
Bogor, 6 Agustus 2025 — Dalam menghadapi krisis ketahanan pangan dan minimnya regenerasi petani, Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB Pustaka) menggelar kegiatan Bincang Cerdas Literasi (BCL) dengan mengusung tema “Petani Milenial, Garda Terdepan Ketahanan Pangan Indonesia”.
Kepala BB Pustaka, Eko Nugroho Dharmo Putro dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah bentuk nyata komitmen institusinya dalam mendukung transformasi pertanian berbasis literasi, teknologi, dan regenerasi. “Kita dorong terus kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, komunitas, dan perpustakaan sebagai pusat pengetahuan pertanian,” ujarnya.
Menurutnya pertanian hari ini menghadapi tantangan yang tidak ringan, disatu sisi, kita harus memastikan ketersediaan pangan bagi 270 juta penduduk Indonesia. Disisi lain regenerasi petani berjalan lambat, usia petani kita makin menua. Sementara minat generasi muda masih minim.
“Kita patut bersyukur, ditengah tantangan itu muncul gelombang semangat baru petani milenial. Petani muda yang mau melihat pertanian bukan sekadar profesi, tetapi peluang usaha berbasis inovasi dan teknologi” ungkapnya
Lebih lanjut Ia mengungkap bahwa program Brigade Pangan (BP) dan program Yess kementan, sebuah strategi regenerasi petani yang berfokus pada realisasi/keberlanjutan. Kegiatan yang berlangsung melalui Zoom Meeting dan streaming youtube ini menghadirkan narasumber utama Dr. Khadijah El Ramija, penulis artikel “Petani Milenial, Kunci Sukses Program Brigade Pangan” sekaligus Penanggung Jawab BP Sumatera Utara.
Dalam paparannya Khadijah menjelaskan bahwa Peran petani milenial dalam brigade pangan berperan sebagai inovator, edukator, agen perubahan serta penggerak komunitas. Selanjutnya ia juga memberikan beberapa contoh petani milenial yang sudah sukses
Diskusi semakin hidup dengan kehadiran Rayndra Syahdan Mahmudin, Ketua Petani Milenial. Ia membagikan pengalamannya mengapa tertarik menjadi petani milenial. menurutnya karena ia menempuh pendidikan di Polbangtan, Kementan serta mendapatkan modal dari Kementan.
Selanjutnya ia mendapatkan hasil yang menjanjikan sehingga lebih semangat. “Awalnya 35 juta sekarang kami memiliki 1.350 ekor domba dan kebun kelapa yang hasilnya sudah ekspor ke Malaysa dan kanada. Produk kita sudah punya nilai yang tinggi. Saya mungkin satu-satunya petani yang bisa mengakses KUR tanpa agunan sebesar 3 milyar. Petani milenial harus menjadi off tacker bagi para pemuda yang ingin menjadi petani.” Ungkapnya
“Namun kesuksesan tidak diraih dengan mudah, ada proses yang harus dilalui, stigma masyarakat yang menganggap petani masih menjadi profesi yang dipandang sebelah mata menjadi tantangan tersendiri. Untuk itu lingkungan yang kondusif sangat berpengaruh. ”Ujarnya
Dalam kesempatan tersebut hadir Manager Brigade Pangan Dewa Harapan Bone, Jumardi, yang membagikan pengalaman lapangan serta tantangan nyata yang dihadapi oleh para petani muda dalam mengembangkan agribisnis berbasis inovasi dan teknologi.
Saat ini Jumardi sudah mencapai omzet 300 juta rupiah, selanjutnya ia berpesan kepada generasi muda, menurutnya generasi muda aset penting bagi masa depan sektor pertanian, maka dari itu kita harus merubah mainset pertanian menjadi profesi yang menjanjikan. “Sebuah negara akan maju jika mampu mengendalikan sektor pertaniannya.” Ungkapnya
Petani milenial bukan sekadar penerus, mereka adalah pionir masa depan pertanian Indonesia. Melalui literasi, inovasi, dan kolaborasi, BB Pustaka percaya—masa depan pangan negeri ini sedang tumbuh di ladang-ladang yang ditanami semangat anak muda. Heryati Suryantini sebagai moderator BCL, menutup diskusi dengan ajakan reflektif, “Petani muda bukan sekadar profesi, tapi panggilan zaman untuk menjaga masa depan pangan Indonesia.” (Rep SO/Edit SWT)
