
Bogor, 9 Maret 2026 – Bagaimana mengolah sampah kulit buah menjadi bahan kosmetik dan pupuk yang bermanfaat? Ide sederhana inilah yang diperkenalkan oleh BB PUSTAKA melalui Workshop Mengolah Limbah Kulit Buah di Taman Baca PUSTAKA Dramaga, Bogor. Kegiatan ini mengajak masyarakat, khususnya ibu-ibu Kelompok Wanita Tani (KWT) Beta Meca, kader PKK, kader Posyandu, serta ibu rumah tangga di sekitar Taman Baca PUSTAKA, untuk belajar memanfaatkan limbah organik menjadi produk bernilai guna.
Melalui workshop ini, pengetahuan yang diperoleh dari aktivitas membaca tidak hanya berhenti pada teori, tetapi juga diwujudkan dalam keterampilan praktis yang bermanfaat bagi rumah tangga sekaligus mendukung pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan. Acara dipandu oleh Sri Lestari, pustakawan BB PUSTAKA, diawali dengan sambutan pengantar oleh Kepala Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian yang diwakili oleh Kepala tim kerja Layanan Perpustakaan Sutarsyah.
Dalam sambutannya, Sutarsyah menyampaikan bahwa perpustakaan tidak hanya menjadi tempat membaca, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar bersama untuk meningkatkan keterampilan masyarakat. “Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menunjukkan bahwa informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari perpustakaan dapat diterapkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam memanfaatkan limbah organik yang sering dianggap tidak berguna,” ujarnya.
Selanjutnya materi workshop disampaikan oleh pengelola Perpustakaan Desa Benteng sekaligus Pengurus Bank Sampah Asri Mandiri Ciampea Bogor, Siti Maryam. Dalam paparannya, ia menjelaskan pentingnya pemanfaatan limbah organik rumah tangga, khususnya kulit buah, yang dapat diolah menjadi eco enzyme.
"Eco enzyme merupakan cairan alami serbaguna yang dihasilkan dari proses fermentasi molase, kulit buah, dan air. Cairan ini memiliki berbagai manfaat, antara lain sebagai pembersih alami untuk pakaian, peralatan dapur, dan lantai, serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik alami seperti face mist, penghilang flek dan jerawat, obat kumur, deodorant hingga pupuk tanaman." Ungkapnya
Menurutnya pemanfaatan limbah organik tidak hanya bermanfaat bagi rumah tangga, tetapi juga bagi kelestarian lingkungan. Selanjutnya Ia menyampaikan pesan kunci dalam kegiatan ini dengan mengajak masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap sampah organik. “Kita jaga alam, alam jaga kita,” ungkapnya
Setelah sesi penyampaian materi, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan ecoenzyme. Bahan dan alat yang digunakan meliputi molase, kulit aneka buah, air, toples plastik, talenan, pisau, spatula, timbangan, dan wadah takar. Proses pembuatannya dimulai dengan mencuci dan mencacah kulit buah, kemudian mencampurkan air dan molase di dalam toples, dilanjutkan dengan memasukkan potongan kulit buah. Campuran tersebut kemudian ditutup rapat dan difermentasi selama sekitar 90 hari di tempat yang kering dan teduh hingga eco enzyme siap dipanen.
Melalui praktik ini, peserta dapat secara langsung memahami proses pengolahan limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna. proses fermentasi ecoenzyme yang akan dipanen setelah sekitar 90 hari. Suasana workshop berlangsung hangat dan interaktif, terutama saat sesi diskusi dan tanya jawab, di mana para peserta antusias mengajukan berbagai pertanyaan terkait pemanfaatan eco enzyme dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga dengan kegiatan ini BB PUSTAKA dapat memberikan edukasi kepada masyarakat agar dapat semakin memahami bahwa pengetahuan yang diperoleh dari membaca dapat diimplementasikan menjadi keterampilan praktis yang bermanfaat, baik untuk lingkungan maupun peningkatan kualitas hidup keluarga. (Kontributor IDR/Edit SO)
