Beras bukan sekadar makanan pokok bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi sumber pangan utama yang dikonsumsi setiap hari. Namun, di balik perannya yang penting, beras umumnya memiliki kandungan zat gizi mikro tertentu, terutama zat besi (Fe) dan seng (Zn), yang masih perlu ditingkatkan. Kondisi ini menjadi perhatian karena kekurangan zat besi dapat memicu anemia, yang berdampak pada kesehatan dan produktivitas.
Kekurangan zat gizi mikro, terutama zat besi dan seng (Zn), masih menjadi persoalan penting di Indonesia, khususnya pada anak-anak. Kekurangan Zn dapat menurunkan daya tahan tubuh, produktivitas, dan kualitas hidup dan menjadi salah satu faktor yang berkaitan dengan stunting, yaitu kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi dalam waktu lama. Salah satu upaya yang dikembangkan untuk mengatasinya adalah biofortifikasi. Kadar mineral penting seperti Fe (besi) dan Zn (seng) pada beras dapat ditingkatkan melalui program biofortifikasi menjadi beras kaya Fe dan Zn.
Biofortifikasi adalah salah satu upaya di bidang pertanian untuk meningkatkan kandungan gizi pangan yang merupakan salah satu faktor penting dalam ketahanan pangan nasional. Biofortifikasi beras menjadi penting sebagai salah satu inovasi dalam memperbaiki mutu gizi beras melalui peningkatan kandungan zat gizi, di antaranya mineral besi dan seng. Keuntungan biofortifikasi antara lain: (1) dapat dikembangkan pada bahan makanan pokok, (2) lebih murah dan menguntungkan dari segi budi daya karena benih yang telah terfortifikasi hanya diperlukan sekali di awal penggunaan, selanjutnya benih dari pertanaman berikutnya dapat dikembangkan lebih lanjut oleh petani lain, (3) bermanfaat bagi masyarakat konsumen rawan gizi, dan (4) produksi tinggi dan ramah lingkungan.
Secara umum terdapat dua upaya biofortifikasi padi, yaitu melalui pemuliaan tanaman secara konvensional dan transformasi gen atau rekayasa genetik (bioteknologi). Salah satu contoh padi biofortifikasi yang dikembangkan untuk meningkatkan kandungan seng (Zn) pada beras adalah Inpari IR Nutri Zinc. Varietas ini berasal dari persilangan IR91153-AC 82/IR05F102//IR 68144-2B-2-2-3-166///IRRI145 dan dilepas pada tahun 2019 berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor 168/HK.540/C/01/2019.
Inpari IR Nutri Zinc adalah varietas padi pertama yang memiliki kandungan unsur Zn lebih tinggi daripada varietas lainnya. Varietas ini memiliki kadar amilosa 16,6 persen dan potensi kandungan Zn 34,5 ppm. Selain kaya nutrisi varietas ini juga memiliki produktivitas tinggi, tahan wereng batang coklat (WBC), Blas, dan Tungro, serta menghasilkan rasa nasi pulen.
Varietas ini direkomendasikan untuk ditanam pada sawah irigasi di dataran rendah hingga dataran menengah dengan ketinggian 0–600 m dpl. Inpari IR Nutri Zinc merupakan inbrida padi sawah dengan umur tanaman sekitar 115 hari. Tanamannya tegak dengan tinggi sekitar 95 cm, daun bendera tegak, dan gabah berbentuk ramping berwarna kuning jerami. Tekstur nasinya pulen dengan kadar amilosa 16,60%. Bobot 1.000 butir sekitar 24,60 g, dengan rata-rata hasil 6,21 t/ha dan potensi hasil mencapai 9,98 t/ha.
Dari sisi ketahanan, Inpari IR Nutri Zinc agak tahan terhadap wereng batang cokelat (WBC) biotipe 1, tetapi agak rentan terhadap biotipe 2 dan 3. Varietas ini juga memiliki ketahanan tertentu terhadap hawar daun bakteri, blas, dan tungro.
Beras biofortifikasi merupakan inovasi untuk meningkatkan nilai gizi pangan pokok melalui peningkatan kandungan mineral, terutama zat besi (Fe) dan seng (Zn). Kehadiran varietas seperti Inpari IR Nutri Zinc menjadi salah satu upaya untuk membantu memenuhi kebutuhan Zn melalui pangan yang dikonsumsi sehari-hari.
Dengan pengembangan dan penanaman yang lebih luas, beras biofortifikasi diharapkan dapat mendukung perbaikan gizi masyarakat dan menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang lebih sehat. (WD 2026)
Sumber:
- Susanti, Z. , et al. (2020). Rekomendasi budidaya padi pada berbagai agroekosistem. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/9288 - Thamrin, M. (2023). Deskripsi varietas unggul baru padi. Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/21720 - Pusat Perpustakaan dan Penyebaran Teknologi Pertanian. (2021). Budi daya padi biofortifikasi
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/13229 - Siti Dewi Indrasari dan Kristamtini. (2018). Biofortifikasi mineral FE dan ZN pada beras: perbaikan mutu gizi bahan pangan melalui pemuliaan tanaman. Jurnal Litbang Pertanian Vol. 37 No. 1 Juni 2018: 9-16. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian
https://repository.pertanian.go.id/items/77520b97-0aee-44ce-8989-bbd




