
Perum Badan Urusan Logistik (BULOG) memperkuat perannya sebagai penyerap utama gabah petani melalui sinergi dengan Brigade Pangan di seluruh Indonesia. Hingga Maret 2026, tercatat sekitar 4.400 Brigade Pangan telah terbentuk, baik di lahan rawa maupun non-rawa, sebagai bagian dari penguatan kelembagaan petani dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
Dalam kegiatan LOVE: Live of Agriculture Virtual Literacy “Sinergi BULOG dengan Brigade Pangan” yang digelar secara daring, Kepala Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) Kementerian Pertanian, Eko Nugroho, menjelaskan bahwa salah satu unit bisnis Brigade Pangan saat ini adalah kerja sama penyerapan gabah panen bersama BULOG. Kerja sama ini mengatur waktu, jumlah, harga, dan kualitas gabah sesuai ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah.
Pada 2026, BULOG menargetkan pengadaan beras sebesar 4 juta ton, meningkat dari realisasi 3 juta ton pada 2025. Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Gabah Kering Panen (GKP) ditetapkan sebesar Rp6.500 per kilogram dan HPP beras Rp12.000 per kilogram. Kebijakan ini menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas harga di tingkat petani sekaligus menjamin pasokan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Sebagai operator CPP di bawah Badan Pangan Nasional, BULOG mendapat mandat untuk mengelola komoditas strategis seperti padi, jagung, dan kedelai. Saat ini BULOG didukung 1.500 gudang dengan kapasitas total 4,5 juta ton yang tersebar di seluruh Indonesia.
Dalam mekanisme penyerapan, penyuluh pertanian berperan mengisi dan menandatangani formulir Surat Pernyataan GKP Telah Memasuki Masa Panen yang memuat data lokasi, waktu panen, serta estimasi tonase. Informasi tersebut menjadi dasar bagi satuan tugas BULOG untuk menyiapkan armada dan dana transaksi, sehingga pembelian dapat dilakukan langsung di lokasi panen secara tunai.
BULOG juga menegaskan komitmennya sebagai off taker yang siap menyerap seluruh GKP petani tanpa persyaratan kadar air tertentu, karena memiliki fasilitas pengeringan sendiri. Namun, untuk pembelian dalam bentuk beras, tetap diberlakukan standar mutu tertentu.
Di lapangan, sejumlah tantangan masih dihadapi, terutama pada musim penghujan yang menyebabkan gabah sulit dijemur dan berpotensi berkecambah. Selain itu, kendala permodalan, armada angkut, hingga keterlambatan pembayaran kerap memicu petani menjual gabah ke tengkulak di bawah HPP.
Melalui sinergi yang terstruktur antara BULOG dan Brigade Pangan, pemerintah berharap penyerapan gabah semakin optimal, harga di tingkat petani tetap terjaga, dan cadangan pangan nasional semakin kuat. Kolaborasi ini menjadi kunci dalam memastikan hasil panen petani terserap maksimal sekaligus memperkokoh ketahanan pangan nasional. (kontributor: AM)
