama tanaman perkebunan. Kemampuan beradaptasi pada cahaya rendah menjadikannya fleksibel untuk berbagai sistem budi daya. Pangrango mampu berproduksi optimal meskipun menerima naungan hingga 70%. Umur panen relatif genjah, pada kisaran 80–90 hari. Potensi hasil berkisar antara 2–2,5 ton per hektare. - Dega 1
Memiliki ukuran biji besar, kandungan protein tinggi, serta umur panen yang relatif cepat, sekitar 69–73 hari setelah tanam. Rerata bobot mencapai ±22-98 gram per (100) biji. Varietas ini toleran terhadap penyakit karat daun.
Pengembangan varietas kedelai toleran kekeringan menjadi langkah penting menghadapi tantangan perubahan iklim. Dengan dukungan teknologi budi daya yang tepat, inovasi varietas unggul kedelai yang adaptif diharapkan mampu menjaga produktivitas sekaligus mendukung ketahanan pangan Indonesia di tengah tantangan perubahan iklim. (JA 052026)
Sumber
- Hamim, Sopandie, dan Jusuf, M. (1996). Beberapa karakteristik morfologi dan fisiologi kedelai toleran dan peka terhadap cekaman kekeringan. Hayati, 3(1), 30-34. https://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/42582/Hamim_beberapa_karakteristik.pdf?sequence=1&isAllowed=y
- Praptana, R. H. & Mejaya, M. J. (2014). Padi, jagung dan kedelai unggul baru toleran dampak perubahan iklim. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15708




