Gladiol disebut juga bunga pedang menjadi tanaman bunga potong yang indah dan bernilai ekonomi baik. Pesona gladiol terlihat dari rangkaian bunga yang tetap menarik meski tanpa tambahan daun dan pelengkap. Sebagai bunga potong, gladiol populer digunakan dalam penghias dekorasi maupun buket bunga. Harganya yang ekonomis kerap memikat konsumen serta menjadi penguat potensi pasar. Daya tarik gladiol menumbuhkan peluang budi daya dan usaha yang menjanjikan.
Gladiol (Gladiolus L. Hybridus) merupakan tanaman hias yang berasal dari Afrika Selatan, berbentuk herba dan berasal dari famili Iridaceae. Genus Gladiolus memiliki sekitar 250-300 spesies. Gladiol memiliki bentuk daun yang sempit dan panjang seperti pedang. Akar gladiol berbentuk serabut dan kontraktil dengan rambut halus yang dapat menyerap air dan berfungsi sebagai organ penyimpan sementara. Produksi gladiol populer dilakukan dengan memanfaatkan bagian subang, yaitu dasar batang tanaman yang termodifikasi menjadi bulat pipih, mengandung buku, ruas, dan mata tunas.
Perkembangan gladiol di Indonesia sudah berlangsung puluhan tahun dengan mendatangkan berbagai kultivar, mulai dari yang berbunga kecil hingga jenis hibrida modern dengan bunga besar dan aneka warna. Gladiol tumbuh baik pada daerah dengan ketinggian 600-1.400 mdpl. Sentra produksi tanaman ini terdapat di Jawa Timur dan Jawa Barat. Gladiol toleran pada berbagai struktur tanah, mulai dari tanah ringan berpasir, tanah berbahan organik rendah, hingga tanah berat berlempung atau liat. Hingga tahun 2020, terdapat 15 varietas bunga gladiol yang telah dirilis oleh Kementerian Pertanian. Keunggulan bunga potong gladiol adalah kesegarannya yang dapat bertahan sekitar 5-10 hari dan dapat berbunga sepanjang waktu.
Budi Daya Gladiol
Bibit perbanyakan
Perbanyakan gladiol dapat dilakukan secara vegetatif dan generatif. Proses generatif hanya dilakukan untuk tujuan pemuliaan. Biji gladiol diperoleh dari buah, penyerbukan alami atau buatan dilakukan pada bunga, jika penyerbukan berhasil buah akan terbentuk 5-7 hari kemudian. Buah dapat dipanen setelah berwarna cokelat dan retak, jumlah biji yang dihasilkan dapat mencapai 200 biji. Biji gladiol yang semai akan berkecambah dalam 7-12 hari, untuk menghasilkan subang kecil dibutuhkan waktu 5 bulan. Bunga hanya dapat dihasilkan jika subang hasil perbanyakan generatif sudah melewati 3 siklus penanaman.
Perbanyakan dengan subang dapat dilakukan dengan beberapa pilihan yaitu dengan: 1) subang utuh, untuk produksi gunakan subang dengan minimal diameter 2,5 cm. Semakin besar ukuran subang, pertumbuhan awal akan semakin cepat, dan panjang tangkai, jumlah kuntum, serta diameter bunga meningkat; 2) subang belah, dilakukan hanya pada subang yang beratnya lebih dari 20 g agar mendapatkan kualitas bunga yang bagus. Subang dibelah menjadi 2 atau 3 bagian; 3) anak subang, penggunaan anak subang hanya dilakukan untuk menghasilkan subang. Dibutuhkan 2 siklus penanaman bagi anak subang berdiameter 1 cm agar bisa memproduksi bunga potong.
Lahan dan pertanaman
Dalam menanam gladiol, hindari lahan bekas pertanaman tanaman sejenis baik itu gladiol, iris, ixia, freesia, dan monbretia. Lahan bekas pertanaman gladiol harus dibiarkan selama 3 tahun sebelum ditanami gladiol kembali. Hal ini dimaksudkan guna mencegah timbulnya penyakit akibat pertanaman sebelumnya. Tempat menanam gladiol wajib mendapat cahaya matahari penuh, oleh karenanya pertanaman gladiol di Indonesia dapat dilakukan sepanjang tahun. Umur tanaman gladiol mulai dari 60-90 hari, bergantung pada kultivar dan suhu. Tanaman akan lebih cepat berbunga pada musim kemarau.
