Menanam sorgum bukan berarti bebas dari ancaman hama dan penyakit. Jika tidak diwaspadai, organisme pengganggu tanaman (OPT) dapat menyerang sejak tanaman masih muda hingga menjelang panen. Mengenali gejala serangan hama dan penyakit sejak dini serta melakukan pengendalian yang tepat menjadi kunci agar tanaman tetap sehat dan hasil panen tetap optimal.
Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan salah satu tanaman pangan lahan kering yang berpotensi dikembangkan untuk menghadapi dampak perubahan iklim di Indonesia. Kemampuannya beradaptasi pada berbagai kondisi lingkungan menjadikan sorgum sesuai untuk diusahakan pada lahan marginal, lahan tidur, lahan kosong, maupun lahan nonproduktif lainnya. Selain sebagai sumber pangan alternatif, sorgum juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan dan bioenergi, khususnya bioetanol. Keunggulan lainnya adalah kebutuhan air yang relatif rendah serta toleransinya terhadap kekeringan, sehingga sorgum lebih adaptif dibandingkan sejumlah tanaman pangan lainnya.
Serangan hama dan penyakit dapat berdampak langsung terhadap pertumbuhan, produktivitas, dan mutu hasil sorgum. Mengenali gejala serangan hama dan penyakit sejak dini merupakan langkah penting dalam budi daya sorgum untuk mencegah kerusakan tanaman yang lebih luas dan penurunan hasil produksi. Pengenalan gejala serangan sejak dini, pemantauan tanaman secara berkala, serta penerapan pengendalian yang tepat sesuai jenis dan tingkat serangan OPT menjadi kunci untuk menjaga pertumbuhan tanaman, meminimalkan kehilangan hasil dan mempertahankan produktivitas sorgum.
Hama yang Mengintai Sorgum
Lalat bibit (Atherigona exiqua)
Menyerang sorgum muda atau tanaman yang baru berkecambah. Larvanya menggerek batang hingga menuju bagian dasar atau titik tumbuh. Akibatnya, tanaman menguning, layu, bahkan mati. Tanaman yang mampu bertahan sering kali tumbuh kerdil. Serangan biasanya lebih banyak terjadi pada musim hujan atau kondisi kelembapan tinggi.
Pengendalian dapat dilakukan secara hayati dengan memanfaatkan parasitoid, seperti Trichogramma spp. dan Tetrastichus sp., predator Clubiona japonicola, serta nematoda entomopatogen, seperti Steinernema sp. dan Heterorhabditis indicus. Pengendalian juga dapat dilakukan melalui perlakuan benih menggunakan insektisida sistemik yang memiliki daya racun kontak dan lambung.
Ulat tanah (Agrotis sp.)
Hama yang aktif pada malam hari ini menyerang sorgum muda dengan memotong pangkal batang tepat di atas permukaan tanah. Seekor larva bahkan dapat merusak ratusan tanaman muda.
Pengendalian dapat dilakukan melalui pengolahan tanah, sanitasi lahan, dan pengumpulan serta pemusnahan larva. Pengendalian hayati dapat memanfaatkan parasitoid, kumbang Carabidae, jamur patogen Metarhizium spp., dan nematode Steinernema sp. Pengendalian kimiawi (pestisida sintetik) dapat menggunakan . sipermetrin dan imidacloprid.
Belalang kembara (Locusta migratoria)
Pada fase soliter, belalang belum menjadi ancaman besar. Namun, ketika memasuki fase transisi dan kemudian gregarius, belalang dapat membentuk gerombolan besar yang berpindah-pindah dan merusak tanaman dalam waktu singkat.
Pengendalian dapat dilakukan dengan memanfaatkan green guard (Metarhizium anisopliae) yang cukup efektif dan bersifat ramah lingkungan. Keberhasilan program pengendalian populasi hama belalang kembara adalah keandalan sistem peringatan dini (early warning system) berdasarkan prediksi populasi yang telah dibangun.
Penyakit yang Perlu Diwaspadai
Antraknosa
Disebabkan oleh Colletotrichum graminicola. Gejalanya diawali bintik cokelat kemerahan yang kemudian membesar dan menyatu hingga menyebabkan daun mengalami nekrosis. Penyakit dapat menyebar dari daun bagian bawah ke bagian atas dan batang, dengan kehilangan hasil yang dapat mencapai 50%. Pengendalian dilakukan dengan rotasi dengan tanaman lain, penggunaan varietas tahan, sanitasi lingkungan di sekitar pertanaman sorgum, dan penggunaan fungisida yang efektif.
Bercak daun
Disebabkan oleh Bipolaris turcicum atau Exserohilum turcicum. Gejalanya berupa bintik kuning kecokelatan. Bercak daun selain menyerang pada daun juga dapat menyerang pada bagian batang dan tangkai bulir apabila terjadi serangan yang tinggi. Apabila penularan sampai ke bagian malai dan bulir, maka kehilangan hasil yang disebabkan oleh penyakit ini dapat mencapai 50%. Pengendalian dengan menanam varietas tahan dan penggunaan fungisida dengan bahan aktif mankozeb + carbendazim.
Busuk batang
Penyakit ini disebabkan oleh Fusarium sp. Menyerang pada semua tahap pertumbuhan, menyerang akar dan batang serta mengganggu penyaluran air dan nutrisi. Kondisi kekeringan maupun lahan tergenang dapat memperparah perkembangan penyakit. Pengendalian dapat memanfaatkan rhizobakteri dan Trichoderma sp. sebagai agensia hayati.
Karat daun
Disebabkan oleh Puccinia purpurea. Serangan ditandai bercak merah atau cokelat kemerahan yang berkembang menjadi pustula. Pengendalian dapat dilakukan dengan menanam varietas tahan, pengaturan waktu tanam, dan penggunaan bahan kimia (fungisida).
Busuk pelepah
Disebabkan oleh Rhizoctonia solani. Penyakit ini menyebabkan bercak kemerahan pada pelepah yang kemudian berubah abu-abu dan dapat meluas hingga tanaman layu atau membusuk. Pengendaliannya dengan memanfaatkan Trichoderma dan Gliocladium, mencabut tanaman terinfeksi, serta melakukan solarisasi dan penggunaan mulsa plastik untuk menekan patogen tular tanah.
Dengan pengelolaan yang baik, ancaman hama dan penyakit dapat ditekan sehingga sorgum mampu tumbuh sehat, menghasilkan panen optimal, dan memberikan nilai tambah bagi petani. (WD 2026)
Sumber:
- Swastika, S. dan Saputra, S. (2022). Hama dan penyakit tanaman sorgum. Dalam Teknologi budidaya sorgum. Yuliasari, S. dan Zona, R.F. (eds.). Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Riau.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/22648
- Azrai, M., Pabendon, M. B., Aqil, M., Suarni, Arvan, R.Y., Zainuddin, B., dan Andayani, N.N. (2021). Teknologi budi daya tanaman sorgum unggul bebas limbah. Cakrawala
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/25690





