
Bogor, 10 Maret 2026 – Dalam meningkatkan tata kelola organisasi yang transparan dan akuntabel, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) melaksanakan kegiatan pembinaan Sistem Pengendalian Intern (SPI). Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman pegawai mengenai pentingnya budaya pengendalian, manajemen risiko, serta integritas dalam setiap tahapan pelaksanaan program.
Melalui pembinaan tersebut, pegawai diajak memahami bahwa pengendalian internal harus diterapkan secara menyeluruh, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan. Penerapan SPIP diharapkan dapat memastikan kinerja organisasi berjalan lebih efektif, efisien, serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro, menegaskan bahwa penerapan Sistem Pengendalian Intern (SPI) bukan sekadar kewajiban administratif, tetapi merupakan bagian penting dari tata kelola organisasi yang baik. Menurutnya, SPI yang efektif akan mendorong pelaksanaan kegiatan kerja yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel.
“Budaya pengendalian harus menjadi kesadaran bersama seluruh pegawai. Dengan demikian, integritas, kepatuhan terhadap aturan, serta akuntabilitas dalam pengelolaan program dan anggaran dapat terus terjaga,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Kelompok Humas dan Hukum Sekretariat Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian, Ifan Mutaqqin, menyampaikan bahwa penerapan SPIP merupakan instrumen penting dalam meningkatkan akuntabilitas kinerja organisasi.
Ia menjelaskan bahwa pengendalian internal perlu diterapkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan, termasuk melalui penerapan manajemen risiko untuk mengidentifikasi potensi hambatan yang mungkin terjadi.
“Dengan pengelolaan risiko yang baik, setiap program dapat berjalan lebih efektif dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, narasumber dari Inspektorat Jenderal Kementerian Pertanian, Erny Dwy Astuty, menjelaskan bahwa SPIP merupakan proses pengendalian yang dilakukan secara berkelanjutan oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi.
Menurutnya, pengendalian internal berbasis risiko menjadi kunci dalam memastikan kegiatan berjalan efektif dan efisien, laporan keuangan andal, aset negara terjaga, serta seluruh pelaksanaan program tetap patuh terhadap peraturan perundang-undangan.
“Pengelolaan risiko perlu dimulai dari identifikasi, analisis, hingga mitigasi risiko agar potensi hambatan terhadap pencapaian kinerja organisasi dapat diminimalkan,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh pegawai BB Pustaka semakin memahami pentingnya penerapan SPIP sebagai bagian dari upaya mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan berintegritas. (Rep FN/Edit SO)
