Jangan biarkan pekarangan rumah Anda hanya jadi lahan kosong yang tak produktif. Dengan sedikit usaha, pekarangan bisa disulap menjadi sumber protein sekaligus penghasilan tambahan bagi keluarga. Salah satu cara paling praktis dan menguntungkan adalah beternak ayam buras—unggas lokal yang tangguh, mudah dipelihara, dan tetap jadi andalan masyarakat dalam mencukupi kebutuhan gizi sehari-hari.
Populasi ayam buras cukup tinggi secara nasional. Karena itu, ayam buras juga berpotensi sebagai penyedia protein hewani bagi masyarakat. Hampir setiap rumah tangga petani memiliki ayam lokal sebagai tabungan. Ayam lokal itu biasanya dipelihara secara sederhana di sekitar rumah dengan memanfaatkan sisa makanan dapur.
Perkiraan nilai B/C peternakan ayam buras pada skala usaha 1.000 ekor menunjukkan angka 1,04. Artinya, beternak ayam buras layak dilakukan. Apabila harga produk ayam ras pedaging maupun petelur berfluktuatif, hal itu tidak terlalu berpengaruh pada ayam buras. Hal itu disebabkan karena ayam buras tidak bergantung pada ketersediaan pasokan input dan output. Pasokan input, antara lain bibit, pakan, obat, dan vaksin.
Ternak ayam buras banyak dilakukan oleh masyarakat, di lahan pekarangan, dengan populasi tinggi. Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan kandang baterai/kandang bertingkat dan pemberian pakan yang memadai. Teknis budi daya ternak ayam buras perlu dilakukan secara tepat agar dapat diperoleh produksi yang optimal.
Pemilihan bibit
Bibit yang berkualitas mutlak diperlukan untuk memperoleh produksi daging dan telur yang tinggi.
Ciri-ciri bibit ayam jantan yang baik, di antaranya badan kuat dan panjang; tulang supit rapat; sayap kuat dan bulu-bulunya teratur rapih. Selain itu paruh bersih, mata jernih, kaki dan kuku bersih, sisik-sisik teratur, dan memiliki taji.
Untuk ayam betina (petelur), ciri-ciri bibit yang baik, yaitu memiliki kepala halus, mata terang/jernih, muka sedang (tidak terlalu lebar), paruh pendek dan kuat, serta jengger dan pial halus. Selain itu, memiliki badan cukup besar dan perutnya luas, jarak antara tulang dada dan tulang belakang 土 4 jari, dan jarak antara tulang pubis 土 3 jari.
Pemeliharaan
Terdapat tiga sistem pemeliharaan ternak ayam buras, yaitu (1) Ekstensif, pemeliharaan ayam buras secara tradisional, ayam dilepas dan mencari pakan sendiri); (2) Semi intensif, ayam kadang-kadang diberi pakan tambahan; dan (3) Intensif, ayam dikandangkan dan diberi pakan.
Berdasarkan umurnya, terdapat beberapa pemeliharaan, yaitu (1) Pemeliharaan anak ayam (starter) : 0–6 minggu, anak ayam sepenuhnya diserahkan kepada induk atau induk buatan; (2) Pemeliharaan ayam dara (grower) : 6–20 minggu; dan (3) Pemeliharaan masa bertelur (layer) : 21 minggu sampai afkir (土 2 tahun). Untuk memperoleh telur tetas yang baik, diperlukan satu ekor pejantan untuk melayani sembilan ekor betina, sedangkan untuk menghasilkan telur konsumsi, pejantan tidak diperlukan.
Pengelolaan Reproduksi
Pengelolaan reproduksi pada budi daya ayam buras bertujuan untuk memaksimalkan potensi reproduksi ayam buras agar menghasilkan telur yang berkualitas. Perbandingan jantan dan betina dalam kelompok pemeliharaan perlu diatur, yaitu 1 jantan dan 10 betina.
Pada masa bertelur diusahakan agar di dalam sarangnya ditinggalkan satu butir, agar bertelur terus, kalau telur bertumpuk induk cenderung mengerami. Induk yang mengerami harus diberi makanan yang cukup. Induk sebaiknya mengerami telur antara 9–10 butir.
