
Tak Hanya teori, penguatan kapasitas pelaku usaha pertanian juga butuh praktik langsung di lapangan. Berangkat dari semangat itu, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) melalui Pertanian Press menggelar kegiatan Tektokan edisi kedua pada 2 April 2026 di Kabupaten Pandeglang.
Kegiatan ini menjadi ruang belajar yang menggabungkan literasi dan aksi nyata, agar pelaku usaha pertanian semakin siap berkembang dan memanfaatkan berbagai peluang usaha. Tektokan ini merupakan lanjutan dari tektokan edisi pertama yang telah menyedot perhartian para penyuluh dan petani.
Mengusung tema “Strategi Akses Modal Brigade Pangan”, Tektokan kali ini mengangkat buku Akses Modal Antigagal Untuk Brigade Pangan sebagai rujukan utama. Buku yang baru dirilis oleh Pertanian Press tersebut ditulis oleh Rizky Permana dari Balai Besar Pelatihan Manajemen dan Kepemimpinan Pertanian (BBMPKP) Ciawi.
Andi Amran Sulaiman menegaskan komitmen pemerintah dalam mendukung petani dan pelaku usaha pertanian melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR). Program ini bukan sekadar kebijakan, tetapi wujud nyata upaya mempercepat tercapainya swasembada pangan.
Sementara itu, Idha Widi Arsanti mengapresiasi antusiasme tinggi para penyuluh dan petani dalam kegiatan tersebut. Ia menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara petani, penyuluh, dan narasumber agar akses pembiayaan dapat tepat sasaran serta berdampak langsung pada peningkatan produksi dan kesejahteraan petani.
Tektokan edisi kedua ini menghadirkan narasumber penulis buku serta Helmi Wijayadi, Kepala Cabang BRI BO Pandeglang, serta Pranata Bagus Kristanto, Analis Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Pertama.
Kegiatan dibuka oleh Ketua Kelompok Substansi Penerbitan, Eni Kustanti, yang menegaskan bahwa Tektokan hadir sebagai ruang temu antara penulis dan pelaku utama sektor pertanian. Melalui forum ini, diharapkan terjadi transfer pengetahuan yang aplikatif dan mudah diterapkan di lapangan.
"Harapannya inspirasi, ide, dan gagasan penulis yang dituangkan dalam bukunya tersampaikan dengan baik" tegas Eni. Sementara itu Nofri, Ketua Kelompok Substansi Penerapan Modernisasi Pertanian dari BRMP Banten, menyambut positif kegiatan Tektokan. Menurutnya, Brigade Pangan memiliki peran strategis dalam mendorong peningkatan produktivitas pertanian nasional.
"Bisa meningkatkan indeks pertanaman yang tadinya dua kali setahun, kita harapkan dengan adanya Brigade Pangan ini bisa masuk di musim tanam berikutnya", kata Nofri. Kemudian Dalam sesi pemaparan materi, Pranata Bagus Kristanto menjelaskan berbagai tantangan utama dalam usaha pertanian yang selama ini dihadapi pelaku usaha.
“Tantangan tersebut meliputi keterbatasan akses permodalan, inovasi dan teknologi, distribusi dan akses pasar, ketergantungan terhadap musim, ketersediaan dan kualitas lahan, serta regenerasi petani.” Ujarnya
"kendala petani dalam melakukan bisnis pertanian, yang pertama akses terhadap permodalan, yang kedua keterbatasan inovasi dan teknologi, yang ketiga distribusi dan akses pasar, yang keempat ketergantungan dengan musim, yang kelima ketersediaan dan kualitas lahan, dan yang keenam regenerasi petani," jelasnya.
Paparan tersebut sejalan dengan fokus utama Tektokan, yakni mengupas strategi membangun usaha pertanian yang sehat melalui pengelolaan keuangan yang tepat, termasuk dalam pengajuan Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Dari sisi perbankan, Helmi Wijayadi memberikan sejumlah tips praktis agar pengajuan KUR dapat disetujui. Ia menekankan bahwa kepercayaan bank menjadi kunci utama dalam memperoleh akses pembiayaan, sehingga pelaku usaha perlu memahami dan memenuhi kriteria yang ditetapkan.
Helmi menjelaskan pentingnya prinsip 5C yang terdiri dari Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition, serta 2P yaitu Purpose dan Payment, sebagai dasar penilaian dalam proses pengajuan kredit.
Sejalan dengan itu, Rizky Permana menegaskan bahwa buku yang ditulisnya diharapkan dapat menjadi panduan praktis bagi pelaku usaha pertanian dalam mengakses modal dan mengelola keuangan usaha secara lebih baik. "Buku itu harapannya bisa jadi guidance teman-teman secara praktis" tambah Rizky.
Ia juga menambahkan bahwa peningkatan literasi keuangan menjadi hal penting agar pelaku usaha memahami aspek dasar yang menentukan kesehatan usaha, mulai dari modal, omzet, keuntungan, hingga arus kas.
Lebih dari 50 peserta yang terdiri atas penyuluh pertanian dan manajer Brigade Pangan di wilayah Pandeglang mengikuti kegiatan ini. Antusiasme peserta terlihat dari keterlibatan aktif dalam sesi diskusi yang membahas strategi penguatan usaha pertanian, khususnya dalam hal akses permodalan.
Melalui kegiatan Tektokan ini, diharapkan para penyuluh pertanian dan Brigade Pangan mampu menerapkan strategi akses modal secara efektif, sehingga usaha pertanian dapat menjadi lebih bankable, produktif, dan berkelanjutan. (Kontributor DR/Edit SO)
