Ketika perubahan iklim kian ekstrem dan curah hujan sulit diprediksi, sektor pertanian menjadi salah satu yang paling rentan terdampak. Di tengah ancaman kekeringan dan menipisnya sumber air, inovasi menjadi harapan baru. Teknologi hemat air hadir bukan sekadar untuk mengirit, tetapi untuk menyelamatkan produktivitas pangan dan menjamin keberlanjutan pertanian Indonesia di masa depan.
Teknologi hemat air dapat diartikan sebagai upaya pemanfaatan air dari berbagai sumber di petak usaha tani agar produktivitas, efisiensi, dan produksinya meningkat secara berkelanjutan. Volume dan kualitas sumber daya air yang makin menurun, mendorong masyarakat mencari cara menghemat air irigasi pertanian terutama di daerah-daerah kering atau yang mengalami kemarau panjang sebagai dampak perubahan iklim yang terus melaju makin cepat. Berikut teknologi hemat air yaitu:
Teknologi Panen Air, Embung
Embung merupakan salah satu bentuk teknologi panen air yang termasuk dalam sistem pemanenan air hujan (rainwater harvesting system). Teknologi ini berfungsi menangkap, menampung, dan memanfaatkan air hujan untuk berbagai keperluan. Beragam metode pemanenan air seperti sumur resapan, biopori, kolam penampung, dan rain garden juga digunakan, namun embung menjadi teknologi yang paling umum diterapkan di daerah dengan masalah kekurangan air.
Embung adalah waduk kecil yang berfungsi menampung air hujan dan aliran permukaan. Air ini digunakan untuk irigasi tambahan saat musim kemarau. Selain itu, embung juga membantu menambah cadangan air tanah. Embung sebaiknya dibangun di lahan dengan kemiringan 5–30% agar air mudah mengalir dan tersebar dengan baik. Tanah liat atau lempung cocok untuk lokasi embung karena tidak mudah bocor. Jika tanahnya labil, dinding embung bisa diperkuat dengan batu. Kini, banyak embung dilapisi bahan khusus seperti HDPE (high density polyethylene) atau geomembran untuk mencegah air merembes pada tanah berpori.
Teknologi irigasi hemat air
Irigasi tetes (drip irrigation) merupakan metode pemberian air melalui selang berlubang atau emiter yang meneteskan air langsung ke daerah perakaran tanaman dengan debit tetap dan tekanan tertentu. Teknik ini mampu memberikan air secara efisien, merata, dan sesuai kebutuhan tanaman. Perangkat utama irigasi tetes meliputi pompa, pengatur tekanan, pipa utama, pipa lateral, dan emiter. Emiter berfungsi mengatur aliran air (discharge) dari pipa lateral ke tanaman. Berdasarkan jenisnya, emiter dibedakan menjadi tiga: point source emiter (mengalirkan air dari satu titik dengan jarak lebih dari 1 meter), multiple-outlets emiter (mengalirkan air dari dua atau lebih titik), dan line source emiter (mengalirkan air melalui lubang-lubang sepanjang pipa lateral).
Irigasi semprot (sprayer irrigation) adalah teknik pemberian air melalui selang beremiter yang memancarkan air dalam bentuk butiran halus dengan debit tinggi. Sistem ini membutuhkan tekanan air minimal 1 bar (setara kolom air 10 meter).
- irigasi semprot (hose spray) atau irigasi kabut, yang menggunakan selang low-density polyethylene (LDPE) berdiameter 1 inci dengan lubang-lubang halus di sekelilingnya. Dengan tekanan sekitar 0,8 bar, selang mengeluarkan semprotan air halus menyerupai kabut dengan debit sekitar 28,8 liter/jam/meter, mampu mengairi lahan selebar 5 meter dan tinggi semprotan mencapai 1,6 meter.
- Irigasi fan jet sprayer merupakan sistem irigasi yang menggunakan emiter plastik untuk memancarkan air halus dengan debit tinggi, sekitar 50–100 liter per jam. Emiter ini dipasang pada selang tebal high-density polyethylene (HDPE) yang mengelilingi atau melewati pangkal tanaman buah. Teknologi ini memungkinkan setiap tanaman memperoleh air dengan cepat pada tekanan optimal 2 bar (setara kolom air 20 meter), yang dapat dihasilkan menggunakan pompa tekanan tinggi seperti pompa pemadam kebakaran.
Irigasi curah (sprinkler irrigation) merupakan sistem irigasi yang menyiram tanaman dengan memancarkan air bertekanan tinggi melalui alat penyiram berputar (sprinkler). Air keluar dari nozzle dan tersebar menyerupai butiran hujan yang jatuh ke tanah. Terdapat dua jenis mekanisme sprinkler: 1). Butterfly sprinkler, yang berputar karena dorongan air bertekanan. 2). Impact sprinkler, yang berputar akibat gaya kinetik dari pemukul yang didorong air, lalu dipantulkan untuk menyebarkan air lebih merata.
Pada impact sprinkler, air disemprotkan melalui nosel atau pengabut yang terdiri dari dua jenis: pengabut penggeser dan pengabut penyebar. Saat air keluar melalui pengabut penggeser, tekanan air mendorong pemukul untuk berputar di poros tegaknya. Pegas kemudian mengembalikan pemukul untuk memukul kembali pengabut, sehingga terjadi gerakan berputar terus-menerus yang menyebarkan air ke segala arah. Pancaran air yang dipantulkan pemukul menyirami area dekat pengabut, sedangkan semprotan utama menjangkau area yang lebih jauh. Kombinasi kedua pengabut ini membuat distribusi air menjadi lebih merata di seluruh area irigasi.
Irigasi butterfly sprinkler merupakan jenis sistem sprinkler yang banyak digunakan petani. Sistem ini bekerja pada tekanan 1–2 bar, dengan jangkauan semprotan 4–8 meter dan debit air 850–1.500 liter per jam. Sprinkler biasanya dipasang dengan jarak 4,5 meter antar pipa dan 5 meter antar unit sprinkler, sehingga untuk lahan seluas 40 x 45 meter dibutuhkan sekitar 80 unit sprinkler. Penggunaan airnya berkisar 600–1.000 liter per jam, menghasilkan butiran air halus seperti gerimis, sehingga aman untuk tanaman kecil.
Melalui penerapan teknologi ini, efisiensi penggunaan air dapat meningkat, ketersediaan air pertanian lebih terjamin, dan produktivitas lahan dapat dipertahankan secara berkelanjutan, sekaligus mendukung ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. (WD 2025)
Sumber:
- Sanusi, M.A. dkk. (2023).Teknologi hemat air komoditas hortikultura. Pertanian Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22257 - Ahmad, A.M. (2018). Sumbangan pemikiran teori dan praktek irigasi pada padi sawah: penerapan konsep ekoregional dalam pengelolaan air untuk pertanian. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15760






