
Bogor, Rabu, 4 Maret 2026 – Kelompok Wanita Tani (KWT) Tanah Sareal “Mitra Sareal” dan KWT Cimahpar “Mawar Bodas” mengikuti kegiatan edukasi menanam padi dalam pot yang dilaksanakan di Gedung Perpustakaan dan Pengetahuan Pertanian Digital (P3D). Kegiatan ini menghadirkan penyuluh pertanian Kota Bogor, Pak Atep, sebagai narasumber, serta dihadiri perwakilan Kelurahan Tanah Sareal dan tim kerja evaluasi dan pelaporan BB PUSTAKA.
Acara dimulai pukul 10.00 WIB dengan kegiatan library tour di lantai 2 dan 3 yang merupakan ruang perpustakaan. Para peserta diperkenalkan pada beragam koleksi dan sumber informasi pertanian yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan kelompok tani, baik dalam bentuk buku cetak maupun sumber digital.
Kegiatan inti dilaksanakan di lantai 4 yang merupakan ruang rapat dan dibuka secara resmi oleh Katimker Layanan Perpustakaan, Ibu Sutarsyah. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan pentingnya inovasi budidaya padi di wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan. Menurutnya, menanam padi dalam pot merupakan solusi sederhana namun efektif, terutama dengan memanfaatkan galon bekas sebagai media tanam serta limbah sayuran rumah tangga yang diolah menjadi pupuk organik.
Setelah pembukaan, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Pak Atep selaku narasumber. Dalam penjelasannya, ia memaparkan tahapan budidaya padi mulai dari persiapan benih, pengolahan media tanam, hingga perawatan tanaman. Ia menjelaskan bahwa tanaman padi membutuhkan paparan sinar matahari yang cukup dan tidak harus selalu tergenang air dalam jumlah banyak seperti di sawah. Penyiraman dilakukan secukupnya untuk menjaga kelembapan media. Dengan perawatan yang tepat, masa tanam hingga panen dapat berkisar sekitar tiga bulan atau sekitar 105 hingga 110 hari.
Selanjutnya acara dilanjutkan dengan perkenalan profil serta tiga titik layanan yang dimiliki Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian sebagai bentuk dukungan informasi dan literasi bagi masyarakat. Pada sesi tanya jawab, salah satu peserta, Ibu Iis, menanyakan kemungkinan menggunakan gabah yang tersisa dari beras yang dibeli di supermarket sebagai bibit. Menanggapi hal tersebut, Pak Atep menjelaskan bahwa beras dari supermarket umumnya tidak dapat dijadikan bibit karena kualitas benih unggul biasanya tidak disimpan lebih dari satu musim tanam. Namun demikian, peluang tersebut masih ada apabila beras diperoleh langsung dari petani sebagai tangan pertama.
Memasuki sesi akhir, peserta mengikuti praktik langsung pembuatan media tanam dan penanaman bibit padi di halaman gedung P3D. Tahap pertama dimulai dengan menyiapkan galon air mineral bekas yang kemudian dipotong menjadi dua bagian menggunakan alat pemotong. Bagian bawah galon dimanfaatkan sebagai penampung air, sedangkan bagian atas yang disusun terbalik digunakan sebagai wadah utama media tanam.
Selanjutnya, peserta mengisi wadah tersebut dengan campuran tanah, kompos atau pupuk organik, serta sedikit sekam untuk menjaga porositas. Media diaduk hingga merata agar unsur hara tersebar dengan baik. Setelah itu, media tanam disiram air secukupnya hingga kondisi tanah menjadi lembap dan cukup basah, namun tidak terlalu becek. Pak Atep menekankan bahwa kelembapan media menjadi kunci awal pertumbuhan akar yang sehat.
Tahap berikutnya adalah memasukkan bibit padi ke dalam media tanam. Peserta membuat lubang kecil di permukaan media, kemudian menanam beberapa bibit padi dalam satu wadah dengan jarak yang cukup agar pertumbuhannya optimal. Setelah bibit dimasukkan, media di sekitar akar ditekan perlahan agar tanaman berdiri tegak dan akarnya tertutup sempurna.
Melalui kegiatan ini, diharapkan KWT Mitra Sareal dan KWT Mawar Bodas semakin memahami teknik budidaya padi dalam pot serta mampu mengoptimalkan lahan terbatas di wilayah perkotaan guna mendukung ketahanan pangan keluarga. (Kontributor TR)
