Bukan sekadar kudapan gurih yang digemari banyak orang, kacang tanah menyimpan potensi besar sebagai sumber protein nabati, bahan baku industri pangan, dan komoditas bernilai ekonomi tinggi. Kandungan gizinya yang melimpah serta permintaan pasar yang terus meningkat menjadikan kacang tanah sebagai komoditas strategis yang menjanjikan dan membuka peluang ekonomi bagi petani.
Kacang tanah (Arachis hypogaea L.) merupakan tanaman pangan penghasil minyak dan protein. Dalam 100 gram bijinya terkandung >25% protein, >40% lemak, dan kurang lebih 450 kalori. Tingginya kandungan gizi membuat komoditas ini memiliki nilai penting sebagai sumber protein nabati, lemak dan energi. Permintaan kacang tanah terus bertumbuh dan meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan pesatnya industri makanan.
Konsumsi kacang tanah semakin meningkat, namun tidak diimbangi dengan produksinya yang masih terbilang rendah, terutama apabila dibandingkan dengan komoditas lain, seperti padi, jagung, dan kedelai. Popularitas kacang tanah dapat ditingkatkan salah satunya dengan dukungan kebijakan usaha tani yang unggul. Dengan luas lahan kering yang melimpah, Indonesia memiliki peluang produksi kacang tanah yang besar.
Produksi Kacang Tanah
Produksi kacang tanah termasuk mudah, karena dapat tumbuh hampir di seluruh wilayah Indonesia. Sentra produksi kacang tanah saat ini tersebar di wilayah Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Selatan. Terdapat 23 varietas unggul kacang tanah di Indonesia, di antaranya bernama unik seperti Gadjah, Banteng, Tapir, Trenggiling, Panter, dan Bima. Potensi hasil produksi dari setiap varietas berbeda sesuai kondisi lahan dan teknologi budi dayanya.
Kacang tanah mudah dibudidayakan di berbagai tempat, dari tanah aluvial hingga marginal. Tanaman polong ini tumbuh baik pada ketinggian 50-500 mdpl, bahkan hingga 1.500 mdpl. Budi daya kacang tanah dapat dilakukan secara tumpang sari dan monokultur. Pada sistem tumpang sari, kacang tanah dapat dikombinasikan pola pertanamannya dengan ubi kayu, jagung, dan kacang tunggak.
Pertanaman kacang tanah dimulai dengan mengolah tanah. Tanah diolah sebanyak sebanyak dua kali, yaitu pengolahan pertama dengan mencangkul dan meratakan tanah, lalu pengolahan kedua dengan membuat bedengan. Penanaman kemudian dilakukan pada musim hujan, yaitu pada musim hujan pertama (Januari/Februari–April/Mei) dan musim hujan kedua (September/Oktober–Desember/Januari).
Setelah tanam, proses selanjutnya adalah pemeliharaan dengan penyiangan, pembumbunan, serta pengendalian hama. Meski dapat ditanam di lahan marginal, kacang tanah dapat tumbuh maksimal pada media tanah dengan pH ideal pada angka 6,5–7 serta tingkat kelembaban 65–75%. Guna memaksimalkan hasil, kacang tanah juga dapat diberi pupuk seperti urea, SP36, dan KCI dengan dosis sedang. Hasil produksi dapat dipanen setelah 90–110 HST (hari setelah tanam), ketika daun mulai menguning dan polongnya mengeras.
Peluang Ekonomi Kacang Tanah
Budi daya kacang tanah tergolong berbiaya rendah, namun menghasilkan keuntungan ekonomi yang tinggi. Hal ini terjadi karena kacang tanah memiliki bintil akar yang mengikat nitrogen sehingga dapat menghemat biaya kebutuhan pupuk. Dari setiap hektare lahan diperkirakan dapat menghasilkan 1 hingga 5 ton kacang tanah.
Nilai ekonomi kacang tanah akan meningkat apabila diolah menjadi produk turunan, seperti selai kacang, susu nabati, tepung protein tinggi, hingga minyak goreng. Kacang tanah juga digunakan sebagai bahan baku industri makanan dan minuman, industri ini memiliki margin keuntungan yang besar dan peluang ekspor yang menjanjikan. Dukungan industri makanan sebagai bentuk kemitraan antara petani dan industri pengolah kacang sangat diperlukan untuk memperkuat agribisnis kacang tanah yang lebih modern. Melalui pola industri ini, petani mendapatkan bimbingan teknis, jaminan pembelian, serta harga beli yang stabil.
Dengan penerapan budi daya modern, kemitraan, dan dukungan teknologi, kacang tanah berpeluang menjadi komoditas unggulan bernilai tinggi. Pendampingan petani dalam penggunaan benih unggul, pemupukan tepat, serta pengelolaan pascapanen yang efisien dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing yang menjadikannya bagian penting dalam upaya mewujudkan kemandirian pangan nasional. (AM’2025)
Sumber:
- Faisal, H.N. (2021). Analisis kemanfaatan usaha tani kacang tanah sistem tumpangsari. Jurnal Agribis, 7(1), 7-15. https://doi.org/10.36563/agribis.v7i1.293
- Malik, A. (2016). Ekonomi kacang tanah. IAARD Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/8724