Perkandangan
Kandang yang baik harus memenuhi syarat sebagai berikut: jarak kandang dengan rumah minimal 5m, lingkungan tidak lembab, mendapat sinar matahari pagi dan pertukaran udara yang baik. Ukuran kandang tiap meter persegi dapat menampung 2 induk dan 15–18 ekor anak, 25–28 ekor anak ayam yang disapih, 14–16 ekor dara, 6–8 ekor induk, dan 5–6 ekor pejantan.
Bentuk kandang dapat berupa kandang postal, yaitu bangunan los tanpa sekat, hanya terdiri atas atap, dinding, dan lantai. Lantai dilapisi litter yang terdiri dari jerami, serbuk gergaji, dan kapur setebal 土 15 cm.
Pakan
Zat-zat makanan yang dibutuhkan ternak ayam buras terdiri atas protein, energi, vitamin, mineral dan air. Bahan pakan berupa biji-bijian (jagung, gabah, dsb.); kacang-kacangan (kedelai, kacang tanah, kacang hijau, dsb.); limbah pabrik, seperti dedak, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, dsb. Selain itu, bahan makanan yang berasal dari hewan, seperti tepung ikan, ikan tawar, tepung darah, dsb. Untuk sumber kalsium dan fosfor dapat diberikan kulit kacang, tepung tulang, dsb. Makanan hijauan juga diberikan berupa sayuran/limbah pertanian.
Penyusunan Ransum
- Ransum harus mengandung nilai gizi yang baik sehingga memenuhi kebutuhan standar. Bahan-bahan pakan yang diberikan sebaiknya yang mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau.
- Susunan ransum yang sederhana untuk ayam buras dalam 100 kg, yaitu dedak halus 60%, padi (gabah) 10%, jagung giling 10%, bungkil kelapa 12%, tepung ikan 5%, dan tepung kulit kacang/tepung tulang 3%.
Jumlah pakan yang diberikan pada ayam berbeda tergantung umurnya, yaitu (1) Anak ayam dara 15 gram/hari; (2) Ayam umur I - III minggu 30 gram/hari; (3) Ayam umur III -V minggu 60 gram/hari; (4) Ayam umur VI minggu sampai menjelang bertelur 80 gram/hari; dan (5) Induk 100 gram/hari.
Penyakit dan Pencegahan
Beberapa penyakit yang menyerang ternak ayam buras dan cara pencegahannya sebagai berikut:
- Newcastle Disease (ND) atau tetelo disebabkan oleh virus Tortor vurens. Pencegahan penyakit ini dapat dilakukan dengan vaksinasi ND secara teratur pada umur 4 hari, 4 minggu, dan 4 bulan serta diulangi lagi setiap 4 bulan sekali.
- Cacingan, dapat dicegah dengan menghindari pemeliharaan tradisional.
- Cronic Respiratory Disease (CRD) atau penyakit pada pernafasan. Pengobatan dengan Chlortetacyclin (dosis 100–200 g/ton ransum) atau tylosin (dosis 800–1.000 g/ton ransum).
- Berak darah. Pengobatan: Prepara sulfa atau anyrolium dilarutkan dalam air minum, dosis 0,012–0,024% untuk 3–5 hari.
- Pilek. Pengobatan: sulfadimetoxine 0,05% dilarutkan dalam air minum selama 5–7 hari.
- Pencegahan: vaksinasi 1 kali setelah lepas induk.
Mengoptimalkan lahan pekarangan menjadi ruang produktif dengan beternak ayam buras merupakan salah satu langkah nyata untuk memenuhi protein hewani keluarga dan mendukung program ketahanan pangan. (SUT/2025)
Sumber:
Pusat Perpustakaan dan penyebaran Teknologi Pertanian. (2018). Unggas unggul: Ayam-itik-puyuh. Pusat Perpustakaan dan penyebaran Teknologi Pertanian. https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/5368
Sukmana; Rismayati, Y. (2012). Petunjuk teknis budidaya ayam buras, burung puyuh, domba, dan lele di pekarangan.
https://repository.pertanian.go.id/handle/123456789/15704







