
Bogor, 13 Agustus 2025 – Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian (BB PUSTAKA) menggelar kegiatan LOVE: Live of Agriculture Virtual Literacy – Brigade Pangan bertema “Hadapi Tantangan Lahan Rawa: Tingkatkan Produktivitas Padi”. Berlokasi di Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dan menghadirkan praktisi pertanian untuk membahas mengenai pengelolaan lahan rawa dan cara menghadapinya.
Acara dibuka oleh Kepala Balai Besar Perpustakaan dan Literasi Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro. Dalam sambutannya, Ia menegaskan bahwa swasembada pangan merupakan target prioritas yang harus segera diwujudkan oleh seluruh insan pertanian. Salah satu strategi utama yang diusulkan adalah pemanfaatan lahan rawa di luar Pulau Jawa yang dinilai memiliki potensi besar.
Eko juga menyoroti pengelolaan lahan rawa yang memiliki tantangan tersendiri. Masalah utama yang dihadapi adalah tingginya tingkat keasaman tanah (pH rendah), keterbatasan akses ke wilayah terpencil, serta ketersediaan benih, alat dan mesin pertanian (alsintan). Permasalahan lain yaitu penanganan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) yang masih belum terorganisir dengan baik.
Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA), R. Hermawan, juga menyampaikan komitmennya dalam mendukung target swasembada pangan nasional melalui optimalisasi pemanfaatan lahan rawa di Bangka Belitung. Sebagai penanggung jawab 48 Brigade Pangan (BP) yang tersebar di enam kabupaten di Provinsi Bangka Belitung, yakni Bangka, Bangka Selatan, Bangka Tengah, Bangka Barat, Belitung, dan Belitung Timur, Polbangtan YOMA terus mendorong percepatan pengelolaan lahan pertanian.
Dalam sesi pemaparan materi, Penyuluh Pertanian Utama, Dedi Nursyamsi, memperkenalkan strategi OPERA PADI (Optimalisasi Pengelolaan Lahan Rawa untuk Padi) yang dirancang untuk meningkatkan produktivitas lahan rawa secara berkelanjutan. “Jika semua program berjalan sesuai rencana, maka swasembada berkelanjutan bukan lagi mimpi, apalagi dengan adanya cetak sawah baru dan dukungan Brigade Pangan,” ujar Dedi dengan penuh semangat.
Lahan rawa di Indonesia terbagi menjadi dua tipe utama, yaitu rawa pasang surut dan rawa lebak. Keduanya menghadapi tantangan seperti kadar pH rendah, genangan air di musim hujan, serta kekeringan di musim kemarau. Untuk mengatasinya, para pelaku pertanian mulai menerapkan pengelolaan air yang lebih presisi guna menjaga kesuburan tanah dan mencegah degradasi lahan.
Sandi, perwakilan dari Brigade Pangan Beras Basa, Bangka Selatan, membagikan pengalamannya dalam mengelola 432 hektare lahan rawa. Ia dan timnya menjaga kestabilan pH tanah menggunakan dolomit dan memilih waktu tanam yang tepat saat musim panas. “Kami melihat hasil yang membaik dari waktu ke waktu,” katanya.
Sementara itu, Penyuluh Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Bangka Selatan, Nur Alam, menekankan pentingnya sinergi. “Keberhasilan Brigade Pangan tidak lepas dari kekompakan petani dan penyuluh, terutama dalam menjaga kelanjutan luas tambah tanam (LTT) dan indeks pertanaman,” jelasnya.
Dengan semangat kolaborasi dan penerapan teknologi seperti OPERA PADI, lahan rawa yang selama ini dianggap marginal kini mulai memperlihatkan potensi besarnya. BB PUSTAKA berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat baru di kalangan penyuluh, petani, dan pemangku kepentingan pertanian dalam membangun sistem pertanian rawa yang berkelanjutan dan produktif.( Rep QR/Edit SO-SWT)
