Dibalik aroma lembut dan menenangkan yang sering kita temukan dalam parfum kelas dunia, tersimpan jejak harum khas Indonesia: akar wangi. Tanaman yang tumbuh subur di dataran tinggi ini bukan sekadar bahan baku minyak atsiri bernilai tinggi. Komoditas ini kini menjadi peluang ekonomi hijau yang menjanjikan bagi petani dan industri kreatif.
Akar wangi (Vetiveria zizanioides Stapf) adalah salah satu tanaman penghasil minyak atsiri. Minyak akar wangi mempunyai aroma yang lembut dan halus yang dihasilkan oleh ester dari asam vetivenat serta senyawa vetiveron dan vetivenol yang saat ini belum dapat dibuat secara sintetis. Minyak atsiri dari akar wangi dikenal sebagai pengikat kuat dalam pembuatan parfum, serta banyak dimanfaatkan dalam produk kosmetik, pewangi sabun, obat-obatan, dan pengusir serangga.
Di pasar dunia, minyak akar wangi Indonesia dikenal dengan nama dagang java vetiver oil yang sangat disukai di pasaran dunia karena mutunya tinggi. Di Indonesia dikenal dua jenis tanaman akar wangi, yaitu jenis tidak berbunga dan jenis berbunga. Umumnya yang digunakan adalah jenis yang tidak berbunga karena kadar minyaknya lebih tinggi. Umur panen akar wangi juga berpengaruh terhadap kadar minyak. Minyak yang bermutu baik diperoleh dari akar wangi berumur 12–14 bulan.
Penanganan Pascapanen Akar Wangi
Penanganan pascapanen akar wangi harus dilakukan dengan baik sebelum dilakukan proses penyulingan karena dapat meningkatkan rendemen dan memperbaiki mutu minyak akar wangi. Penanganan pascapanen akar wangi meliputi pembersihan, pencucian, pengeringan, pemisahan bonggol dan perajangan akar.
Pembersihan dan pencucian. Akar wangi dibersihkan dengan dicuci dengan air mengalir sambil dikibaskan sampai semua tanah yang menempel terlepas dari akar. Air yang menempel pada akar juga dikibaskan atau ditiriskan. Rendemen minyak yang diperoleh dari akar wangi yang dibersihkan yakni 1,04%, nilai ini lebih tinggi dibandingkan rendemen dari akar wangi yang tidak dibersihkan, yaitu 0,66%.
Pengeringan. Dilakukan dengan dijemur atau diangin-anginkan pada tempat yang agak teduh. Penjemuran akar dilakukan di atas lantai penjemur yang diberi alas tikar, atau bambu anyam dengan ketebalan 20–30 cm. Penjemuran dilakukan dari jam 09.00–14.00 dan dibolak-balik sebanyak 2–3 kali selama kurang lebih dua hari. Penjemuran selesai jika kadar air akar wangi telah mencapai sekitar 15%. Akar kering yang disuling menghasilkan rendemen minyak sebesar 1,6–2,1% dan kualitas minyak yang lebih tinggi dari rendemen dan mutu minyak yang dihasilkan dari akar segar (basah).
Pemisahan bonggol. Akar dipisahkan dari bonggolnya dengan menggunakan golok atau perajang akar, kemudian dirajang sehingga berbentuk potongan akar yang pendek.
Perajangan akar. Bertujuan untuk memudahkan penguapan minyak dari bahan, mengurangi sifat kamba bahan, dan memperluas permukaan suling. Proses perajangan dapat menggunakan golok atau dengan mesin khusus perajang akar, dengan panjang sekitar 15–20 cm. Jika diinginkan rendemen dan mutu minyak yang baik, hasil rajangan harus segera dimasukkan ke dalam ketel penyuling.
Pengemasan dan penyimpanan. Apabila akar wangi tidak segera disuling, akar dikemas dalam karung plastik dan ditutup rapat, kemudian disimpan dengan cara ditumpuk dalam gudang yang terlindung dari cahaya matahari, tidak lembab, suhu 20–30oC, dan letaknya jauh dari ketel suling.
Penyulingan
Dikenal tiga macam metode penyulingan, yaitu 1) penyulingan dengan air, 2) penyulingan dengan uap dan air, dan 3) penyulingan dengan uap. Pemilihan metode penyulingan sangat menentukan keberhasilan dan efisiensi proses penyulingan. Penyulingan dengan uap langsung memiliki efisiensi yang lebih tinggi dibandingkan penyulingan air dan penyulingan air–uap, tetapi membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan mahal.
Untuk akar wangi sebaiknya dilakukan dengan sistem penyulingan uap pada tekanan 4–5 atm atau dengan sistem penyulingan uap dan air. Untuk penyulingan akar wangi secara uap dan air, perbandingan garis tengah dan tinggi ketel penyuling yang paling efektif adalah 1:1,5. Kualitas air yang digunakan sangat berpengaruh terhadap kualitas minyak akar wangi dan keawetan alat penyuling yang digunakan.
Kualitas Minyak Atsiri Akar Wangi
Mutu minyak atsiri umumnya dipengaruhi oleh berbagai hal, yaitu jenis/varietas tanaman, umur panen, perlakuan bahan baku, cara penyulingan, peralatan penyulingan serta pemisahan dan pengemasan minyak. Minyak akar wangi yang bermutu tinggi umumnya mempunyai warna cokelat kemerahan dan lebih jernih. Minyak yang disuling dari akar yang telah tua menghasilkan minyak dengan bobot jenis dan putaran optik lebih tinggi, bersifat lebih larut dalam alkohol, sebagian besar terdiri atas terpen dan seskuiterpen serta beraroma lebih wangi.
Minyak atsiri akar wangi berpotensi menjadi komoditas unggulan Indonesia. Dengan inovasi teknologi, peningkatan mutu, dan penguatan pemasaran, tanaman ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus mengharumkan nama Indonesia di pasar global.(HS2025).
Sumber
- Damanik, S., & Effendi, D. S. (2013). Sistem usahatani konservasi akar wangi pada lahan berlereng. IAARD Press. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/24163
- Rosman, R., Trisilawati, O., & Setiawan. (2013). Pemupukan nitrogen, fosfor, dan kalium pada tanaman akar wangi. Jurnal Littri, 19(1), 33–40. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/10784
- Mulyono, E., Sumangat, D., & Hidayat, T. (2012). Peningkatan mutu dan efisiensi produksi minyak akar wangi melalui teknologi penyulingan dengan tekanan uap bertahap. Buletin Teknologi Pascananen Pertanian, 8(1), 35–47. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/3456






