Siapa sangka, tanaman serealia lokal yang kerap tumbuh di pekarangan Jawa Barat memiliki manfaat dari akar hingga bijinya? Hanjeli (Coix lacryma-jobi L.), atau dikenal sebagai jali, merupakan tanaman keluarga rumput-rumputan (Poaceae) yang berasal dari Asia dan telah tersebar di berbagai wilayah Indonesia, seperti Sumatra, Sulawesi, Kalimantan, dan Jawa.
Hanjeli memiliki kemampuan beradaptasi pada berbagai kondisi lahan, termasuk lahan marginal. Tanaman ini relatif tahan terhadap kekeringan dan dapat dipanen kembali setelah dipangkas melalui sistem rattoon (tumbuhnya tunas di pangkal batang). Karakteristik tersebut menjadikan hanjeli berpotensi dikembangkan sebagai salah satu sumber pangan lokal untuk mendukung diversifikasi pangan. Secara umum, terdapat dua tipe hanjeli yang banyak dikenal, yaitu:
- Coix lacryma-jobi var. lacryma-jobi: Memiliki cangkang luar berwarna putih, berbentuk oval, bertekstur sangat keras, dan kerap dijadikan bahan perhiasan atau manik-manik.
- Coix lacryma-jobi var. mayuen: Memiliki cangkang lebih lunak dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan utama serta ramuan obat tradisional.
Karakteristik Nutrisi dan Komponen Fungsional
Biji hanjeli mengandung berbagai komponen gizi yang menarik untuk dikembangkan sebagai pangan. Kandungan karbohidratnya sekitar 67–76,40%, sedangkan proteinnya mencapai 14–20%. Protein hanjeli antara lain terdiri atas fraksi prolamin yang dikenal sebagai coixin dan mengandung asam amino seperti metionin dan sistein.
Hanjeli juga mengandung lemak sekitar 3,6–7,9%, yang didominasi oleh asam lemak tidak jenuh, seperti asam oleat dan linoleat. Selain itu, terdapat senyawa fitosterol, seperti campesterol, stigmasterol, dan β-sitosterol, serta komponen bioaktif seperti coixenolide dan coixol.
Pemanfaatan Tanaman dan Inovasi Produk Olahan
Hampir seluruh bagian tanaman hanjeli bernilai guna. Akar tanaman dapat membantu mengurangi risiko erosi karena sistem perakarannya yang kuat dan secara tradisional dimanfaatkan sebagai bahan ramuan. Batang dan daun dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak maupun bahan organik. Pemanfaatan berbagai bagian tanaman ini membuka peluang untuk meningkatkan nilai tambah hanjeli secara keseluruhan.
Hanjeli telah lama dimanfaatkan sebagai pangan tradisional di Sukabumi, Sumedang, dan Bandung, antara lain:
- Diolah menjadi pangan pokok & kudapan: beras hanjeli, tepung hanjeli, brownies, kerupuk, teng-teng, kukis, dan tortilla.
- Hanjeli juga dapat diolah menjadi yoghurt. Salah satu hasil penelitian menunjukkan yoghurt berbahan tepung hanjeli memiliki pH 4,80, total padatan terlarut 15,10 °Brix, dan energi sekitar 75,88 kilokalori.
Dari Pangan Lokal Menuju Pangan Bernilai Tambah
Berdasarkan analisis SWOT, strategi pengembangan usaha olahan hanjeli difokuskan pada kebijakan pertumbuhan agresif (growth-oriented strategy):
- Peningkatan Produksi: Memperluas areal tanam dan menerapkan teknologi varietas genjah guna menjamin pasokan bahan baku.
- Pemasaran Berbasis Teknologi: Memanfaatkan media daring (online) dan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk memperluas cakupan pasar.
- Integrasi Wisata Kuliner: Memperkuat sosialisasi keunggulan pangan fungsional serta menjadikan hanjeli sebagai produk oleh-oleh khas wisata kuliner lokal.
Dengan kandungan gizi, kemampuan beradaptasi, serta beragam pilihan pemanfaatannya, hanjeli berpotensi menjadi sumber pangan alternatif bernilai tambah. Pengembangannya dapat mendukung diversifikasi pangan, pemanfaatan sumber daya lokal, dan peningkatan nilai ekonomi komoditas. Dari tanaman yang tumbuh di pekarangan, hanjeli berpeluang menjadi bagian dari inovasi pangan Indonesia yang bergizi, beragam, dan berdaya saing. (QAR, 2026).
Sumber
- Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. (2020). Buku saku bahan pangan potensial untuk anti virus dan imun booster. Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9712
- Herawati, H., Afifah, D. N., Kusumaningtyas, E., Usmiati, S., Soemantri, A. S., Miskiyah, Kamsiati, E., & Bachtiar, M. (2022, January 19). Physicochemical characteristics of yoghurt from various beans and cereals. AIP Conference Proceedings. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/14782
- Prawiranegara, D., Histifarina, D., & Sutrisna, N. (2017). Faktor dan strategi pengembangan pangan lokal hanjeli di desa sukajadi kecamatan wado kabupaten sumedang. Buletin Hasil Kajian, 7(07). https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/6609