Penanaman dilakukan dengan guludan dan tanpa guludan, pertanaman guludan wajib dibuat sepadat mungkin untuk menghindari longsor. Tinggi guludan sekitar 15 cm, dengan perkiraan kedalaman lubang subang adalah 10-15 cm. Gunakan penyangga atau ajir untuk menahan rebahnya batang. Perhatikan kerapatan tanaman agar tumbuh dengan maksimal, untuk subang berdiameter 4 cm jarak tanam yang dianjurkan adalah 20 x 20 cm, adapun subang dengan ukuran kecil dapat ditanam lebih rapat.
Pemupukan dan Penyiangan
Kebutuhan pupuk dapat berbeda bergantung pada jenis tanah, curah hujan, pengairan, dan tingkat kesuburan tanah. Umumnya pupuk yang dapat diberikan dalam satu siklus tanaman terdiri dari pupuk nitrogen (90-135 kg/ha), pupuk fosfat (90-180 kg/ha), pupuk kalium (110-180 kg/ha). Pupuk nitrogen diberikan tiga kali yaitu saat daun kedua dan daun ketiga terbentuk, saat 60 HST (hari setelah tanam), dan setelah panen bunga. Pupuk fosfat hanya diberikan saat tanam dan dicampur dengan pupuk kalium. Pupuk kalium diberikan bersamaan dengan pemberian pupuk nitrogen saat 60 HST.
Penyiangan dilakukan terutama ketika pertanaman untuk menghasilkan anak subang. Gulma yang tumbuh dapat menutupi tanaman, menghambat pertumbuhan, hingga menyulitkan proses pemanenan subang. Penyiangan dilakukan tiga kali dalam satu kali siklus tanam dan dilakukan bersamaan dengan pemberian pupuk nitrogen. Ketika penyiangan, tanah sekitar guludan juga perlu dibumbun untuk menggantikan tanah yang longsor dan mempertahankan tinggi guludan, serta mencegah subang bertumbuh ke permukaan tanah.
Panen Bunga dan Panen Subang
Panen bunga ditandai dengan satu atau dua kuntum bunga terbawah mulai berwarna, namun belum mekar. Apabila bunga dipanen terlalu mekar, bunga akan lebih rentan rusak, adapun panen terlalu dini membuat bunga mekar kurang sempurna. Panen dilakukan pada pagi hari, hindari memanen bunga dalam kondisi berembun atau hujan untuk menghindari risiko cendawan. Saat pemotongan bunga, sisakan daun dan batang 15 cm dari permukaan tanah untuk perkembangan subang baru. Setelah panen, tempatkan bunga pada posisi tegak agar tangkai tidak melengkung, gunakan juga larutan pengawet pada air perendam untuk membantu memperpanjang usia bunga hingga 3-5 hari.
Panen subang dilakukan 6-8 minggu setelah panen bunga. Subang dapat dipanen ketika daun mulai menguning, hindari memanen ketika daun menjadi cokelat atau mati karena cadangan makanan pada subang dalam posisi kempis. Subang hasil panen harus dibersihkan dari sisa tanah, daun, dan subang induk, setelah itu dapat dikeringanginkan selama dua minggu dan masuk dalam masa dormansi selama 3-4 bulan. Subang disimpan dalam tempat kering dengan sirkulasi udara yang baik, serta terhindar dari cahaya matahari langsung.
Budi daya gladiol sangat dipengaruhi oleh pemilihan bibit, kondisi lahan, pengelolaan pupuk, penyiangan, dan pemanenan yang tepat. Pengelolaan budi daya yang baik akan semakin mengembangkan gladiol sebagai tanaman hias yang bernilai ekonomi serta memperkaya ragam florikultura di Indonesia. (AM’2026)
Sumber:
- Soehendi, Rudy. (2015). Katalog varietas unggul florikultura. IAARD Press.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5370 - Saleh, Muhammad. (2019). Gladiol si bunga potong yang adaptif di Banjarbaru [Infografis].
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/12904 - Badriah, D.S. (2007). Petunjuk teknis budidaya gladiol. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hortikultura.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/16150







